
Ilustrasi rekrutan militer Ukraina. Henry Nicholls/Reuters/Antara
JawaPos.com – Produksi senjata global tahun ini mungkin bakal mengalami kenaikan. Sebab, pihak-pihak yang terlibat dalam invasi Rusia di Ukraina juga membutuhkan tambahan senjata. Karena itu, peluang konflik Rusia-Ukraina bisa cepat berakhir tampaknya makin tipis. Korban pun makin berjatuhan.
Berdasar rencana yang dipaparkan Komisi Eropa pada Rabu (3/5), mereka akan menerapkan Undang-Undang (UU) untuk Mendukung Produksi Amunisi (ASAP). Komisi Eropa ingin memberikan insentif kepada industri pertahanan Eropa untuk berinvestasi dalam meningkatkan kapasitas produksi senjata, baik itu komponen rantai pasokan, mesin, maupun personel.
Subsidi yang diberikan mencapai EUR 500 juta atau setara dengan Rp 8,1 triliun. Hasil produksi itu nanti dipakai untuk membantu Ukraina dan mengisi kembali stok persenjataan negara-negara anggota Uni Eropa (UE) yang terkuras karena disumbangkan ke Ukraina. Rencana tersebut membutuhkan persetujuan dari pemerintah UE dan Parlemen Eropa.
’’Untuk urusan pertahanan, industri kami sekarang harus beralih ke mode ekonomi perang,’’ ujar Komisaris Pasar Internal UE Thierry Breton seperti dikutip Channel News Asia.
Skema investasi tersebut adalah bagian ketiga dari upaya UE untuk mendapatkan lebih banyak amunisi dan senjata ke Ukraina. Khususnya peluru artileri 155 milimeter yang diminta Kiev. UE didesak untuk memasok 1 juta peluru ke Ukraina dalam waktu 12 bulan. Sebelumnya, UE setuju menyisihkan EUR 1 miliar (Rp 16,2 triliun) untuk amunisi dan misil yang dikirimkan negara-negara anggotanya dari stok yang mereka miliki.
Saat ini invasi Rusia ke Ukraina memang tidak hanya melibatkan dua negara. Tapi, sudah menyebabkan gesekan banyak negara. Utamanya, negara-negara Eropa yang wilayahnya dekat dengan dua negara tersebut. Mereka takut perang akan melebar.
Breton mengatakan, UE memiliki basis industri yang substansial untuk produksi amunisi. Namun, saat ini pihaknya tidak memiliki skala produksi yang memadai guna memenuhi kebutuhan keamanan Ukraina dan negara-negara UE. ’’Kita dapat dan harus merevitalisasinya untuk menyesuaikan dengan kebutuhan konflik berintensitas tinggi,’’ ujar Breton.
Sehari sebelumnya, Rusia lebih dulu membuat pernyataan untuk melipatgandakan produksi senjata. Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu mendesak Perusahaan Rudal Taktis milik negara agar menggandakan produksi misilnya. Sebab, serangan balasan Ukraina diperkirakan akan terjadi. Saat ini pasukan Moskow dan Kiev dilaporkan mengalami kendala kekurangan amunisi. ’’Saat ini kita perlu menggandakan produksi senjata dengan presisi tinggi dalam waktu sesingkat mungkin,’’ ujarnya dalam pertemuan dengan petinggi militer, Selasa (2/5).
Para pengamat militer memperkirakan Rusia tengah kehabisan amunisi dengan presisi tinggi. Hal itu bisa dilihat dari rentetan serangan ke Ukraina yang semakin jarang dan skalanya lebih kecil. Institute for the Study of War kemarin menyebutkan, komentar Menhan Rusia itu mungkin dirancang untuk menepis klaim bahwa kementeriannya tidak dapat membuat pasukan Rusia memiliki persediaan amunisi yang memadai.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

7 Cara Ampuh Mengatasi HP Lemot Tanpa Harus Ganti Baru
Pengurus NU Laporkan Dugaan Politik Uang Muktamar ke KPK, Uang Rp 40 Juta Dikembalikan
Prediksi Skor Persik Kediri vs Madura United: Laskar Sape Kerap Punya Kans Menang di Brawijaya!
Jokowi Temui Prabowo saat Sidang Putusan Gibran, Ajudan Ungkap Isi Pertemuan
Prediksi Skor Persipura vs RANS Nusantara: Produktivitas Gol Jadi Pembeda
Prediksi Skor Malaga vs Espanyol: Los Periquitos Bidik Poin, Tuan Rumah Terpuruk
Fraksi PKB Usulkan Pembentukan Pansus Tindak Lanjuti Putusan MK soal Ijazah Gibran
Prediksi Skor JDT vs Svay Rieng di ACC Cup: Harimau Selatan Diunggulkan Menang
Prediksi Lion City Sailors vs CAHN di ACC: Adu Kuat Tuan Rumah dengan Wakil Vietnam
Peringati Hari Kesaktian Pancasila, Alfa Penyintas Stroke Jalan Kaki 21 KM Dengan Rute Garuda

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022