Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 5 Mei 2023 | 11.36 WIB

Rusia dan Uni Eropa Berlomba Produksi Senjata, Disiapkan untuk Perang di Ukraina

Ilustrasi rekrutan militer Ukraina. Henry Nicholls/Reuters/Antara - Image

Ilustrasi rekrutan militer Ukraina. Henry Nicholls/Reuters/Antara

JawaPos.com – Produksi senjata global tahun ini mungkin bakal mengalami kenaikan. Sebab, pihak-pihak yang terlibat dalam invasi Rusia di Ukraina juga membutuhkan tambahan senjata. Karena itu, peluang konflik Rusia-Ukraina bisa cepat berakhir tampaknya makin tipis. Korban pun makin berjatuhan.

Berdasar rencana yang dipaparkan Komisi Eropa pada Rabu (3/5), mereka akan menerapkan Undang-Undang (UU) untuk Mendukung Produksi Amunisi (ASAP). Komisi Eropa ingin memberikan insentif kepada industri pertahanan Eropa untuk berinvestasi dalam meningkatkan kapasitas produksi senjata, baik itu komponen rantai pasokan, mesin, maupun personel.

Subsidi yang diberikan mencapai EUR 500 juta atau setara dengan Rp 8,1 triliun. Hasil produksi itu nanti dipakai untuk membantu Ukraina dan mengisi kembali stok persenjataan negara-negara anggota Uni Eropa (UE) yang terkuras karena disumbangkan ke Ukraina. Rencana tersebut membutuhkan persetujuan dari pemerintah UE dan Parlemen Eropa.

’’Untuk urusan pertahanan, industri kami sekarang harus beralih ke mode ekonomi perang,’’ ujar Komisaris Pasar Internal UE Thierry Breton seperti dikutip Channel News Asia.

Skema investasi tersebut adalah bagian ketiga dari upaya UE untuk mendapatkan lebih banyak amunisi dan senjata ke Ukraina. Khususnya peluru artileri 155 milimeter yang diminta Kiev. UE didesak untuk memasok 1 juta peluru ke Ukraina dalam waktu 12 bulan. Sebelumnya, UE setuju menyisihkan EUR 1 miliar (Rp 16,2 triliun) untuk amunisi dan misil yang dikirimkan negara-negara anggotanya dari stok yang mereka miliki.

Saat ini invasi Rusia ke Ukraina memang tidak hanya melibatkan dua negara. Tapi, sudah menyebabkan gesekan banyak negara. Utamanya, negara-negara Eropa yang wilayahnya dekat dengan dua negara tersebut. Mereka takut perang akan melebar.

Breton mengatakan, UE memiliki basis industri yang substansial untuk produksi amunisi. Namun, saat ini pihaknya tidak memiliki skala produksi yang memadai guna memenuhi kebutuhan keamanan Ukraina dan negara-negara UE. ’’Kita dapat dan harus merevitalisasinya untuk menyesuaikan dengan kebutuhan konflik berintensitas tinggi,’’ ujar Breton.

Sehari sebelumnya, Rusia lebih dulu membuat pernyataan untuk melipatgandakan produksi senjata. Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu mendesak Perusahaan Rudal Taktis milik negara agar menggandakan produksi misilnya. Sebab, serangan balasan Ukraina diperkirakan akan terjadi. Saat ini pasukan Moskow dan Kiev dilaporkan mengalami kendala kekurangan amunisi. ’’Saat ini kita perlu menggandakan produksi senjata dengan presisi tinggi dalam waktu sesingkat mungkin,’’ ujarnya dalam pertemuan dengan petinggi militer, Selasa (2/5).

Para pengamat militer memperkirakan Rusia tengah kehabisan amunisi dengan presisi tinggi. Hal itu bisa dilihat dari rentetan serangan ke Ukraina yang semakin jarang dan skalanya lebih kecil. Institute for the Study of War kemarin menyebutkan, komentar Menhan Rusia itu mungkin dirancang untuk menepis klaim bahwa kementeriannya tidak dapat membuat pasukan Rusia memiliki persediaan amunisi yang memadai.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore