
Ilustrasi berbagai mata uang global, seperti dolar AS, euro, yuan, dan yen, yang menggambarkan dinamika persaingan dan upaya dedolarisasi dalam blok BRICS (The Lowy Institute)
JawaPos.com - Ambisi dedolarisasi yang selama ini dielu-elukan oleh BRICS kembali memasuki fase ujian paling serius. Kelompok yang kini mencakup Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan itu berupaya mengurangi ketergantungan pada dolar Amerika Serikat (AS), namun dinamika geopolitik global membuat langkah tersebut jauh dari mulus. Di tengah retorika politik dan tekanan sanksi dari Barat, pertanyaannya tetap sama: seberapa realistis BRICS mampu menantang dominasi dolar?
Melansir The Lowy Institute, Rabu (19/11/2025), transaksi antaranggota BRICS dengan mata uang lokal memang meningkat. Namun, tantangan struktural untuk menggantikan dolar AS sebagai mata uang internasional utama masih sangat besar dan belum menemukan fondasi institusional yang solid.
Sebagai gambaran, Iran yang bergabung dalam aliansi perluasan BRICS menyoal pentingnya instrumen pembayaran alternatif untuk menghindari sanksi global. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan, "Kami ingin berdagang dengan negara lain di mana kami membayar dalam mata uang digital. Ini sudah menjadi kebutuhan bagi kami." Pernyataan ini disampaikan saat konferensi deBlock Summit, dan mencerminkan pendekatan individual negara yang mencoba mengurangi eksposur mereka terhadap dolar.
Sejak KTT BRICS pertama di Yekaterinburg pada 2009, belum pernah ada proposal formal mengenai mata uang bersama BRICS. Namun, Rusia dan Tiongkok terus mendorong pengurangan ketergantungan pada dolar melalui inisiatif seperti sistem pembayaran alternatif BRICS Pay untuk menyaingi jaringan SWIFT. Dorongan ini selaras dengan kepentingan mereka dalam menghadapi sanksi dan tekanan politik dari Washington.
Rusia mengumumkan bahwa 99,1 persen transaksi perdagangan dengan Tiongkok telah dilakukan dalam rubel dan yuan. Adapun Brasil, sejak 2023, sepakat dengan Tiongkok untuk menyelesaikan perdagangan bilateral dalam mata uang lokal. Presiden Luiz Inácio Lula da Silva bahkan mengecam sistem dolar dengan menyebutnya sebagai "alat dominasi Amerika", sebuah kritik yang semakin memanaskan perdebatan global.
Namun, tidak semua anggota BRICS berada dalam garis pemikiran yang sama. India, misalnya, tetap menolak gagasan mata uang bersama BRICS. Menteri Luar Negeri India, Subrahmanyam Jaishankar, menegaskan, "Dolar sebagai mata uang cadangan adalah sumber stabilitas ekonomi internasional … saat ini yang kita inginkan dunia lebih stabil, bukan lebih bergejolak." Sikap ini memperlihatkan bagaimana fragmentasi kepentingan internal menjadi penghambat utama konsensus.
Kompleksitas semakin meningkat ketika Amerika Serikat menunjukkan respons agresif. Presiden Donald Trump pernah memperingatkan akan menerapkan tarif hingga 100 persen untuk negara BRICS yang membuka opsi mata uang alternatif. Ancaman ini memperlihatkan bagaimana dedolarisasi bukan hanya agenda ekonomi, tetapi juga arena pertarungan geopolitik.
Analisis internasional turut menegaskan hambatan strukturalnya. Ekonom senior Otaviano Canuto menilai dominasi dolar bertahan karena keunggulan likuiditas dan kepercayaan global yang sulit ditandingi. Direktur Kebijakan Moneter Bank Sentral Brasil, Nilton David, bahkan menilai bahwa perubahan itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat, dengan menyatakan, "Saya tidak berpikir itu akan berubah dalam dekade mendatang."
Sementara itu, anggota baru seperti Indonesia berada dalam posisi pragmatis. Meski kini bergabung sebagai anggota penuh BRICS, tujuan Indonesia lebih kepada memperluas akses perdagangan.
Seperti dikutip dari ANTARA News, Kepala Ekonom PermataBank, Josua Pardede, menegaskan, "Kita masuk BRICS bukan berarti kita mendukung dedolarisasi Tiongkok dan Rusia … inisiatif kita lebih kepada ekspansi mitra dagang kita." Posisi ini menyoroti bagaimana sebagian negara melihat BRICS sebagai kendaraan ekonomi, bukan agenda geopolitik semata.
Pada akhirnya, meskipun dedolarisasi terus mengemuka sebagai narasi besar BRICS, realitas politik, ekonomi, dan geopolitik menunjukkan bahwa jalannya masih panjang. Dominasi dolar, ketidaksepakatan internal BRICS, dan tekanan eksternal menjadikan ambisi ini lebih sebagai proses bertahap daripada revolusi cepat dalam arsitektur keuangan global.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
