
Vonny Aprianty, mengajar santriwati tunarungu membaca Alquran dengan isyarat tangan. (Hanung Hambara/JawaPos)
JawaPos.com–Sebagai lulusan terbaik Prodi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Institut Ilmu Alquran (IIQ) Jakarta 2021, Vonny Aprianty memilih menjadi guru Alquran bagi anak-anak spesial. Seluruh santrinya adalah difabel tunarungu.
Suasana Pesantren Tahfiz Difabel KH Lutfi Fathullah begitu tenang dan nyaman. Para santri menjalani rutinitas di kelas masing-masing. Ada yang belajar di pendopo, ada pula yang di ruang kelas.
Para santri sibuk dengan hafalan Alquran masing-masing. Jemari mereka lincah mengisyaratkan bacaan tiap ayat tanpa perlu lagi membuka kitab suci. Satu per satu santri maju ke hadapan Vonny, sang ustazah, untuk menyetorkan hafalan.
Sementara itu, santri lain murajaah atau mengulang hafalan sendiri sebelum disetorkan. Itu adalah bagian dari pelajaran tahfiz yang diampu Vonny selain sirah nabawiyah.
Di kelas tahfiz, dia mengajarkan Alquran menggunakan bahasa isyarat. Metode yang sama sekali berbeda dengan pendidikan yang dia jalani di kampus. Vonny mulai mengajar sejak 2021, tidak lama setelah menjadi sarjana dari kampus IIQ Jakarta.
Di tengah studi master Alquran dan tafsir yang dijalani, Vonny mengikuti program magang yang diadakan BAZIS DKI Jakarta. Yakni, menjadi guru di pesantren tahfiz khusus difabel.
’’Melihat latar belakang pendidikan yang didasari Alquran, saya merasa memiliki kewajiban untuk mengajarkan Alquran kepada semua umat, termasuk tunarungu,’’ ucap Vonny Aprianty.
Selama seratus hari magang, Vonny mulai belajar bahasa isyarat sekaligus membaca Alquran dengan bahasa isyarat. Sebab, kemampuan itu menjadi modal penting untuk mengajar.
Dalam membaca Alquran dengan bahasa isyarat, setiap huruf Hijaiah dibacakan menggunakan isyarat tangan.
’’Jadi, saat magang, kami langsung terjun untuk ikut kegiatan belajar-mengajar. Dan, kami juga belajar bahasa isyarat,’’ lanjut Vonny Aprianty, perempuan asal Serang, Banten, itu.
Vonny merupakan seorang hafizah atau penghafal Alquran. Dia menghafalkan 30 juz selama empat tahun kuliah di IIQ Jakarta. ’’Waktu di pondok, ada tahfiz Quran, tapi hanya hafal dua juz. Jadi, di kampus, mulai dari nol lagi menghafal,’’ ucap Vonny Aprianty, perempuan yang berulang tahun setiap 18 April tersebut.
Saat mengajar, Vonny tidak sekadar mendidik para santri untuk hafal Alquran. Dia juga berperan sebagai pemberi motivasi bagi para santri.
Para santriwati selalu diingatkan untuk tidur tepat waktu. Kemudian, memperbanyak doa dan istigfar ketika menjalani rangkaian salat. Tidak ketinggalan berbuat baik kepada sesama. Itu menjadi kunci agar mudah paham ketika belajar.
’’Saat ini ada (santri) yang sudah hafal satu juz, juz 30. Sisanya masih beberapa surah saja,’’ ungkap Vonny Aprianty.
Dia mengakui tidak mudah mengajar santri difabel. Umumnya mereka mempunyai rasa cemburu yang tinggi. Jika merasa ada teman yang lebih diperhatikan, teman yang lain tak jarang langsung marah.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
