
Toa menjadi awal kasus yang menyeret Meiliana ke penjara. (pixabay)
Saya, saya yakin juga Anda, kita, akan mudah menitikkan air mata jika diajak berdoa dalam kekhusyukan suara imam yang teduh, lembut, lirih. Juga, begitu mudah sanubari tergetar mendengar ayat suci Alquran, azan, salawat, dan puji-pujian lain ketika dilantunkan dengan kebeningan hati dan keindahan tata suara. Terasa benar betapa rapuh kalbu ini dan serasa memohon dipeluk langsung oleh Allah Yang Maha Lembut.
Izinkan saya menebak-nebak, Meiliana juga menginginkan itu. Dalam konteks dakwah, saya berharap umat muslim tidak lagi menyebut orang-orang yang beragama dan berkeyakinan berbeda sebagai nonmuslim.
Tak hanya karena saya tak mau disebut non-Kristen, non-Katolik, non-Hindu, non-Buddha, atau non-Khonghucu. Namun, lebih dari itu saya mengajak mari menyebut mereka calon muslim. Terasa ada doa di dalamnya.
Jika memang agama adalah kebenaran, mari kita berhenti saling menyalahkan. Apalagi, Islam adalah agama rahmatan lil 'alamin, anugerah bagi siapa pun, di mana pun, kapan pun, dan bagaimana pun keadaannya.
Tidak hanya untuk muslimin, tapi untuk seluruh makhluk Allah, bahkan yang belum beriman kepada-Nya. Sebab, sesungguhnya setiap insan memiliki hak dan kerinduan yang sama untuk memperoleh hidayah Allah.
Untuk dapat menerima keberagaman dalam keberagamaan, dibutuhkan kecerdasan spiritual yang bertumbuh dengan baik. Terlebih di Indonesia, tanah pusaka yang ditinggali ratusan, bahkan ribuan suku bangsa dengan keanekaragaman bahasa, tradisi, dan keyakinan.
Pelan tapi pasti, sebagian dari kita mengeraskan tidak hanya suara, namun juga hati kita. Padahal, Rasulullah SAW meneladankan kelembutan hati dalam menyempurnakan akhlak yang mulia.
Tentu, kita selayaknya berterima kasih kepada siapa pun, terutama muazin, yang telah mengingatkan tibanya waktu salat. Tiba waktu beribadah, berserah kepada Allah. Sebab, itulah saat belajar kita untuk menjadi muslim yang hakiki.
Sekarang, tinggal bagaimana sama-sama kita belajar mengelola hati. Let the loud speaker speaks loud inside, lantangkanlah kata hati kita di dalam hati kita untuk menzikirkan keagungan Allah. Allahu Akbar, Maha Besar Allah. Gemuruh dalam jiwa menggerakkan raga kita untuk bersujud kepada-Nya. Lebih dari sekadar toa, pengeras suara, kita membutuhkan alat bantu dengar. Untuk mendengar kata hati kita sendiri.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Resmi Pindah ke Bali! Derby Jawa Timur Arema FC vs Persebaya Surabaya Digelar di Stadion Kapten I Wayan Dipta
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi Sebut Ada 3 Lokasi untuk Pembangunan Koperasi Merah Putih
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
