
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. (REUTERS).
JawaPos.com - Meski kesepakatan gencatan senjata dengan kelompok bersenjata Palestina telah dicapai dan pembebasan sandera dijadwalkan mulai Senin (14/10), Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa perang di Gaza belum akan dihentikan.
Dalam pernyataan video pada Minggu malam, Netanyahu menegaskan bahwa langkah diplomatik yang berlangsung saat ini tidak menandai akhir dari kampanye militer Israel. Ia menyebut bahwa ancaman terhadap keamanan Israel masih besar dan perang belum sepenuhnya selesai.
“Kampanye militer belum berakhir,” kata Netanyahu dengan suara serak namun tegas.
“Masih ada tantangan keamanan besar di depan kita. Beberapa musuh mencoba bangkit kembali untuk menyerang kita lagi," ucapnya lagi.
Pernyataan itu datang menjelang pembebasan 48 sandera yang ditahan di Gaza, 20 di antaranya diyakini masih hidup, sebagai bagian dari kesepakatan pertukaran dengan 250 tahanan keamanan Palestina dan 1.700 warga Gaza yang ditahan sejak serangan Hamas 7 Oktober 2023.
Meski momen tersebut disebut sebagai 'sejarah dan penuh haru', Netanyahu menegaskan bahwa pembebasan sandera tidak akan mengubah arah kebijakan militernya di Gaza.
“Ini adalah malam air mata dan malam kebahagiaan,” ujarnya. “Namun perjuangan kita belum selesai. Kita akan terus melawan sampai keamanan Israel benar-benar terjamin.”
Netanyahu juga menyebut kemenangan militer yang telah dicapai membuka 'peluang baru', namun memperingatkan bahwa Israel harus tetap bersatu menghadapi fase berikutnya.
“Dengan kekuatan bersama, kita telah mencapai kemenangan luar biasa yang mengejutkan dunia. Tetapi kita masih harus menghadapi banyak tantangan ke depan,” katanya.
Kepala Staf Angkatan Pertahanan Israel (IDF) Letnan Jenderal Eyal Zamir memperkuat pesan itu dalam pernyataan terpisah. Ia menegaskan bahwa operasi militer terhadap Hamas dan kelompok bersenjata lain akan terus berlanjut, meskipun ada kesepakatan pembebasan sandera dan gencatan senjata sementara.
“Kami akan terus membentuk realitas keamanan baru agar tidak ada ancaman dari Jalur Gaza. Dengan kembalinya para sandera, kami telah memenuhi salah satu tujuan perang yang bersifat nasional, moral, dan Yahudi," ujar Zamir melansir Times of Israel.
Zamir menyebut Israel masih berada dalam 'perang multifront' dan tindakan IDF kini tengah “membentuk ulang strategi keamanan kawasan Timur Tengah untuk tahun-tahun mendatang.”
“Tantangan besar masih menunggu. Kami akan terus siaga demi keamanan dan kelangsungan hidup negara ini,” tegasnya.
Kesepakatan pembebasan sandera itu sendiri sempat menimbulkan perdebatan di kabinet Netanyahu. Dua menteri dari partai sayap kanan Religious Zionism, yakni Menteri Keuangan Bezalel Smotrich dan Menteri Permukiman Orit Strock, menolak kesepakatan tersebut karena dinilai melemahkan posisi Israel.
Namun, kesepakatan tetap disahkan dalam rapat kabinet pada Jumat lalu sebagai bagian dari fase pertama rencana perdamaian Gaza yang didukung Presiden AS Donald Trump.

Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
Prediksi Skor PSMS Medan vs Port FC Piala Presiden 2026: Debut Bruno Moreira Usai Tinggalkan Persebaya Surabaya
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Prediksi Susunan Pemain PSMS Medan vs Port FC di Piala Presiden 2026: Port Lions Masih Terlalu Digdaya!
Profil Fajar Listyantara, Legenda PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta yang Meninggal Dunia Akibat Gagal Ginjal
5 Bintang Sepak Bola yang Alami Kenaikan Nilai Pasar setelah Piala Dunia FIFA 2026
Prediksi PSMS Medan vs Port FC di Piala Presiden 2026: Ujian Berat Ayam Kinantan Hadapi Sang Juara Bertahan
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Momentum Green Force Unjuk Gigi
