Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 6 September 2025 | 16.22 WIB

Untuk Mendongkrak Daya Beli Domestik, India Memangkas Pajak Konsumsi pada Ratusan Barang

Orang-orang berbelanja kebutuhan pokok di sebuah supermarket di Amritsar (9/5). (Reuters) - Image

Orang-orang berbelanja kebutuhan pokok di sebuah supermarket di Amritsar (9/5). (Reuters)

JawaPos.com - Menteri Keuangan India, Nirmala Sitharaman, pada Rabu (3/9) mengumumkan pemangkasan pajak untuk ratusan produk konsumen, mulai dari sabun hingga mobil berukuran kecil. Langkah ini bertujuan mendorong permintaan dalam negeri di tengah tekanan ekonomi yang dipicu oleh tarif tinggi dari Amerika Serikat.

Menurut laporan Reuters, Goods and Services Tax (GST) menyetujui penurunan tarif untuk berbagai kebutuhan sehari-hari sekaligus melakukan penyederhanaan struktur pajaknya.

Dalam konferensi pers yang digelar larut malam, Sitharaman menjelaskan bahwa panel yang ia pimpin, terdiri dari menteri-menteri dari seluruh negara bagian, sepakat merampingkan tarif GST dari empat kategori menjadi hanya dua, yakni 5 persen dan 18 persen.

Pemangkasan pajak berlaku pada sejumlah produk, misalnya pasta gigi dan sampo yang turun dari 18 persen menjadi 5 persen, serta mobil kecil, pendingin ruangan, dan televisi yang turun dari 28 persen menjadi 18 persen. Selain itu, GST juga akan dihapuskan untuk seluruh polis asuransi jiwa individu maupun asuransi kesehatan.

Meski kebijakan ini diperkirakan membuat pemerintah pusat dan negara bagian kehilangan pendapatan hingga 480 miliar rupee India (sekitar Rp89,6 miliar), pemotongan tersebut akan mulai berlaku pada 22 September, bertepatan dengan dimulainya festival Hindu Navratri.

Dengan tambahan pemangkasan pajak pribadi yang lebih dulu diterapkan pada Februari, pemerintah berharap kebijakan ini dapat meningkatkan konsumsi di India. Harapan itu semakin menguat karena ekonomi negara Asia Selatan tersebut mencatat pertumbuhan mengejutkan sebesar 7,8 persen pada kuartal yang berakhir Juni.

"Peningkatan konsumsi sebagai pengganti rasionalisasi tarif GST, akan lebih dari sekadar menetralkan potensi dampak terhadap pendapatan."

"Dampaknya terhadap defisit fiskal hampir tidak signifikan atau bahkan positif," kata Soumya Kanti Ghosh, kepala ekonom di SBI.

Panel menyetujui pajak sebesar 40 persen pada barang-barang 'sangat mewah' dan 'berdosa' seperti rokok, mobil dengan kapasitas mesin melebihi 1.500 sentimeter kubik, dan minuman berkarbonasi.

Langkah ini, diperkirakan akan mendongkrak penjualan perusahaan barang konsumsi cepat saji, seperti Hindustan Unilever dan Godrej Industries, serta perusahaan elektronik konsumen seperti Samsung Electronics, LG Electronics, dan Sony.

Dikutip dari Reuters, produsen mobil seperti Maruti, Toyota Motor, dan Suzuki Motor, diperkirakan akan meraih keuntungan besar.

Dorongan untuk memotong pajak tersebut dipicu oleh seruan Perdana Menteri Narendra Modi agar India lebih mandiri, dan bulan lalu ia berjanji untuk menurunkan GST pada bulan Oktober untuk melawan tarif Amerika Serikat hingga 50 persen.

"Reformasi yang luas ini akan meningkatkan taraf hidup warga negara kita dan memastikan kemudahan berbisnis bagi semua orang, terutama pedagang dan usaha kecil," ungkap Modi. (*)

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore