Menurut otoritas Bencana Nasional Afghanistan, ini merupakan salah satu
gempa bumi paling dahsyat, yang melanda negara ini dalam dua dekade terakhir.
Gempa berkekuatan 6.3 skala richter yang diikuti oleh gempa susulan yang tidak kalah kuat, sehingga menewaskan puluhan orang di Afghanistan Barat pada hari Sabtu (7/10).
Namun juru bicara Kementerian Informasi dan Kebudayaan Afghanistan, Abdul Wahid Rayan mengatakan, bahwa jumlah
korban tewas akibat gempa bumi di Herat lebih tinggi daripada yang dilaporkan sebelumnya.
Sekitar enam desa telah hancur, dan ratusan warga sipil terkubur di bawah reruntuhan, katanya seraya meminta bantuan sesegera mungkin.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Sabtu malam (7/10) membagikan data sementara, dimana sebanyak 320 orang tewas. Namun kemudian PBB mengatakan bahwa angka tersebut masih perlu diverifikasi.
Pihak berwenang setempat memberikan perkiraan 100 orang tewas dan 500 lainnya luka-luka, menurut informasi terbaru dari Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB.
Informasi terbaru mengatakan, bahwa 465 rumah telah dilaporkan hancur dan 135 lainnya rusak.
"Para mitra dan pihak berwenang setempat mengantisipasi jumlah korban akan meningkat, seiring dengan upaya pencarian dan penyelamatan yang terus berlanjut."
"Serta ditengah banyak laporan, bahwa beberapa orang mungkin terjebak di bawah bangunan yang runtuh," ujar PBB.
Juru bicara otoritas bencana Mohammad Abdullah Jan mengatakan, empat desa di distrik Zenda Jan di provinsi Herat mengalami dampak paling parah dari gempa dan gempa susulan.
Survei Geologi Amerika Serikat mengatakan, bahwa pusat gempa berada sekitar 25 mil barat laut kota Herat.
Gempa ini diikuti oleh tiga gempa susulan yang sangat kuat, dengan kekuatan 6.3, 5.9 dan 5.5 skala richter, serta guncangan yang lebih kecil.
Setidaknya lima kali gempa kuat melanda kota itu sekitar tengah hari, kata penduduk kota Herat, Abdul Shakor Samadi.
"Semua orang keluar dari rumah. rumah, kantor, dan toko-toko semuanya kosong dan ada kekhawatiran akan adanya gempa susulan. Saya dan keluarga saya sedang berada di dalam rumah, saya merasakan gempa," jelas Samadi.
Organisasi Kesehatan Dunia di Afghanistan mengatakan, bahwa mereka mengirimkan 12 mobil ambulans ke Zenda Jan untuk mengevakuasi para korban ke rumah sakit.
"Seiring dengan bertambahnya laporan korban jiwa dan luka-luka akibat gempa bumi, para tim berada di rumah sakit membantu perawatan korban luka-luka dan menilai mereka membutuhkan kebutuhan tambahan."
"Ambulans yang disokong WHO untuk mengangkut mereka yang terkena dampak, kebanyakan adalah wanita dan anak-anak," kata badan PBB tersebut melalui media sosial X, yang sebelumnya bernama Twitter.
Di Herat, sambungan telepon terputus sehingga sulit untuk mendapatkan rincian dari daerah yang terkena dampak. Tetapi video di media sosial menunjukkan, ratusan orang berada di jalan-jalan di luar rumah dan kantor mereka di kota Herat.
Provinsi Herat berbatasan dengan Iran. Gempa juga dirasakan di provinsi Farah dan Badghis, yang berdekatan menurut laporan media lokal, seperti yang dikutip oleh New York Post.
***