
Kardinal Robert Prevost menghadiri Misa Novemdiale kelima untuk mengenang Paus Fransiskus di Vatikan (30/4). (Dok. EPA-Yonhap)
JawaPos.com - Untuk pertama kalinya dalam sejarah 2.000 tahun Gereja Katolik, seorang warga negara Amerika Serikat terpilih menjadi Paus. Dia adalah Robert Prevost, seorang misionaris berusia 69 tahun yang telah lama berkarya di Peru. Dalam pengangkatannya, ia memilih nama kepausan Leo XIV.
Dilansir dari Korea Times, Prevost merupakan anggota Ordo Augustinian dan sebelumnya menjabat sebagai uskup Vatikan.
Dalam sambutan perdananya dari balkon Basilika Santo Petrus, Prevost menyapa umat dengan ucapan "Damai sejahtera bagi Anda" sambil menekankan pentingnya perdamaian, dialog, dan evangelisasi misionaris.
Prevost mengenakan jubah merah tradisional kepausan, jubah yang dihindari Fransiskus saat terpilih pada 2013.
Meski berasal dari Chicago, Prevost juga memiliki kewarganegaraan Peru. Ia telah menghabiskan waktu bertahun-tahun di negara tersebut sebagai misionaris hingga akhirnya menjabat sebagai uskup agung, membuatnya tampak memenuhi kriteria untuk menjadi Paus meski ada anggapan bahwa pemimpin gereja seharusnya tidak berasal dari negara adidaya seperti Amerika Serikat.
Paus Fransiskus sendiri telah menaruh perhatian pada Prevost dan dalam banyak hal, melihatnya sebagai pewaris tahtanya.
Pada tahun 2023, Paus Fransiskus membawa Prevost ke Vatikan untuk menjabat sebagai kepala kantor yang memeriksa pencalonan uskup dari seluruh dunia, salah satu pekerjaan terpenting dalam Gereja Katolik.
Kemudian pada Januari, Paus Fransiskus mengangkat Prevost ke jajaran senior kardinal. Sebagai hasilnya, Prevost memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh beberapa kardinal lainnya dalam konklaf.
Proses pemilihan Paus berlangsung penuh harap. Saat asap putih mengepul dari Kapel Sistina pada hari kedua konklaf, ribuan umat yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus bersorak.
Para imam membuat tanda salib dan biarawati tak kuasa menahan tangis, menyambut seruan "Viva il Papa!" yang menggema di udara.
Satu jam kemudian, seorang diakon kardinal muncul di balkon dan menyampaikan pengumuman klasik, "Habemus Papam!" yang berarti kita memiliki Paus. Nama Robert Prevost pun diumumkan sebagai pemimpin baru Gereja Katolik.
Dalam pidato publiknya, dikutip dari Korea Times, Prevost berbicara dalam bahasa Italia dan Spanyol, meski tidak menggunakan bahasa Inggris.
Nama Leo yang dipilihnya terakhir kali digunakan oleh Paus Leo XIII, yang memimpin dari 1878 hingga 1903. Leo XIII dikenal karena membuka sikap Gereja terhadap modernisasi, termasuk ilmu pengetahuan dan politik, dan meletakkan dasar bagi pemikiran sosial Katolik modern.
Leo XIII juga menulis Rerum Novarum, dokumen penting yang membahas hak-hak pekerja dan prinsip keadilan sosial.

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Persebaya Surabaya Dilaporkan Capai Kesepakatan dengan Striker Asing, Punya Rekam Jejak di Indonesia!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
Pertemuan dengan Suporter, Fariz Julinar Tegaskan PSIS Semarang Siap Bangkit Musim Depan
4 Tempat Makan Siomay Paling Enak di Bandung, Jangan Skip karena Variannya Berlimpah dengan Siraman Bumbu Kacang yang Lezat
