JawaPos.com - Presiden Korea Selatan, Yoon Suk Yeol pada hari Senin (18/12) meminta tim keamanan nasional untuk memberikan respon cepat dan kuat terhadap provokasi Korea Utara.
Hal tersebut menyusul peluncuran rudal balistik antar benua oleh Pyongyang pada sehari sebelumnya.
Peluncuran ICBM (Intercontinental Ballistic Missile) kelima Korea Utara di tahun ini, telah ditembakkan ke laut di lepas pantai timur Semenanjung Korea pada Senin pagi waktu setempat.
Dalam pertemuan Dewan Keamanan Nasional yang diadakan beberapa jam setelah uji coba rudal tersebut, Yoon Suk Yeol menyatakan kerja sama tiga arah dengan Amerika Serikat dan Jepang, yang akan diperkuat dengan skema data rudal Korea Utara secara real-time yang akan segera diaktifkan.
Kepala Staf Gabungan Korea Selatan mengatakan bahwa ICBM tersebut ditembakkan ke arah timur dari Pyongyang sekitar pukul 08.24 pagi di hari Senin, dan menempuh jarak sekitar 1.000 kilometer sebelum jatuh ke laut.
JCS (Joint Chiefs of Staff) mengatakan, bahwa ICBM tersebut menggunakan bahan bakar padat.
Kurang dari setengah hari sebelumnya sekitar pukul 22.38 pada hari Minggu, Korea Utara juga meluncurkan rudal dengan jarak pendek ke laut di sebelah timur semenanjung.
JCS mengutuk peluncuran rudal oleh Korea Utara sebagai pelanggaran yang jelas terhadap resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa yang relevan, dan tindakan provokasi serius yang mengancam perdamaian dan keamanan di Semenanjung Korea dan sekitarnya.
Perwakilan utusan khusus nuklir dari Korea Selatan, Jepang dan Amerika Serikat juga mengadakan pembicaraan melalui telepon, serta menyebut ambisi nuklir terlarang Korea Utara sebagai akar penyebab ketidakstabilan keamanan di wilayah tersebut menurut Kementerian Luar Negeri di Seoul.
Kementerian tersebut mengatakan bahwa ketiga utusan tersebut sepakat bahwa provokasi Korea Utara hanya akan mengarah pada aliansi internasional yang lebih kuat untuk melawan Pyongyang.
Kim Tae Hyo, wakil penasihat keamanan nasional utama Seoul, telah memperingatkan sebelumnya bahwa Korea Utara mungkin akan melakukan uji coba ICBM pada bulan ini.
JCS juga mengatakan bahwa Korea Selatan dan Amerika Serikat telah bersama-sama melacak pergerakan Korea Utara menjelang peluncuran pada hari Senin.
Yang Uk, seorang peneliti pertahanan di Asan Institute untuk Policy Studies, mengatakan kepada The Korea Herald bahwa kedua rudal tersebut kemungkinan besar dimaksudkan sebagai pesan kepada Amerika Serikat.
"Korea Utara mencoba mengatakan bahwa rudal-rudalnya mampu menyasar aset-aset strategis Amerika Serikat di Busan, tempat kapal selam serang Amerika, USS Missouri, berlabuh sehari sebelumnya," katanya.
Dia menjelaskan, bahwa rudal jarak pendek yang ditembakkan pada hari Minggu malam itu mendarat 570 kilometer dari titik peluncuran, yang hampir sama dengan jarak ke pangkalan angkatan laut di Busan.
"Dengan ICBM berbahan bakar padat, Korea Utara menunjukkan bahwa ICBM tersebut dapat mencapai daratan Amerika Serikat," tambahnya.
Berdasarkan informasi dari JCS, Yang Uk mengatakan bahwa ICBM tersebut tampaknya telah mencapai ketinggian setidaknya 6.000 kilometer, yang terbang selama lebih dari satu jam sebelum mendarat di laut.
Dia mencatat bahwa ICBM terakhir yang ditembakkan pada bulan Juli juga terbang setinggi 6.000 km, jauh melampaui ketinggian maksimum 3.000 km yang dicapai oleh ICBM yang diuji coba pada bulan April.
Yang Uk mengatakan bahwa dia tidak berpikir bahwa Rusia berada di belakang Korea Utara, yang telah mencapai ketinggian yang luar biasa tinggi dalam rentang waktu yang singkat, seperti yang diyakini terjadi pada keberhasilan satelit pengintai militernya pada bulan November.
"Ini akan menjadi langkah yang berani bagi Rusia untuk memberikan dukungan ICBM kepada Korea Utara, yang merupakan cerita yang sama sekali berbeda dengan teknologi dengan ruang angkasa. Karena hal ini akan menjadi pelanggaran langsung terhadap NPT," katanya, mengacu pada Perjanjian Non-Proliferasi Senjata Nuklir.
Dia menambahkan bahwa Korea Utara mungkin telah mengurangi berat hulu ledak yang dibawa oleh ICBM, demi terlihat bahwa teknologinya telah meningkat.
Kim Dong-yup, seorang profesor studi militer dan keamanan di Universitas Studi Korea Utara, mengatakan kepada The Korea Herald bahwa ia tidak berpikir bahwa peluncuran ICBM pada hari Senin merupakan reaksi terhadap pertemuan Korea Selatan dan Amerika Serikat tentang pencegahan nuklir yang diadakan pada hari Jumat di Washington.
"Jika ICBM itu memang Hwasong-18, Korea Utara bisa jadi sedang menguji coba mesin bahan bakar padatnya. Dalam hal ini, penembakan itu pasti sudah direncanakan jauh sebelumnya dan kebetulan bertepatan dengan pertemuan itu," katanya.
Dia menambahkan bahwa rudal jarak pendek tersebut merupakan senjata yang sudah jadi, dan tidak memerlukan pengujian tambahan.
"Setelah meluncurkan rudal jarak pendek pada hari Minggu malam, Kementerian Pertahanan di Pyongyang mengeluarkan kecaman keras terhadap pertemuan di Amerika Serikat."
"Ini mungkin merupakan indikasi bahwa Korea Utara menembakkan rudal tersebut sebagai protes terhadap pertemuan bilateral tersebut," tambahnya.
Di Seoul, Partai Kekuatan Rakyat mengatakan bahwa dengan penembakan rudal secara beruntun, Korea Utara membidik aliansi keamanan Korea Selatan yang semakin kuat dengan Amerika Serikat.
Kedua negara telah memutuskan untuk menyelesaikan pedoman tentang tanggapan bersama mereka terhadap potensi serangan nuklir Korea Utara selama akhir pekan, sebagai bagian dari komitmen terhadap Deklarasi Washington yang ditandatangani oleh Yoon dan mitranya dari Amerika Serikat, Joe Biden, pada bulan April.
***