Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 6 September 2025 | 17.09 WIB

Ingin Kaburkan Fakta, Presiden Donald Trump Menyalahkan AI

Foto Pidato Presiden Donald Trump pada KTT AI Gedung Putih di Auditorium Andrew W. Mellon, Washington, D.C. (The White House) - Image

Foto Pidato Presiden Donald Trump pada KTT AI Gedung Putih di Auditorium Andrew W. Mellon, Washington, D.C. (The White House)

JawaPos.com - Menyalahkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) adalah strategi yang semakin populer bagi politisi yang berusaha menghindari tanggung jawab atas sesuatu yang memalukan. Serta, upaya mengaburkan fakta, agar publik semakin kesulitan melakukan verifikasi.

Mentang-mentang AI bukan manusia. AI tidak bisa membocorkan informasi atau mengajukan gugatan. AI memang bisa membuat kesalahan, masalah kredibilitas yang menyulitkan untuk membedakan fakta dari fiksi di era misinformasi dan disinformasi.

Dan, ketika kebenaran sulit diungkap, justru keuntungan yang didapat dari kebohongan, kata para analis. Mengutip berita dari ABC News, pada Selasa lalu (3/9), Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mendukung praktik kebohongan tersebut.

Ketika Trump ditanya oleh salah satu wartawan Fox News, Peter Doocy tentang rekaman video viral yang menunjukkan ada seseorang melemparkan sesuatu dari jendela lantai atas Gedung Putih, Trump mengelak.

"Tidak, itu mungkin AI," elak Trump menjawab pertanyaan wartawan. Meskipun setelahnya, tim persnya Trump menginformasikan kepada para wartawan bahwa video itu nyata, bukan hasil buatan AI.

Namun, Trump, dikenal bersikeras bahwa kebenaran adalah apa yang ia katakan. Sehingga, menyatakan dirinya sepenuhnya mendukung fenomena akhir-akhir ini politisi menyalahkan AI sebagai kambing hitam.

"Jika terjadi sesuatu yang sangat buruk, mungkin saya harus menyalahkan AI saja," kata Trump kepada para wartawan. Namun, Ia tidak sendirian.

Pada hari yang sama di Caracas, Menteri Komunikasi Venezuela Freddy Ñáñez mempertanyakan kebenaran video pemerintahan Trump yang katanya menunjukkan serangan AS terhadap sebuah kapal di Karibia yang menargetkan geng Tren de Aragua Venezuela dan menewaskan 11 orang.

Sebuah video serangan yang diunggah ke Truth Social itu menunjukkan sebuah speedboat panjang bermesin ganda di laut ketika kilatan cahaya terang muncul di atasnya. Kapal itu kemudian terlihat sebentar tertutup api.

“Berdasarkan video yang diberikan, kemungkinan besar video itu dibuat menggunakan AI,” kata Ñáñez di akun Telegram-nya. Sebab, tambah dia, video menggambarkan animasi yang hampir seperti kartun.

Di sisi lain, tindakan menyalahkan AI terkadang bisa menjadi pujian.

“Dia seperti pemain yang dihasilkan AI,” kata pemain tenis Alexander Bublik tentang bakat lawannya di US Open, Jannik Sinner, di salah satu video diunggah di Facebook ESPN. Namun, ketika digunakan oleh pihak yang berkuasa, praktik ini, menurut para ahli, bisa berbahaya.

Pakar forensik digital Hany Farid telah memperingatkan selama bertahun-tahun tentang meningkatnya kemampuan gambar, suara, dan video "deepfake" AI untuk membantu penipuan atau kampanye disinformasi politik, tetapi selalu ada masalah yang lebih dalam.

"Saya selalu berpendapat bahwa masalah yang lebih besar adalah ketika Anda memasuki dunia di mana segala sesuatu bisa palsu, maka tidak ada yang harus nyata," kata Farid, seorang profesor di University of California, Berkeley.

"Anda bisa menyangkal kenyataan apa pun karena yang perlu Anda katakan hanyalah, 'Itu deepfake'," imbuhnya.

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore