
Jerhemy Owen. (Abdul Rahman/ JawaPos.com)
JawaPos.com - Bagi mayoritas masyarakat, nama Sururi mungkin tidak terlalu familiar karena sosoknya memang jarang disorot secara luas. Namanya baru muncul dalam beberapa pemberitaan media beberapa tahun belakangan.
Nama Sururi mencuat ke publik dan mendapat atensi setelah mendapat penghargaan Kalpataru 2024 untuk kategori Perintis Lingkungan dari Presiden Jokowi beberapa waktu lalu. Dia dianggap sebagai pahlawan lingkungan karena hidupnya diabdikan untuk lingkungan di dekat rumah dan berfokus menanam mangrove hingga kini berhasil menjadi hutan mangrove terbesar di Semarang, Jawa Tengah.
Sururi berhasil menyelamatkan rumahnya dan rumah warga sekitar dari bahaya air laut. Dulunya air laut hanya sekitar 600 meter dari rumahnya, kini sudah lebih dari 2 kilometer.
Kreator Konten peduli lingkungan Jerhemy Owen sangat salut dengan sosok Sururi. Dia angkat jempol untuk Sururi. Menurut dia, Sururi bekerja secara ikhlas untuk menyelamatkan lingkungan selama 30 tahun tanpa mengharapkan apresiasi dan penghargaan.
"Sebenarnya saya minder dekat Pak Sururi sama Prof Sudharto Prawata Hadi. Sejujurnya saya bukan jadi narasumber. Harusnya saya yang belajar sama beliau-beliau," ujar Jerhemy Owen dalam acara lokakarya Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) di Mangkang, Semarang, Rabu (24/7).
Sururi, Pahlawan Lingkungan asal Mangkang, Semarang, Jawa Tengah. (Abdul Rahman/JawaPos.com)
Mahasiswa Ilmu Lingkungan di Avans University of Applied Sciences, Breda, Belanda itu menilai, apa yang dikakukan Sururi dengan mendapat pendampingan langsung dari Prof. Sudharto Prawata Hadi, pakar lingkungan Universitas Diponegoro (UNDIP), dengan menanam mangrove sudah sangat tepat dan hasilnya kini dapat dilihat secara nyata di Mangkang.
"Mangrove punya banyak manfaat bisa menghindari abrasi. Kata Pak Sururi dulu hanya sekitar 600 meter, sekarang 2 kilo lebih. Nggak mungkin lagi ada isu tenggelam. Salut banget sama Pak Sururi," ujar Jerhemy Owen di hadapan para mahasiswa dari sejumlah universitas di Semarang.
Dia juga mengungkapkan, mangrove juga bisa menjadi habitat untuk ikan, kepiting, dan yang lainnya. Keberedaan mangrove otomatis mempermudah para nelayan untuk melakukan mata pencaharian mereka. "Dan penyerapan karbon emisi mangrove paling besar dibandingkan dengan tanaman lain," jelasnya.
Selain berdiskusi dengan puluhan mahasiswa, Jerhemy Owen juga ikut terjun langsung melakukan penanaman 3 ribu bibit mangrove di Mangkang. Dia mengaku senang bisa terlibat dalam aksi nyata ini menyelamatkan lingkungan. "Ini yang ke- 3 kalinya. Pernah di IKN, di PIK dan di sini," kata Jerhemy Owen.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
