Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 25 Agustus 2018 | 00.10 WIB

Toa dan Alat Bantu Dengar

Toa menjadi awal kasus yang menyeret Meiliana ke penjara. (pixabay) - Image

Toa menjadi awal kasus yang menyeret Meiliana ke penjara. (pixabay)


Saya, saya yakin juga Anda, kita, akan mudah menitikkan air mata jika diajak berdoa dalam kekhusyukan suara imam yang teduh, lembut, lirih. Juga, begitu mudah sanubari tergetar mendengar ayat suci Alquran, azan, salawat, dan puji-pujian lain ketika dilantunkan dengan kebeningan hati dan keindahan tata suara. Terasa benar betapa rapuh kalbu ini dan serasa memohon dipeluk langsung oleh Allah Yang Maha Lembut.


Izinkan saya menebak-nebak, Meiliana juga menginginkan itu. Dalam konteks dakwah, saya berharap umat muslim tidak lagi menyebut orang-orang yang beragama dan berkeyakinan berbeda sebagai nonmuslim.


Tak hanya karena saya tak mau disebut non-Kristen, non-Katolik, non-Hindu, non-Buddha, atau non-Khonghucu. Namun, lebih dari itu saya mengajak mari menyebut mereka calon muslim. Terasa ada doa di dalamnya.


Jika memang agama adalah kebenaran, mari kita berhenti saling menyalahkan. Apalagi, Islam adalah agama rahmatan lil 'alamin, anugerah bagi siapa pun, di mana pun, kapan pun, dan bagaimana pun keadaannya.


Tidak hanya untuk muslimin, tapi untuk seluruh makhluk Allah, bahkan yang belum beriman kepada-Nya. Sebab, sesungguhnya setiap insan memiliki hak dan kerinduan yang sama untuk memperoleh hidayah Allah.


Untuk dapat menerima keberagaman dalam keberagamaan, dibutuhkan kecerdasan spiritual yang bertumbuh dengan baik. Terlebih di Indonesia, tanah pusaka yang ditinggali ratusan, bahkan ribuan suku bangsa dengan keanekaragaman bahasa, tradisi, dan keyakinan.


Pelan tapi pasti, sebagian dari kita mengeraskan tidak hanya suara, namun juga hati kita. Padahal, Rasulullah SAW meneladankan kelembutan hati dalam menyempurnakan akhlak yang mulia.


Tentu, kita selayaknya berterima kasih kepada siapa pun, terutama muazin, yang telah mengingatkan tibanya waktu salat. Tiba waktu beribadah, berserah kepada Allah. Sebab, itulah saat belajar kita untuk menjadi muslim yang hakiki.


Sekarang, tinggal bagaimana sama-sama kita belajar mengelola hati. Let the loud speaker speaks loud inside, lantangkanlah kata hati kita di dalam hati kita untuk menzikirkan keagungan Allah. Allahu Akbar, Maha Besar Allah. Gemuruh dalam jiwa menggerakkan raga kita untuk bersujud kepada-Nya. Lebih dari sekadar toa, pengeras suara, kita membutuhkan alat bantu dengar. Untuk mendengar kata hati kita sendiri.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore