
Emas Antam (Istimewa)
JawaPos.com - Tren harga emas kembali menjadi perbincangan panas di awal tahun 2026. Setelah sukses mencetak rekor demi rekor dalam beberapa tahun terakhir, banyak investor kini bertanya-tanya: apakah kilau emas masih akan makin berkilau di bulan Januari ini?
Harga emas yang dulunya diprediksi sulit menembus USD3.000 per ons, justru melesat hingga melewati angka USD4.000 dalam waktu singkat. Kini, para analis bahkan mulai melirik target fantastis di angka USD5.000 per ons.
Melansir laporan dari CBS News, berikut tiga faktor utama yang diprediksi akan memicu lonjakan harga emas dalam waktu dekat.
1. Geopolitik Global Memanas, Investor Cari Aman
Sejarah membuktikan bahwa emas adalah "sahabat setia" di tengah kekacauan dunia. Saat tensi politik memanas, investor cenderung membuang aset berisiko dan mengalihkan dana mereka ke instrumen safe haven seperti emas.
Saat ini, sorotan tertuju pada ketegangan hubungan antara Amerika Serikat dan Venezuela. Meskipun arah konfliknya belum pasti, ketidakpastian ini sudah cukup untuk mengguncang pasar keuangan global.
Dampaknya, harga emas tercatat sudah naik sekitar USD100 per ons dibanding posisi akhir 2025. Jika situasi ini terus memanas, jangan kaget jika harga emas akan kembali meroket sebelum bulan Januari berakhir.
2. Inflasi Masih "Bandel" dan Sulit Turun
Faktor kedua yang menjaga momentum kenaikan emas adalah laju inflasi yang tak kunjung mencapai target. Di Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed) masih berjuang menekan inflasi ke angka ideal 2 persen.
Meski sempat melandai ke level 2,7%, angka tersebut dinilai masih cukup tinggi. Situasi ini membuat daya beli masyarakat tertekan dan menciptakan kecemasan di pasar modal. Sebagai alat lindung nilai (hedging), emas menjadi pilihan paling logis untuk menjaga kekayaan dari gerusan inflasi.
Seluruh mata kini tertuju pada rilis data inflasi terbaru yang dijadwalkan pada 13 Januari mendatang. Data ini akan menjadi penentu besar ke mana arah harga emas selanjutnya.
3. Kebijakan Suku Bunga Rendah yang Menguntungkan
Emas memiliki hubungan unik dengan suku bunga. Karena emas tidak memberikan bunga atau dividen, aset ini akan terlihat sangat seksi saat suku bunga bank berada di level rendah.
Berdasarkan data FedWatch dari CME Group, peluang pemangkasan suku bunga bulan ini memang kecil, hanya sekitar 16%. Namun, sinyal bahwa suku bunga tidak akan naik lagi sudah cukup menjadi angin segar bagi pasar emas.
Jika The Fed mulai memberikan kode pelonggaran kebijakan di bulan-bulan mendatang, biaya peluang untuk memegang emas akan semakin kecil, yang secara otomatis mendorong harganya naik lebih tinggi.

14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Korban Dicekoki Miras Hingga Tak Sadar, Pelaku Pemerkosaan Cipondoh Masih Dicari
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
