
DUKA UNTUK MAROKO: Seorang pria menggendong bocah laki-laki melewati rumah-rumah yang hancur setelah gempa di Desa Pegunungan Tafeghaghte, barat daya Marrakesh.
JawaPos.com – Jam menunjukkan pukul 23.11 pada Jumat (8/9) ketika gempa mengguncang Pegunungan Atlas yang berjarak 75 kilometer dari Marrakesh, Maroko. Mayoritas penduduk tengah tertidur lelap saat rumah-rumah mereka hancur akibat getaran gempa. Banyak yang terlambat melarikan diri dan akhirnya menjadi korban.
”Saya pikir tempat tidur saya akan terbang. Saya keluar ke jalan setengah telanjang dan segera pergi melihat riad saya,” ujar Michael Bizet, seorang warga Prancis yang memiliki tiga properti di kota tua Marrakesh. Riad adalah sebutan untuk rumah tradisional di Maroko. ”Situasi itu sangat kacau, bencana nyata, sebuah kegilaan,” tambah Bizet menjelaskan betapa paniknya kondisi saat kejadian.
Kemarin (10/9) Kementerian Dalam Negeri Maroko mengungkapkan bahwa sebanyak 2.012 orang dipastikan meninggal dunia. Jumlah itu bisa terus bertambah karena proses evakuasi masih berlangsung. Sebanyak 2.059 mengalami luka-luka dan lebih dari 1.400 di antaranya dalam kondisi kritis. Setidaknya 300 ribu orang terdampak gempa tersebut. Itu menjadi gempa paling mematikan di Maroko dalam enam dekade terakhir.
Gempa susulan dengan kekuatan magnitudo 4,5 masih terjadi kemarin pagi. Menurut Mohammed bin Makhlouf, profesor geologi di Universitas Abdelmalek Essaadi, gempa susulan yang kuat merupakan pertanda positif. ”Ketika gempa susulan relatif kuat, berarti aktivitas gempa di suatu wilayah akan berkurang,” ujar Makhlouf kepada Al Jazeera.
Dia mengatakan, tingginya angka kematian disebabkan buruknya infrastruktur serta waktu terjadinya gempa, yaitu pada malam hari ketika orang-orang sedang tidur. Mayoritas korban berada di wilayah pedesaan yang minim aktivitas malam.
Masih adanya gempa susulan membuat penduduk Marrakesh khawatir. Mereka masih tidur di jalanan dan takut untuk kembali ke rumah masing-masing. Sebagian besar memang tak bisa lagi pulang karena rumahnya sudah rata dengan tanah.
Raja Maroko Mohammed VI mengumumkan status berkabung selama tiga hari. Dia juga memerintahkan seluruh masjid di penjuru negeri menggelar salat jenazah pada Minggu siang.
Beberapa bangunan bersejarah rusak akibat gempa tersebut. Masjid Koutoubia yang berdiri pada abad ke-12 di Marrakesh dilaporkan rusak. Tingkat kerusakan masjid terbesar di Marrakesh itu belum diungkap. Masjid yang juga dikenal dengan nama Jami’ al-Kutubiyah tersebut merupakan landmark terkenal yang kerap dikunjungi turis mancanegara. Menara setinggi 69 meter atau yang biasa dijuluki sebagai atap Marrakesh juga mengalami kerusakan. Pihak militer Maroko telah membersihkan jalan-jalan menuju akses lokasi gempa. Itu dilakukan agar pengiriman bantuan dan tim evakuasi lebih mudah bergerak.
Kepala Operasi Global di Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) Caroline Holt mengatakan bahwa mereka berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan orang-orang yang masih terkubur di bawah reruntuhan. Menjangkau desa-desa terpencil dan menarik orang-orang dari reruntuhan bangunan tetap menjadi prioritas mutlak. ”Tantangan yang dihadapi tim penyelamat sangat besar,” ujar Holt seperti dikutip BBC. Alat berat diperlukan untuk membuka rute menuju komunitas yang terkena dampak paling parah di Pegunungan Atlas. Area tersebut sulit terjangkau.
Republik Ceko dan Spanyol mengirimkan tim penyelamat setelah pemerintah Maroko mengajukan permintaan bantuan secara resmi. Sebanyak 56 tim penyelamat dan 4 anjing pelacak dari anggota Unit Darurat Militer (UME) Spanyol berangkat kemarin. Mereka menggunakan pesawat militer A400.
Menteri Pertahanan Spanyol Margarita Robles mengungkapkan, pihaknya tengah bersiap mengirimkan pesawat kedua dengan tim penyelamat yang dikelola pemerintah daerah Madrid. ”Kami akan mengirimkan apa pun yang diperlukan karena semua orang tahu bahwa jam-jam pertama adalah kuncinya, terutama jika ada orang yang terkubur di bawah reruntuhan,’’ ujar Robles seperti dikutip Agence France-Presse.
Negara-negara lain, termasuk AS dan Prancis, juga telah menjanjikan bantuan kemanusiaan, tetapi Maroko harus terlebih dahulu meminta secara resmi. Itu adalah langkah yang diperlukan sebelum awak kapal asing dapat dikerahkan. ”Kami telah memobilisasi semua tim teknis dan keamanan untuk dapat melakukan intervensi jika pihak berwenang Maroko menganggap itu berguna,” ujar Presiden Prancis Emmanuel Macron di sela KTT G20 di India.
Tidak Ada Korban WNI
Jumlah warga negara Indonesia (WNI) yang tinggal di Maroko diketahui berjumlah 500 orang. Dipastikan tidak ada yang menjadi korban gempa pada Jumat (8/9) lalu.
Muhammad Ahsan Khowaariq adalah salah seorang WNI yang tinggal di Maroko. Tepatnya di Casablanka atau 250 km dari pusat gempa. Meski jaraknya cukup jauh, dia dan tiga temannya yang juga WNI merasakan getaran gempa tersebut.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
