Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 20 November 2023 | 15.37 WIB

Gas Air Mata kembali Digunakan di Stadion, Begini Sejarahnya sejak Pertama Ditemukan

Caption foto : Penggunaan gas air mata oleh aparat kepolisian pada kericuhan liga Gresik United vs Deltras Sidoarjo.

JawaPos.comGas air mata kembali viral di dunia maya setelah menjadi salah satu faktor kerusuhan di Stadion Joko Samudro, Gresik. Lalu, bagaimanakah sejarah penggunaan gas air mata di dunia?

Gas air mata kembali disorot dalam pertandingan sepak bola. Pertandingan antara Gresik United melawan Deltras FC menjadi saksi kembali viralnya penggunaan gas air mata setelah terakhir kali terjadi di Stadion Kanjuruhan, Malang.

Gas air mata merupakan salah satu benda yang wajib dibawa kepolisian untuk mengamankan kegiatan yang berpotensi menimbulkan kerusuhan seperti pertandingan sepak bola. Benda ini mempunyai sejarah panjang sejak pertama kali digunakan.

Dilansir dari Science History, beberapa negara seperti Jerman dan Prancis sekitar akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 sedang mengembangkan senjata kimia untuk mengendalikan huru-hara. Prancis kemudian menggunakan senjata berbentuk granat tersebut untuk membasmi tindakan kriminal.

Penggunaan gas air mata semakin masif sejak Perang Dunia I. Prancis menjadi negara pertama yang memopulerkan penggunaan senjata kimia tersebut saat menghadapi prajurit Jerman pada Agustus 1914. Sejak saat itu, beberapa negara seperti Amerika Serikat ikut mengembangkan gas air mata.

Menurut situs Britannica, bahan utama dalam pembuatan gas air mata berasal dari senyawa halogen organik sintesis, cairan yang dapat menyebar melalui alat seperti granat maupun peluru. 

Penggunaan gas air mata sangat membahayakan kesehatan. Jika mengenai tubuh, gas air mata dapat mengakibatkan gangguan pada saluran pernapasan, kulit, serta penglihatan. Jika tidak ditangani lebih lanjut, gas air mata dapat mengakibatkan kematian.

Sejak ditemukan, gas air mata menjadi salah satu senjata mematikan yang digunakan untuk berperang. Penggunaannya semakin masif digunakan setelah Perang Dunia I.

Di Amerika Serikat, gas air mata efektif untuk membubarkan massa yang sedang melakukan demonstrasi. Terbukti dari tahun 1921 sampai 1923, data dari Science History menunjukkan kepolisian mampu membubarkan kerusuhan hanya dengan modal gas air mata. 

Penggunaan gas air mata sebagai senjata perang masih digunakan pasca Perang Dunia I. Negara seperti Amerika Serikat masih menggunakannya ketika berperang dalam perang Vietnam.

Karena dinilai berbahaya, gas air mata mulai dilarang untuk diproduksi, dimiliki, dan digunakan untuk perang. Kesepakatan tersebut terjadi pada tahun 1993 di mana Chemical Weapons Convention (CWC) menegaskan kembali larangan gas air mata yang sebelumnya telah disepakati pada Protokol Jenewa tahun 1925 untuk digunakan dalam perang.

Meskipun demikian, CWC memperbolehkan masing-masing negara untuk menggunakan gas air mata dalam situasi tertentu seperti mencegah kerusuhan di dalam negeri.

Editor: Dinarsa Kurniawan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore