Logo JawaPos
Author avatar - Image
08 Oktober 2025, 02.51 WIB

Georges-Eugene Haussmann: Sosok di Balik Wajah Baru Paris, Warisan Arsitektur yang Mengubah Kota Menjadi Simbol Elegansi Dunia

Bangunan bergaya Haussmannian di pusat kota Paris menampilkan fasad batu kapur krem, balkon besi tempa, dan atap mansard khas abad ke-19 (Dok. The Spruce ) - Image

Bangunan bergaya Haussmannian di pusat kota Paris menampilkan fasad batu kapur krem, balkon besi tempa, dan atap mansard khas abad ke-19 (Dok. The Spruce )

JawaPos.com - Paris yang kita kenal hari ini, dengan boulevard lebar, bangunan berfasad batu, dan taman yang tertata rapi, tidak lahir begitu saja. Sejarah mencatat, sosok di balik wajah modern ibu kota Prancis itu adalah Georges-Eugene Haussmann, seorang prefek yang ditunjuk oleh Kaisar Napoleon III pada tahun 1853 untuk "membenahi" kota yang kala itu dikenal semrawut, kumuh, dan padat penduduk.

Dilansir dari The Guardian, Haussmann diberi mandat besar untuk mengubah Paris menjadi kota yang bersih, sehat, dan indah, meski proyek itu kemudian menimbulkan kontroversi sosial yang panjang.

Menurut laporan Bonjour Paris, Haussmann memulai proyek besar-besaran dengan membongkar jaringan jalan sempit peninggalan abad pertengahan dan menggantinya dengan boulevard lurus dan lebar. Tujuannya bukan hanya estetika, tetapi juga fungsional: memudahkan sirkulasi udara, cahaya, dan pergerakan manusia. Jalan-jalan baru ini juga memungkinkan pasukan militer bergerak cepat dalam mengendalikan kerusuhan yang sering terjadi pada masa itu.

Transformasi ini tidak berhenti pada pembangunan jalan. Haussmann juga memperbarui sistem saluran air dan sanitasi, membangun aqueduct serta sistem pembuangan modern yang mengurangi risiko wabah penyakit. Ia pun memperkenalkan taman-taman publik seperti Bois de Boulogne dan Bois de Vincennes, yang kini menjadi paru-paru kota.

Dari sisi arsitektur, gaya Haussmannian melahirkan identitas visual baru bagi Paris. Dilansir dari The Spruce, bangunan khas Haussmann memiliki fasad batu potong berwarna krem, balkon besi tempa yang membentang, serta atap mansard dengan jendela dormer yang menonjol ke luar. Proporsi dan keseragaman desainnya membuat setiap jalan di Paris tampak selaras dan harmonis, sebuah ciri yang kini menjadi simbol elegansi khas kota itu.

Dalam laporannya, Paris Property Group menyebutkan bahwa bangunan bergaya Haussmann memiliki struktur lantai yang diatur dengan ketat. Lantai kedua dikenal sebagai "étage noble" atau lantai bangsawan karena memiliki langit-langit tinggi dan dekorasi indah, sementara lantai di atasnya lebih sederhana. Di bagian loteng, biasanya terdapat kamar kecil yang dulu digunakan oleh pelayan rumah tangga.

Namun, di balik keindahan itu, proyek Haussmann menimbulkan gelombang penggusuran besar-besaran. Ribuan keluarga kelas pekerja kehilangan tempat tinggal akibat pembongkaran besar di pusat kota. Mereka kemudian dipindahkan ke pinggiran Paris, membentuk pola sosial baru yang memperlebar jarak antara kaum kaya dan miskin. Bagi sebagian kalangan, pembangunan ini dianggap sebagai "modernisasi yang kejam."

Meski begitu, tidak sedikit pula yang menilai bahwa warisan Haussmann membawa kemajuan nyata bagi kualitas hidup warga Paris. Kota menjadi lebih terang, bersih, dan teratur. Kehadiran trotoar lebar, taman kota, dan sistem transportasi modern membuat Paris lebih layak huni, bahkan menjadi model urbanisasi bagi banyak kota di Eropa pada abad ke-19.

Interior bangunan Haussmannian juga mencerminkan kemewahan dan cita rasa seni tinggi. Elemen seperti langit-langit tinggi, lantai kayu berpola herringbone, perapian marmer, serta moldings dekoratif menjadikan apartemen-apartemen bergaya ini tetap diminati hingga kini. Banyak di antaranya telah direnovasi, tetapi masih mempertahankan karakter asli yang menonjolkan keanggunan klasik.

Hingga hari ini, lebih dari separuh bangunan di pusat kota Paris masih bergaya Haussmannian. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh arsitektur tersebut terhadap wajah kota. Gaya ini bahkan menjadi daya tarik wisata tersendiri, karena menyatukan unsur fungsionalitas, keindahan, dan sejarah dalam satu harmoni.

Kini, lebih dari 150 tahun setelah proyek itu dimulai, warisan Haussmann tetap hidup di setiap sudut Paris. Meskipun ada kritik terhadap metode pembangunannya, tak dapat disangkal bahwa Haussmann telah menciptakan citra Paris sebagai kota paling elegan di dunia. Ia mengubahnya dari kota yang penuh sesak menjadi mahakarya urban yang memadukan seni, arsitektur, dan kehidupan modern.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore