
Hidayat ada di rumah ketika ombak melonjak setinggi 20 meter ke daratan. Ia mengatakan, dia tidak mendengar tentang dampak yang signifikan sampai pagi berikutnya ketika dia dibangunkan dari rumahnya oleh tetangga
JawaPos.com - Setidaknya 222 orang telah tewas dan lebih dari 800 lainnya terluka setelah tsunami dahsyat yang melanda Selat Sunda di Indonesia pada Sabtu malam. Dilansir dari Al Jazeera pada Minggu (23/12), pemandu lokal yang membawa turis melihat Gunung Anak Krakatau sejak 1993, Samsul Hidayat mengatakan tidak ada gejala alam sebelumnya dalam insiden ini.
"Saya sangat terkejut ketika tsunami melanda. Tidak ada gempa bumi dan cuacanya baik. Tidak ada hujan atau angin dan kita bisa melihat bulan purnama," kata Hidayat, yang tinggal dekat dengan salah satu daerah Carita, Banten yang paling parah terkena dampaknya.
Hidayat ada di rumah ketika ombak melonjak setinggi 20 meter ke daratan. Ia mengatakan, dia tidak mendengar tentang dampak yang signifikan sampai pagi berikutnya ketika dia dibangunkan dari rumahnya oleh tetangga.
Setidaknya 30 orang juga diyakini hilang menurut BNPB, tetapi angka-angka ini cenderung meningkat karena beberapa daerah sulit dijangkau. "Saya menghabiskan sepanjang pagi membantu warga setempat dengan melakukan bersih-bersih," kata Hidayat.
"Saya melihat sekitar 30 mayat berserakan di sekitar Pantai Carita. Seorang mayat perempuan di bawah tumpukan sampah,” lanjutnya. Tsunami diperkirakan dipicu oleh letusan gunung berapi Anak Krakatoa, sebuah pulau vulkanik yang terbentuk dari gunung berapi Krakatau.
Menurut, seorang dosen geologi struktural di School of Environmental Sciences, University of Hull, Eddie Dempsey, bahkan jika sistem peringatan telah ada, sepertinya hampir tidak akan ada gejala yang cukup bisa dibaca oleh manusia.
"Peristiwa ini terjadi dengan sedikit atau tanpa peringatan," katanya kepada Al Jazeera. "Mereka sangat kuat, sehingga ada sedikit yang bisa dilakukan dari sudut pandang teknik,".
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Indonesia (BMKG) menyatakan adanya kemungkinan tanah longsor bawah air yang disebabkan oleh letusan Anak Krakatau, yang diperkirakan kemudian memicu tsunami.
"Kemungkinan penyebabnya adalah tanah longsor bawah tanah yang signifikan terkait dengan letusan Anak Krakatau yang sedang berlangsung," ujar Dempsey kepada Al Jazeera, sebuah prediksi yang sama dengan apa yang dikatakan BMKG.
Daniel Quinn mengelola situs web Gunung Bagging, yang meneliti puncak di Indonesia dan Malaysia, dan mengunjungi Gunung Anak Krakatau pada bulan November tahun ini. Dia mengatakan kepada Al Jazeera bahwa dia tidak terkejut dengan jumlah korban tewas, mengingat kedekatan gunung berapi dengan daerah yang dihuni.
"Kejadian seperti ini mengejutkan semua orang. Ketika saya pergi ke sana pada bulan November Anda masih bisa melakukan perjalanan sehari ke kamp di Rakata (sisa paling signifikan dari gunung berapi Krakatau asli) untuk menyaksikan letusan dari jarak yang biasanya aman. Tidak ada tempat berlindung tsunami di Rakata yang saya tahu,” ujarnya.

11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Marak Link Live Streaming Gratis Persija Jakarta vs Persib Bandung, Jakmania dan Bobotoh Pilih yang Mana?
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
9 Rekomendasi Mall Terbaik di Sidoarjo untuk Belanja, Kuliner, dan Tempat Nongkrong Bersama Keluarga
15 Kuliner Seafood Ternikmat di Surabaya, Hidangan Laut Segar dengan Cita Rasa Khas yang Sulit Dilupakan
Jadwal Moto3 Prancis 2026! Start Posisi 6, Veda Ega Pratama Buka Peluang Podium di Moto3 Prancis 2026
17 Tempat Makan Hidden Gem di Surabaya yang Tidak Pernah Sepi, Rasanya Selalu Konsisten Enak
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
