Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 19 Desember 2023 | 04.42 WIB

Angka Kelahiran Rendah, Penduduk di Korea Selatan Diprediksi Mengalami Penurunan Populasi hingga 40 Persen!

Ilustrasi - Pemerintah Korea Selatan mengakui rendahnya angka kelahiran saat ini.

JawaPos.com - Korea Selatan diprediksi mengalami penurunan populasi lebih dari 40 persen dalam kurun waktu 50 tahun mendatang.

Pasalnya, separuh penduduk Korea Selatan berusia di atas 65 tahun pada 2072 mendatang, demikian laporan terbaru yang dirilis oleh Statistics Korea.

Skenario terburuk dalam proyeksi lembaga ini untuk populasi Korea Selatan antara tahun 2022-2072 memperkirakan, dimana jumlah penduduk di negara ini akan anjlok menjadi 30,1 juta jiwa dalam lima dekade mendatang.
 
Badan statistik yang dikelola Korea Selatan membuat tiga perkiraan yang berbeda yaitu optimis, median, dan pesimis. Semua itu tergantung pada tingkat populasi di negara tersebut dalam waktu dekat.
 
Di bawah skenario utama, total populasi yang saat ini mencapai sekitar 51,7 juta, akan turun menjadi 51,3 juta pada tahun 2030, hingga akhirnya menjadi 36,2 juta pada tahun 2072.
 
Statistics Korea memperkirakan penurunan jangka pendek dalam tingkat kesuburan total, yang merupakan jumlah rata-rata anak lahir pada kelahiran pada usia 15-49 tahun.
 
Jumlah bayi diperkirakan yang lahir akan terus menurun hingga tahun 2025, di mana pada saat itu tingkat kesuburan diperkirakan mencapai 0,65 di bawah.
 
 
Korea Selatan telah mencatat tingkat kelahiran terendah di dunia dengan angka 0,78 pada tahun 2022. Namun, angka ini juga diperkirakan akan meningkat di kemudian hari.
 
Di bawah skenario yang paling optimis, badan survei tersebut memperkirakan tingkat kesuburan total mencapai 1,34 pada tahun 2072.
 
Di bawah skenario median, angka ini diperkirakan akan menjadi 1,08 pada tahun 2072. Angka ini masih dianggap optimis oleh beberapa pengamat, karena mengasumsikan bahwa tingkat kelahiran saat ini akan meningkat lebih dari 30 persen.
 
Namun, angka ini masih menempatkan Korea Selatan di urutan terakhir di antara 38 anggota Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan, seperti yang dikutip dari Korea Herald.
 
Tingkat kesuburan minimum yang dibutuhkan sebuah negara untuk mempertahankan populasinya adalah 2,1 anak. Ini berarti bahwa setiap wanita harus memiliki setidaknya dua anak untuk menghindari penurunan populasi.
 
Namun, proyeksi tingkat kesuburan antara tahun 2023 dan 2072 tidak menunjukkan angka yang mendekati angka 2,1. Hal ini menambah angka populasi yang disebabkan oleh harapan hidup yang lebih panjang.
 
Jumlah penduduk berusia 65 tahun ke atas kemungkinan akan meningkat secara dramatis dari 9 juta saat ini, menjadi lebih dari 17 juta dalam 50 tahun.
 
Ini berarti proporsi populasi lansia akan meningkat menjadi 47,7 persen pada tahun 2072, dari 17,4 persen pada tahun 2022, melebihi jumlah penduduk produktif.
 
 
Tidak ada negara lain yang memiliki lebih dari 40 persen dari total populasi berusia di atas 65 tahun.
 
Usia median, usia dimana separuh dari populasi lebih muda dan separuh lebih tua, juga akan meningkat dari 44,9 persen di tahun 2022 menjadi 63,4 persen di tahun 2072.
 
Usia rata-rata secara bertahap meningkat seiring dengan meningkatnya harapan hidup. Usia median, yang pada tahun 1976 adalah 20 tahun, mencapai 30 tahun pada tahun 1997 dan 40 tahun pada tahun 2014.
 
"Dengan tingkat saat ini, jumlah orang yang harus ditanggung per 100 orang usia kerja akan terus meningkat dari 40,6 di tahun 2022 menjadi 118,5 di tahun 2072," demikian prediksi lembaga tersebut.
 
Ini berarti bahwa satu orang yang aktif secara ekonomi harus menanggung rata-rata 1,2 orang lanjut usia atau anak-anak.
 
Jika dorongan di Korea Selatan menuju apa yang disebut jurang demografi semakin cepat seperti yang diperkirakan, maka populasi yang produktif secara ekonomi yang berusia 15 hingga 64 tahun diperkirakan akan berkurang menjadi 45,8 persen dari total populasi pada tahun 2072, sebuah penurunan yang sangat besar dari 71,1 persen yang tercatat tahun lalu.
 
Hal ini akan membuat Korea Selatan menjadi satu-satunya negara dalam daftar kelahiran yang berada di bawah ambang batas 50 persen. Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan yang bertanggung jawab atas kebijakan kependudukan, mengatakan bahwa mereka menanggapi masalah ini dengan serius.
 
"Pemerintah mengakui rendahnya angka kelahiran saat ini sebagai sebuah krisis yang dapat membahayakan eksistensi negara," ujar Lee Ki-il, Wakil Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan.
Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore