Caption foto : Penggunaan gas air mata oleh aparat kepolisian pada kericuhan liga Gresik United vs Deltras Sidoarjo.
JawaPos.com - Gas air mata kembali viral di dunia maya setelah menjadi salah satu faktor kerusuhan di Stadion Joko Samudro, Gresik. Lalu, bagaimanakah sejarah penggunaan gas air mata di dunia?
Gas air mata kembali disorot dalam pertandingan sepak bola. Pertandingan antara Gresik United melawan Deltras FC menjadi saksi kembali viralnya penggunaan gas air mata setelah terakhir kali terjadi di Stadion Kanjuruhan, Malang.
Gas air mata merupakan salah satu benda yang wajib dibawa kepolisian untuk mengamankan kegiatan yang berpotensi menimbulkan kerusuhan seperti pertandingan sepak bola. Benda ini mempunyai sejarah panjang sejak pertama kali digunakan.
Dilansir dari Science History, beberapa negara seperti Jerman dan Prancis sekitar akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 sedang mengembangkan senjata kimia untuk mengendalikan huru-hara. Prancis kemudian menggunakan senjata berbentuk granat tersebut untuk membasmi tindakan kriminal.
Penggunaan gas air mata semakin masif sejak Perang Dunia I. Prancis menjadi negara pertama yang memopulerkan penggunaan senjata kimia tersebut saat menghadapi prajurit Jerman pada Agustus 1914. Sejak saat itu, beberapa negara seperti Amerika Serikat ikut mengembangkan gas air mata.
Menurut situs Britannica, bahan utama dalam pembuatan gas air mata berasal dari senyawa halogen organik sintesis, cairan yang dapat menyebar melalui alat seperti granat maupun peluru.
Penggunaan gas air mata sangat membahayakan kesehatan. Jika mengenai tubuh, gas air mata dapat mengakibatkan gangguan pada saluran pernapasan, kulit, serta penglihatan. Jika tidak ditangani lebih lanjut, gas air mata dapat mengakibatkan kematian.
Sejak ditemukan, gas air mata menjadi salah satu senjata mematikan yang digunakan untuk berperang. Penggunaannya semakin masif digunakan setelah Perang Dunia I.
Di Amerika Serikat, gas air mata efektif untuk membubarkan massa yang sedang melakukan demonstrasi. Terbukti dari tahun 1921 sampai 1923, data dari Science History menunjukkan kepolisian mampu membubarkan kerusuhan hanya dengan modal gas air mata.
Penggunaan gas air mata sebagai senjata perang masih digunakan pasca Perang Dunia I. Negara seperti Amerika Serikat masih menggunakannya ketika berperang dalam perang Vietnam.
Karena dinilai berbahaya, gas air mata mulai dilarang untuk diproduksi, dimiliki, dan digunakan untuk perang. Kesepakatan tersebut terjadi pada tahun 1993 di mana Chemical Weapons Convention (CWC) menegaskan kembali larangan gas air mata yang sebelumnya telah disepakati pada Protokol Jenewa tahun 1925 untuk digunakan dalam perang.
Meskipun demikian, CWC memperbolehkan masing-masing negara untuk menggunakan gas air mata dalam situasi tertentu seperti mencegah kerusuhan di dalam negeri.

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
