
Orang-orang berbelanja kebutuhan pokok di sebuah supermarket di Amritsar (9/5). (Reuters)
JawaPos.com - Menteri Keuangan India, Nirmala Sitharaman, pada Rabu (3/9) mengumumkan pemangkasan pajak untuk ratusan produk konsumen, mulai dari sabun hingga mobil berukuran kecil. Langkah ini bertujuan mendorong permintaan dalam negeri di tengah tekanan ekonomi yang dipicu oleh tarif tinggi dari Amerika Serikat.
Menurut laporan Reuters, Goods and Services Tax (GST) menyetujui penurunan tarif untuk berbagai kebutuhan sehari-hari sekaligus melakukan penyederhanaan struktur pajaknya.
Dalam konferensi pers yang digelar larut malam, Sitharaman menjelaskan bahwa panel yang ia pimpin, terdiri dari menteri-menteri dari seluruh negara bagian, sepakat merampingkan tarif GST dari empat kategori menjadi hanya dua, yakni 5 persen dan 18 persen.
Pemangkasan pajak berlaku pada sejumlah produk, misalnya pasta gigi dan sampo yang turun dari 18 persen menjadi 5 persen, serta mobil kecil, pendingin ruangan, dan televisi yang turun dari 28 persen menjadi 18 persen. Selain itu, GST juga akan dihapuskan untuk seluruh polis asuransi jiwa individu maupun asuransi kesehatan.
Meski kebijakan ini diperkirakan membuat pemerintah pusat dan negara bagian kehilangan pendapatan hingga 480 miliar rupee India (sekitar Rp89,6 miliar), pemotongan tersebut akan mulai berlaku pada 22 September, bertepatan dengan dimulainya festival Hindu Navratri.
Dengan tambahan pemangkasan pajak pribadi yang lebih dulu diterapkan pada Februari, pemerintah berharap kebijakan ini dapat meningkatkan konsumsi di India. Harapan itu semakin menguat karena ekonomi negara Asia Selatan tersebut mencatat pertumbuhan mengejutkan sebesar 7,8 persen pada kuartal yang berakhir Juni.
"Peningkatan konsumsi sebagai pengganti rasionalisasi tarif GST, akan lebih dari sekadar menetralkan potensi dampak terhadap pendapatan."
"Dampaknya terhadap defisit fiskal hampir tidak signifikan atau bahkan positif," kata Soumya Kanti Ghosh, kepala ekonom di SBI.
Panel menyetujui pajak sebesar 40 persen pada barang-barang 'sangat mewah' dan 'berdosa' seperti rokok, mobil dengan kapasitas mesin melebihi 1.500 sentimeter kubik, dan minuman berkarbonasi.
Langkah ini, diperkirakan akan mendongkrak penjualan perusahaan barang konsumsi cepat saji, seperti Hindustan Unilever dan Godrej Industries, serta perusahaan elektronik konsumen seperti Samsung Electronics, LG Electronics, dan Sony.
Dikutip dari Reuters, produsen mobil seperti Maruti, Toyota Motor, dan Suzuki Motor, diperkirakan akan meraih keuntungan besar.
Dorongan untuk memotong pajak tersebut dipicu oleh seruan Perdana Menteri Narendra Modi agar India lebih mandiri, dan bulan lalu ia berjanji untuk menurunkan GST pada bulan Oktober untuk melawan tarif Amerika Serikat hingga 50 persen.
"Reformasi yang luas ini akan meningkatkan taraf hidup warga negara kita dan memastikan kemudahan berbisnis bagi semua orang, terutama pedagang dan usaha kecil," ungkap Modi. (*)

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Persebaya Surabaya Dilaporkan Capai Kesepakatan dengan Striker Asing, Punya Rekam Jejak di Indonesia!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
Pertemuan dengan Suporter, Fariz Julinar Tegaskan PSIS Semarang Siap Bangkit Musim Depan
4 Tempat Makan Siomay Paling Enak di Bandung, Jangan Skip karena Variannya Berlimpah dengan Siraman Bumbu Kacang yang Lezat
