
Para jemaat di halaman Gereja Saint Porphyrius di lingkungan Zeitoun di Kota Tua Gaza menyalakan lilin saat berdoa.
JawaPos.com - Ketika Israel terus menghantam Gaza untuk menyerang militan Hams melalui serangan darat dan udara, ribuan rumah warga telah hancur lebur. Tak hanya itu sekolah, masjid, gereja, rumah sakit, bahkan tempat pengungsian ikut menjadi target serangan Israel.
Gereja tertua di jalur Gaza, Saint Porphyrius, yang dijadikan tempat perlindungan bagi warga Palestina, baik umat Kristen maupun umat Islam menjadi sasaran Israel. Serangan mematikan itu kemudian menyoroti minoritas Kristen di wilayah kantong tersebut.
Di Gaza, nyatanya tak hanya umat Muslim yang menderita, namun juga umat Kristen. Hal ini menunjukkan masih adanya umat Kristen di Gaza, yang sebelumnya diketahui bahwa pemeluk Kristen di wilayah itu menyusut beberapa tahun terakhir akibat pendudukan Israel.
Puluhan tahun umat Kristen di Gaza mengalami penindasan. Sama seperti umat Muslim, umat Kristen juga sering mendapat larangan ketika hendak merayakan hari raya dan menjalankan ibadah.
Dilansir Al Jazeera, blokade Israel membuat beberapa umat Kristen putus asa hingga akhirnya mulai memutuskan untuk meninggalkan Palestina. Tercatat dari tahun 2007 hingga saat ini populasi umat Kristen telah berkurang sebanyak 2.000 orang, dan hanya menyisakan sekitar 1.000 orang.
Sementara, sebagian umat Kristen yang bertahan di sana mengatakan belum mau meninggalkan kota yang terkepung (Gaza) karena wilayah tersebut diklaim kaya akan warisan Kristen zaman dahulu. Sebagai informasi bahwa tanah Palestina merupakan tanah suci bagi tiga agama Abraham atau Ibrahim yaitu Islam, Kristen, dan Yahudi.
Menurut Kamel Ayyad seorang juru bicara Gereja Saint Porphyrius, mayoritas umatnya berasal dari Gaza. Sisanya melarikan diri setelah pembentukan negara Israel, yang menyebabkan sekitar 700.000 warga Palestina mengungsi di sebuah peristiwa yang mereka sebut sebagai Nakba atau “bencana”.
“Blokade Israel membuat semua warga sangat sulit hidup di Gaza. Banyak orang Kristen berangkat ke Tepi Barat, ke Amerika, Kanada atau dunia Arab untuk mencari pendidikan dan kesehatan yang lebih baik,” ujar Kamel.
Meski sebagian besar umat Kristen di Gaza menganut agama Kristen Ortodoks Yunani, sejumlah warga juga beribadah di Gereja Keluarga Kudus Katolik dan Gereja Baptis Gaza.
Ada ketidakstabilan dalam komunitas Kristen di Gaza, karena banyak keluarga yang terdiri dari anggota denominasi berbeda. Seperti seorang warga bernama Fadi Salfiti, yang keluarganya melarikan diri dari Nablus ke Gaza pada tahun 1948, Ia menghadiri semua gereja baik gereja Ortodoks, Protestan, maupun Katolik.
“Pada hari Minggu pagi kami pergi ke gereja Ortodoks, sore hari kami pergi ke gereja Katolik, dan malam hari kami pergi ke gereja Protestan,” ujarnya.
Menurut sejarah, warisan Kekristenan di Gaza sudah ada sejak masa ketika agama tersebut masih merupakan sekte teraniaya yang menjanjikan keselamatan bagi mereka yang tertindas. Dalam Alkitab, umat Kristen dikatakan bahwa setelah penyaliban Yesus Kristus, Rasul Filipus melakukan perjalanan menyusuri jalan gurun dari Yerusalem ke Gaza untuk menyebarkan ajaran Tuhan.
Pada abad ke-5, Gereja Saint Porphyrius didirikan setelah kematian uskup yang mengubah orang-orang kafir di kota itu menjadi Kristen, dan mulai membakar berhala dan kuil. Gereja yang dibom oleh Israel itu merupakan gereja tertua di daerah kantong (Gaza).
Dalam sejarahnya, gereja tersebut sempat diubah menjadi masjid setelah penaklukan Persia pada abad ke-7. Namun, kembali dijadikan gereja oleh Tentara Salib pada abad ke-12.
Umat Kristen yang berjumlah 50.000 orang di seluruh wilayah pendudukan Palestina, kadang-kadang disebut sebagai 'batu hidup'. Ini merupakan sebuah metafora yang pertama kali digunakan oleh Rasul Petrus, mantan pelayan yang dipanggil menjadi murid Yesus, untuk menggambarkan peran orang-orang beriman dalam pembangunan rumah rohani Tuhan.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
