Sergey Brin, salah satu pendiri Google, memimpin dukungan finansial melalui PAC Building a Better California untuk menentang rencana pajak 5 persen bagi miliarder di California.
JawaPos.com — Pertarungan antara elite teknologi dan serikat pekerja layanan kesehatan di California kian memanas setelah kubu miliarder melancarkan strategi politik terorganisasi untuk menggagalkan rencana pajak kekayaan sebesar 5 persen bagi warga ultra kaya negara bagian tersebut.
Salah satu motor utama gerakan ini adalah salah satu pendiri Google, Sergey Brin, yang bersama sejumlah miliarder lain membiayai komite aksi politik atau Political Action Committee (PAC) bernama Building a Better California. PAC merupakan organisasi yang menggalang dan menyalurkan dana untuk memengaruhi hasil pemilu atau referendum.
Manuver ini mencerminkan bahwa sebagian elite teknologi Silicon Valley kini tidak hanya berperan dalam inovasi bisnis, tetapi juga secara langsung terlibat dalam pertarungan kebijakan publik melalui pendanaan politik.
Dilansir dari Bloomberg, Kamis (19/2/2026), Building a Better California yang didukung Brin dan mantan CEO Google, Eric Schmidt, akan menyokong tiga inisiatif referendum yang bertujuan membatasi dan memperketat pembentukan pajak baru di California. Ketiga inisiatif itu dirancang untuk menandingi satu proposal lain yang diajukan serikat pekerja layanan kesehatan, yang mengusulkan pajak satu kali sebesar 5 persen bagi para miliarder.
Secara substansi, apabila salah satu dari tiga inisiatif yang didukung kelompok miliarder memperoleh suara lebih banyak dibandingkan usulan serikat, maka kebijakan pajak kekayaan tersebut akan efektif terblokir. Dengan demikian, strategi ini tidak hanya bersifat defensif, melainkan juga membangun pagar hukum sebelum pajak diberlakukan melalui mekanisme referendum.
Juru bicara Building a Better California, Abby Lunardini, menegaskan bahwa inisiatif tersebut dimaksudkan untuk menjaga iklim ekonomi negara bagian. “Kami percaya hari-hari terbaik negara bagian ini masih ada di depan, jika kami dapat mendorong kebijakan hari ini yang meningkatkan akuntabilitas pemerintah, melindungi lapangan kerja dan mesin ekonomi kami, serta memprioritaskan keterjangkauan dan kualitas hidup yang lebih baik bagi seluruh warga California,” ujarnya dalam pernyataan resmi. Meski demikian, organisasi itu tidak mengungkapkan berapa total dana yang akan dikucurkan dalam pertarungan referendum tersebut.
Sebelumnya, Brin dan sejumlah miliarder lain telah menyumbang USD 35 juta atau sekitar Rp 592,2 miliar dengan kurs Rp 16.920 per dolar AS untuk membentuk PAC Building a Better California. Gelombang perlawanan dari kalangan elite ini muncul di tengah kekhawatiran bahwa wacana pajak kekayaan telah mendorong sejumlah miliarder meninggalkan California, termasuk Brin sendiri. Gubernur California, Gavin Newsom, juga tercatat menentang usulan pajak tersebut.
Selain menggulirkan inisiatif pembatasan pajak, PAC yang didukung Brin juga akan menyumbang USD 1 juta atau sekitar Rp 16,92 miliar untuk mendukung referendum obligasi senilai USD 10 miliar guna membiayai perumahan terjangkau. Dukungan ini memperlihatkan upaya mereka membingkai agenda fiskal sebagai tetap berpihak pada pertumbuhan ekonomi dan stabilitas sosial.
Di sisi lain, Suzanne Jimenez dari serikat SEIU-UHW yang menjadi pengusung pajak tersebut menyatakan, “Pemilih California tidak akan tertipu oleh aksi segelintir miliarder sinis.” Dia menambahkan, “Pemilih memahami bahwa Anda tidak bisa membangun California yang lebih baik ketika ruang gawat darurat tutup, para veteran kehilangan layanan kesehatan, anak-anak kehilangan akses terhadap bantuan pangan, dan komunitas kehilangan rumah sakit mereka.”
Meski demikian, seluruh inisiatif tersebut masih berada pada tahap awal dan belum otomatis masuk ke surat suara. Para pendukung harus lebih dulu mengumpulkan ratusan ribu tanda tangan sebelum tenggat Juni sebagai syarat administratif agar proposal dapat diajukan dalam pemungutan suara November mendatang.
Di California, mekanisme inisiatif referendum kerap menjadi instrumen tekanan politik. Ancaman kampanye yang mahal dan hasil yang tidak pasti sering kali mendorong negosiasi di belakang layar bahkan sebelum pemilih benar-benar memberikan suara.
Dengan demikian, pertarungan ini bukan semata soal pajak 5 persen bagi miliarder, melainkan cerminan benturan kepentingan antara kekuatan modal global dan kelompok pekerja di negara bagian dengan ekonomi terbesar di Amerika Serikat.

11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Marak Link Live Streaming Gratis Persija Jakarta vs Persib Bandung, Jakmania dan Bobotoh Pilih yang Mana?
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
9 Rekomendasi Mall Terbaik di Sidoarjo untuk Belanja, Kuliner, dan Tempat Nongkrong Bersama Keluarga
15 Kuliner Seafood Ternikmat di Surabaya, Hidangan Laut Segar dengan Cita Rasa Khas yang Sulit Dilupakan
Jadwal Moto3 Prancis 2026! Start Posisi 6, Veda Ega Pratama Buka Peluang Podium di Moto3 Prancis 2026
17 Tempat Makan Hidden Gem di Surabaya yang Tidak Pernah Sepi, Rasanya Selalu Konsisten Enak
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
