
Handout picture released by Guayaquil Mayor
JawaPos.com - Situasi mencekam di Ekuador masih berlanjut. Jenazah pasien Covid-19 telantar di sudut-sudut jalan dan trotoar. Itu karena rumah sakit dan pemakaman sudah kelebihan kapasitas. Beberapa jenazah bahkan ada yang dibakar.
Melihat situasi mencekam itu, kini pihak berwenang di kota terbesar Ekuador mulai mendistribusikan ribuan peti mati dari bahan kardus. Pihak pemerintah juga telah menawarkan bantuan bagi keluarga yang ingin memindahkan jenazah dari rumah mereka.
Baca juga: Ekuador Darurat, Jenazah Pasien Covid-19 Dibakar di Pinggir Jalan
Kota Guayaquil telah muncul sebagai episentrum penularan Coronavirus. Rumah sakit dan kamar mayat kewalahan, memaksa beberapa keluarga untuk menyimpan mayat di rumah.
“Sepertinya rumah sakit bagai zona perang. Hal-hal yang telah kita saksikan langsung seperti film horor," kata seorang dokter di rumah sakit Teodoro Maldonado Carbo kepada Guardian.
“Istri saya tidak ingin saya pergi bekerja. Tetapi jika saya tidak bisa, karena nanti bisa lebih banyak pasien akan mati," katanya.
Baca juga: Kamar Mayat Penuh, Jasad Pasien Korona di Ekuador Ditaruh di Kontainer
Pada Sabtu (4/4), Kementerian Kesehatan Ekuador mengatakan ada 172 jiwa meninggal akibat virus Korona, 122 di antaranya di provinsi Guayas yang beribu kota di Guayaquil. Tingkat pengujian yang rendah membuat negara itu makin sulit. Ekuador mencatat ada 3.465 kasus virus Korona, jumlah tertinggi ketiga di Amerika Selatan setelah Brasil dan Cile.
Seorang politisi daerah, Carlos Luis Morales, mengatakan kepada CNN en Espanol bahwa para pejabat telah diperintahkan untuk tidak membocorkan statistik tentang korban tewas di Guayas. Namun, dia membuka data sebenarnya.
"480 sertifikat kematian telah dikeluarkan sejak kemarin. Dan 150 mayat dikumpulkan setiap hari," katanya.
Presiden Ekuador, Lenin Moreno, memprediksi 3.500 orang bisa meninggal di Guayas dalam beberapa minggu mendatang. Balai kota Guayaquil mengatakan pada Sabtu (4/4) bahwa mereka akan membagikan 2 ribu peti mati dari kardus.
"Kami menawarkan penguburan yang bermartabat kepada mereka yang meninggal selama darurat kesehatan ini," jelasnya.
Pemerintah Ekuador telah menghadapi kritik atas penanganan Coronavirus dan kegagalan untuk menegakkan karantina secara efektif di Guayaquil ketika infeksi menyebar. Wakil presiden Ekuador, Otto Sonnenholzner, menyampaikan permintaan maaf di televisi terkait gambar-gambar mengerikan yang keluar dari Guayaquil yang memperlihatkan mayat-mayat yang dibuang di trotoar atau di luar rumah.
"Saya berusaha mengeluarkan kekuatan saya untuk menyelamatkan sebanyak mungkin nyawa. Krisis ini bukan tentang benar atau salah. Kaya atau miskin. Virus ini tidak mempedulikan agama, ras, atau status sosial. Risiko penularan dan penyebarannya sangat cepat," tegasnya.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
