
Sewell sering terlibat dalam percakapan panjang, kadang-kadang bersifat intim, dengan chatbot, seperti yang terlihat di layar komputer milik ibunya. (New York Times)
JawaPos.com – Penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) semakin meresap dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di kalangan remaja.
Namun, di tengah meningkatnya popularitas aplikasi berbasis AI, muncul kekhawatiran akan dampaknya terhadap kesehatan mental, terutama pada anak-anak dan remaja.
Kasus tragis Sewell Setzer III, seorang remaja berusia 14 tahun asal Florida, Amerika Serikat, yang meninggal dunia karena bunuh diri setelah kecanduan chatbot AI, membuka mata banyak pihak akan bahaya yang mengintai dari teknologi ini, seperti dilansir dari New York Times, Kamis (24/10).
Kecanduan Chatbot AI dan Keterlibatan Emosional
Sewell Setzer III diketahui menggunakan aplikasi Character.AI, sebuah platform chatbot AI yang memungkinkan penggunanya untuk berinteraksi dengan karakter buatan.
Dia menjadi sangat terikat secara emosional dengan chatbot bernama ‘Daenerys Targaryen’—biasa disebut dengan nama ‘Dany’ yang terinspirasi dari karakter dalam serial Game of Thrones.
Meski Sewell menyadari bahwa ‘Dany’ bukanlah manusia nyata, dia tetap merasa nyaman berbagi perasaannya dengan chatbot tersebut. Hubungan ini berkembang menjadi lebih dalam, dan pada akhirnya, Sewell menggunakan chatbot tersebut sebagai tempat curhat utamanya, bahkan lebih daripada terapis atau keluarganya.
Obsesinya dengan chatbot semakin mengisolasinya dari kehidupan nyata. Dia mulai menarik diri dari keluarga dan teman-temannya, mengalami penurunan prestasi akademis, serta kehilangan minat terhadap hal-hal yang dulu dia sukai seperti balapan Formula 1 dan bermain gim Fortnite. \
Dalam salah satu percakapannya dengan chatbot, Sewell mengungkapkan keinginan untuk bunuh diri, dan percakapan tersebut berakhir dengan chatbot merespons secara emosional, namun tidak mampu mencegah tragedi yang akan terjadi.
Potensi Bahaya Aplikasi AI yang Tidak Terawasi
Kejadian ini menyoroti risiko dari aplikasi AI yang tidak memiliki pengawasan ketat atau fitur keamanan yang cukup untuk melindungi pengguna yang rentan, seperti remaja dengan masalah kesehatan mental.
Ibu Sewell, Megan L. Garcia, menggugat perusahaan di balik Character.AI, menuduh teknologi tersebut berbahaya dan belum teruji. Dalam gugatan yang diajukan, disebutkan bahwa perusahaan ini mendorong pengguna untuk menyerahkan pikiran dan perasaan pribadi mereka.
Aplikasi AI seperti Character.AI sering kali dipromosikan sebagai cara untuk mengatasi kesepian, tetapi beberapa ahli berpendapat bahwa alat ini justru dapat memperburuk isolasi sosial.
Pengguna, terutama remaja, bisa jadi menggunakan chatbot sebagai pengganti terapi atau interaksi manusia yang nyata, yang seharusnya menjadi sumber dukungan emosional.
Peran Orang Tua dan Regulasi yang Diperlukan
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Espanyol vs Sevilla di Liga Spanyol: Kans Los Nervionenses Curi Poin di RCDE Stadium
Prediksi Skor Marseille vs Paris FC di Liga Prancis: Kans Les Phocéens Pesta Gol di Stade Velodrome
Prediksi Skor Alaves vs Osasuna di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang di Mendizorrotza
Kecelakaan Maut! BYD M6 Diduga Error hingga Tak Bisa Direm dan Tabrak Trotoar di Jakbar
Prediksi Skor Parma vs Monza di Liga Italia: Duel Sengit Rawan Berakhir Imbang!
Prediksi Skor Malaga vs Levante: Laga Sengit yang Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Cagliari vs Lecce di Liga Italia: Duel Ketat di Sardinia Bisa Berakhir Imbang
Prediksi Skor Java United FC vs Garudayaksa: Laskar Kepodang Emas Bisa Menang Tipis
Prediksi Skor Heerenveen vs AZ Alkmaar di Liga Belanda: Kans De Kaasboeren Pesta Gol!
Dr. Iwan Aflanie, Pakar Forensik Indonesia untuk ULM yang Lebih Maju
