
Pita Limjaroenrat, kandidat Perdana Menteri Thailand. Partainya, Move Forward (MFP) yang awalnya dianggap underdog justru menjadi pemenang.
JawaPos.com – Pita Limjaroenrat memang belum pasti bakal menjadi perdana menteri (PM) Thailand. Nasib pemimpin Move Forward Party (MFP) itu masih bergantung pada kepastian koalisi dan pemilihan di parlemen nanti. Pencalonan juga harus mendapatkan persetujuan dari raja Thailand.
Namun, setelah partainya secara mengejutkan menang pemilu pada Minggu (14/5), jika terpilih menjadi PM Thailand, Pita sudah memiliki rencana prioritas kebijakan empat tahun ke depan. Yakni, demiliterisasi, demonopolisasi, dan desentralisasi Thailand.
’’Pendekatan tiga cabang itu menjadi satu-satunya cara agar kami dapat sepenuhnya mendemokratisasi Thailand dan memastikan negara ini kembali ke bisnis, ke arena global, serta memastikan kita tidak hanya berkontribusi, tetapi juga diuntungkan globalisasi,’’ papar Pita saat diwawancarai CNN.
Ada sejumlah perubahan struktural yang akan diusulkan MFP untuk militer. Termasuk menghapus wajib militer, mengurangi anggaran, membuat militer lebih transparan dan akuntabel, serta mengurangi jumlah jenderal.
Pita menjelaskan, keberhasilan MFP dalam pemilu lalu menunjukkan bahwa kebijakan yang diusungnya tidak hanya beresonansi dengan kaum muda. Tetapi juga menjadi harapan seluruh masyarakat. Tingkat kehadiran penduduk dalam pemilu tahun ini merupakan rekor yang tertinggi. ’’Itu cukup sensasional,’’ kata politikus 42 tahun tersebut.
Tentu, selama militer berkuasa, jalan pemerintahan sipil tidak akan mulus. Kudeta militer sudah menjadi hal biasa di negara tersebut. Sejak 1932, setidaknya terjadi selusin kudeta militer yang sukses di Thailand. Dua kudeta di antaranya terjadi dalam 17 tahun terakhir.
Sementara itu, mantan PM Thailand Thaksin Shinawatra juga memuji kemenangan MFP. Pendiri Partai Pheu Thai itu menyatakan, para jenderal militer yang sudah menua dan menjadi pusat kekacauan negara selama bertahun-tahun harus mundur dengan bermartabat.
Pheu Thai yang hampir selalu menang dalam pemilu Thailand kali ini harus menyerah dari MFP. Hasil pemungutan suara, Pheu Thai kalah 10 kursi dari MFP. Thaksin memaparkan, MFP menjadi satu bukti bahwa media sosial dan konten buatan pengguna (user generated content/UGC) dapat memenangkan kampanye yang memiliki pengeluaran besar dan pembelian suara.
’’Mereka menggunakan UGC di TikTok karena anak muda menggunakan TikTok,’’ ungkap Thaksin yang kini tinggal di pengasingan.
Fenomena itu terbukti berhasil mendulang suara dengan sangat besar tanpa banyak sumber daya. Hasilnya, MFP mampu mengalahkan partai-partai yang memiliki pendanaan besar. Padahal, MFP merupakan partai baru. MFP punya daya tarik dan organisasi yang kuat di kota-kota yang memiliki universitas. Banyak anak muda yang meyakinkan orang tuanya untuk memilih partai tersebut. (sha/c14/hud)

104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
8 Spot Kuliner di Kota Tua Surabaya, Makan Enak dengan Suasana Vintage dan Pemandangan yang Memanjakan Mata!
Mariano Peralta Merapat ke Persija Jakarta? Manajer Borneo FC Langsung Buka Suara
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
