Khilma Anis, penulis Novel Hati Suhita, alumnus Ponpes Tambak Beras dan Krapyak Jogjakarta,
JawaPos.com- Hati Suhita menjadi salah satu film Indonesia dengan jumlah penonton terbanyak. Masuk 15 film terlaris sepanjang 2023. Selain merambah gedung bioskop, juga tayang di Netflix dan Series. Nah, sosok di balik kesuksesan film itu adalah Khilma Anis. Perempuan 37 tahun alumnus Pondok Pesantren (Ponpes) Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.
Secara singkat, Hati Suhita berkisah tentang perjodohan di lingkungan pesantren. Menampilkan konfilk percintaan segitiga, menguras emosi dan mengharukan. Beberapa pemainnya antara lain Omar Daniel (Gus Birru), Nadya Arina Ratna (Alina Suhita), Anggika Bolsterli (Rengganis), David Chalik (Abah Gus Birru), dan Desy Ratnasari (Ibu Gus Birru)
Kini, mama Khilma pun kini semakin populer. Banyak mendapat undangan untuk berbagi inspirasi. Dari satu tempat ke tampat lain. Dari kampus ke kampus lain. Film Hati Suhita berawal dari novel yang ditulis perempuan asal Jember tersebut. Ia sungguh tidak menyangka, ternyata novel sederhana itu meledak. Banyak pembaca yang menyukai.
Khilma memulai hobi menulis sejak di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Tambakberas. Dia berkegiatan di OSIS. Menjadi redaktur majalah sekolah. Lalu, saat berkuliah, Khilma juga istiqamah aktif di lembaga pers mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Jogjakarta.
“Di proses itu, saya ternyata punya kesadaran bahwa saya lebih senang di dunia sastra,” katanya ditemui Jawa Pos seusai mengisi kegiatan di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya.
Novel pertama berjudul Jadilah Purnamaku, saat Khilma semester tiga. Lalu, dia lebih banyak menulis cerpen di media-media. Setelah itu, lahirlah novel Wigati dan Hati Suhita. “Film Hati Suhita itu lebih bagus daripada bukunya. Sekarang mulai dikerjakan filmnya untuk novel kedua berjudul Wigati,” ujarnya.
Ketika produksi film Hati Suhita, Khilma terlibat penuh. Produser dan sutradara terus berdiskusi dengannya. “Saya juga melibatkan suami saya untuk mengisi suara ketika prosesi akad nikah di film tersebut. Saya ingin seperti di pesantren secara riil, lafaznya harus sesuai,” ungkap istri dari Gus Chazyal Mazda Choirozyad itu.
Khilma mengaku, butuh waktu lama untuk melahirkan karya baru. Setiap ingin menulis harus riset. Membaca banyak buku agar bahannya kuat. Novel Wigati, misalnya. Karya sastra yang deep, kental dengan budaya, dan mistis, itu memerlukan waktu sampai empat tahun. ’’Kalau Hati Suhita, menulisnya tujuh bulan,” imbuhnya.
Khilma terbilang idealis. Saking idealisnya, sejauh ini Khilma belum menulis karya baru. Dia ingin menuntaskan Hati Suhita dalam film, Netflix, dan series lebih dulu. Setelah itu, baru memikirkan untuk “progam hamil” keempat. “Itu sebabnya saya dianggap kurang produktif. Semestinya, ketika ada karya yang meledak, momennya bisa dimanfaatkan untuk menulis lagi. Saya tidak menghitung kuantitas, tapi kualitas,” akunya.
Berkahnya lagi, dari Hati Suhita kini terlahir Omah Suhita. Khilma berkarya dalam wujud lain. Yakni, jilbab, mukena, tas, dan sarung bertema budaya. Usaha itu setelah Hati Suhita booming. Ternyata, banyak yang memanfaatkan Suhita untuk kepentingan bisnis pribadi. Misalnya, mereka membuat hijab dan gamis dengan brand Suhita. Dia merasa, penggunaan Suhita dalam bisnis semakin tidak terkendali.
Baca Juga: Dari Pondok Pesantren Asal Malang, Produk Minuman Kopi Ini Sukses Merambah Pasar Mancanegara
“Karena itu, saya mulai berfikir bahwa Suhita identik dengan saya, saya identik dengan Suhita. Saya pun mematenkan hak nama Suhita. Kini, saya buat merek Suhita untuk bisnis fashion,” katanya.
Fashion produksi Omah Suhita bertema budaya seperti wayang, Majapahit, gunungan, sejarah rempah, gamelan hingga wedangan. Dia menganggap ada nilai seni di baliknya. ’’Saya tidak ingin membuat jilbab hanya sekadar selembar jilbab tanpa makna. Jilbab yang dilahirkan Suhita harus bernilai budaya atau tradisi,” jelasnya.
Kala peluncuran pertama, jilbab Suhita langsung terjual sebanyak 1.000 pcs. Karena itu, Khilma tidak hanya memikirkan riset untuk membuat novel baru. Tapi, juga untuk produk fashion tersebut. Sebab, salah satu tantangan mengusung tema budaya adalah memasukkan ke modernitas. ’’Jangan sampai orang tidak mau memakai. Jadi, saya juga masih perlu belajar banyak soal desain agar anak-anak muda mau pakai,” terangnya.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
18 Oleh-Oleh Khas Tulungagung Ini Wajib Dibeli Jika Berkunjung, dari Kuliner hingga Kerajinan Tradisional
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
