
Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia Volker Turk berbicara saat konferensi pers di Amman, Yordania, (10/11). (REUTERS/Alaa Al Sukhni)
JawaPos.com – Serangan Israel yang membabi buta tampaknya tak hanya menyebabkan tewasnya penduduk sipil, namun juga para staf PBB yang tinggal di Gaza.
Menurut badan pengungsi Palestina PBB (UNRWA), lebih dari 100 pekerja bantuan PBB tewas sejak perang Israel-Hamas dimulai di Gaza.
“Bagi PBB Ini menjadi konflik paling mematikan dalam sejarah. Para staf terbunuh saat mengantri untuk mendapatkan roti, sementara yang lainnya tewas di rumah mereka” kata pihak UNRWA
Israel melancarkan serangan udara dan darat secara terus menerus tanpa pandang bulu untuk melawan pejuang Hamas di daerah yang padat penduduk.
Serangan tersebut mendapat kecaman dari seluruh dunia, bahkan PBB. Namun, Mereka mengklaim serangan tersebut merupakan tanggapan Israel terhadap serangan lintas batas yang dilakukan Hamas pada 7 Oktober lalu.
Dilansir JawaPos.com dari Reuters, Sabtu (11/11), melalui postingan di platform media sosial X, Philippe Lazzarini selaku Komisaris Jenderal UNRWA menyatakan bahwa mereka sangat hancur atas tragedi ini.
"Hancur. Lebih dari 100 rekan UNRWA dipastikan tewas dalam 1 bulan. Orang tua, guru, perawat, dokter, hingga staf pendukung. UNRWA berduka, warga Palestina berduka, Israel berduka. Akhiri tragedi ini sekarang" tulisnya
Baca Juga: Nestapa Anak-anak di Gaza, Dihujani Bom, Diintai Kelaparan, Dehidrasi, hingga Ancaman Penyakit
Direktur Komunikasi UNRWA, Juliette Touma menyatakan bahwa mereka yang bekerja untuk PBB telah mewakili apa yang sedang terjadi pada masyarakat Gaza. Ia juga mengungkapkan bahwa semua warga di Jalur Gaza seharusnya tidak dibunuh secara tragis seperti ini.
Menanggapi hal ini, badan global menyuruh seluruh staf PBB di seluruh dunia untuk mengheningkan cipta selama satu menit dan bendera akan dikibarkan setengah tiang pada hari Senin.
Sebelumnya, ada beberapa konflik mematikan yang terjadi kepada para pekerja bantuan PBB. Di antaranya yang terjadi di Nigeria pada tahun 2011. Konflik tersebut menewaskan 46 staf saat seseorang melakukan bom bunuh diri di kantor PBB yang ada di Ibu Kota Abuja.
Kemudian, Konflik Sudan Selatan yang sedang berlangsung juga telah menewaskan 33 staf PBB, sementara 33 lainnya tewas di Afghanistan pada tahun 2009 ketika pasukan AS memerangi Taliban.
Berdasarkan hukum humaniter internasional, seharusnya para pekerja bantuan PBB mendapatkan perlindungan, namun para ahli menyebutkan hanya sedikit Presiden yang membuat kasus-kasus itu sampai ke pengadilan.
Dalam peraturan staf PBB tertulis bahwa, karyawan berhak mendapatkan kompensasi jika meninggal, termasuk sejumlah biaya pemakaman dan pembayaran tahunan untuk keluarga.
Namun, hal ini menjadi masalah bagi UNRWA yang mempunyai masalah keuangan bahkan sebelum krisis ini terjadi.

104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
8 Spot Kuliner di Kota Tua Surabaya, Makan Enak dengan Suasana Vintage dan Pemandangan yang Memanjakan Mata!
Mariano Peralta Merapat ke Persija Jakarta? Manajer Borneo FC Langsung Buka Suara
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
