
Pramoedya Ananta Toer. (gusdurian)
JawaPos.com–Siapa yang tidak kenal dengan film Bumi Manusia. Menarik lebih dari 1,3 juta penonton yang menjadikannya salah satu film terlaris sepanjang 2019.
Film Bumi Manusia tayang di bioskop serentak pada 15 Agustus 2019, sebelum hari kemerdekaan. Penayangan di tanggal tersebut dipilih karena waktu yang sangat pas menunjukkan kisahnya yang sangat relevan dengan perjuangan bangsa Indonesia untuk melawan penjajah kolonial.
Film Bumi Manusia adalah adaptasi dari novel legendaris karya Pramoedya Ananta Toer. Pram dikenal sebagai penulis yang berani dalam karyanya. Kerap menyuarakan kritik terhadap penjajahan sekaligus menghadirkan sisi kemanusiaan dalam setiap novel.
Pada 6 Februari 2025, peringatan 100 tahun kelahirannya menjadi sorotan dan virla di berbagai media sosial seperti X dan Instagram.
Mengutip dari ensiklopedia.kemdikbud.go.id berikut adalah rangkuman fakta menarik tentang sang novelis legendaris, Pramoedya Ananta Toer.
Nama asli Pramoedya Ananta Toer
Pramoedya Ananta Toer lahir di Blora 6 Februari 1925 dan wafat pada 30 April 2006 di Jakarta. Pram adalah putra seorang guru. Ayahnya bertugas di Hukum Islam Sekolah (HIS) Rembang dan di sekolah swasta Boedi Oetomo, sedangkan ibunya adalah anak penghulu di Rembang.
Nama asli Pramoedya Ananta Toer sebenarnya adalah Pramoedya Ananta Mastoer seperti yang tertulis pada cerita pendek semi-otobiografinya Cerita dari Blora. Pram merasa bahwa nama keluarga Mastoer terdengar terlalu bangsawan, lantas memutuskan menghapus awalan Mas dan memilih Toer sebagai nama belakangnya.
Dedikasi tinggi terhadap pendidikan
Pramoedya Ananta Toer menempuh pendidikan dasar di Institut Boedi Oetomo di Blora, kemudian melanjutkan pada sekolah teknik radio di surabaya. Setelah itu bekerja di kantor berita di Domei.
Meskipun sibuk bekerja Pram tetap melanjutkan pendidikan dengan bersekolah di taman siswa, mengikuti kursus stenografi, dan bahkan menempuh kuliah di Sekolah Tinggi Islam Jakarta dengan mengambil mata kuliah Filsafat, Sosiologi, dan sejarah.
Dia pernah menjadi redaktur di balai pustaka pada 1950-1951. Kemudian pada 1952 Pram mendirikan dan memimpin Literary dan Features Agency Duta. Selain itu, Pram juga mengajar sebagai dosen akademi jurnalistik di fakultas Sastra Universitas Res Publika Jakarta.
Sempat menjadi prajurit
Pramoedya pernah menjadi prajurit resmi TKR pada 1946. Dirinya mendapatkan gelar Letnan II yang ditempatkan di Cikampek.

Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Pemerintah Cabut Izin 2.231 Pengecer dan Distributor Pupuk Subsidi yang Rugikan Petani
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Rekomendasi 13 Wisata Terbaik di Bandung untuk Liburan Santai, Healing, dan Quality Time Bersama Orang Tersayang
Abu Janda Dilaporkan ke Polisi Oleh Ikatan Keluarga Minang Hari Ini, Buntut Sebut Sumbar 'Barbar' dan Intoleran
Orang yang Semakin Cantik Secara Fisik Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengadopsi 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi
Sebut Sumbar 'Barbar' dan Kristen Fobia, DPP IKM Siap Laporkan Abu Janda ke Mabes Polri Selasa Besok!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
9 Mall Terbaik di Semarang, Selalu Jadi Andalan Wisatawan Saat Liburan Cari Hiburan
