
Ilustrasi Beras. Indonesia Food Watch mempertanyakan kebijakan impor beras yang dikeluarkan Menteri Perdagangan
JawaPos.com - Kebijakan impor beras yang dilakukan Kementerian Perdagangan (Kemendag) dinilai kurang tepat. Terlebih dalih yang digunakan adalah untuk stabalisasi harga.
Koordinator Nasional Indonesia Food Watch, Pri Menix Day mengatakan, harga beras hingga saat ini selama Ramadan terpantau stabil. Bahkan sampai dengan Lebaran dipastikan tidak mengalami kenaikan.
"Malah turun. Artinya kebijakan Mendag tak tepat," kata Menix kepada JawaPos.com, Minggu (11/6).
Dijelaskan Menix, stabilnya harga beras tersebut bisa dilihat dari data BPS. Bulan Mei 2018, harga rata-rata beras kualitas premium di penggilingan turun sebesar 0,01%, sedangkan kualitas medium turun 0,33%.
Sementara harga rata-rata beras kualitas premium di tingkat penggilingan, turun sebesar 0,01% menjadi sebesar Rp 9.524 per kilogram dari bulan sebelumnya.
Adapun harga beras kualitas medium juga turun 0,33% menjadi Rp 9.190 per kilogram dari bulan sebelumnya.
"Sementara rata-rata harga beras kualitas rendah masih bertahan di kisaran Rp 9.002 per kilogram atau naik sebesar 0,11% di tingkat penggilingan,” jelasnya.
Di sisi lain, sambung Menix, melansir data Bulog per 7 Juni 2018, stok beras Bulog mencapai 1,52 juta ton dengan rincian 1,37 ton cadangan beras pemerintah (CBP) dan 144 ribu ton beras komersial. Adapun total penyerapan dalam negeri telah mencapai 914 ribu ton.
“Realisasi impor beras per 28 Mei 2018 jumlahnya telah sebesar 561 ribu ton. Seharusnya ini tidak perlu terjadi. Di sini lah ada anomali yang membuktikan kebijakan impor beras oleh Mendag itu keliru alias gagal paham,” terangnya.
Dengan begitu Menix menilai apa yang disampaikan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman bahwa harga pangan selama Ramadan stabil karena sudah dua hingga tiga bulan disiapkan stok mencapai 20 persen adalah benar.
Peran Satgas Pangan Mabes Polri pun berjalan sesuai harapan, yakni benar-benar mewaspadai atau memonitor beras setiap hari.
“Kami Indonesia Food Watch pun akan turut andil secara sukarela memantau permainan mafia beras. Kami dukung sikap tegas Menteri Amran dan Dirut Bulog, Budi Waseso dan Kapolri yang berkomitmen melindungi petani dan konsumen dari serangan beras impor,” ucapnya.
Terpisah, Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Nasional, Winarno Tohir menegaskan produksi pangan saat ini seperti padi melimpah. Namun, masuknya beras impor menyebabkan harga gabah petani saat ini turun, bulan Mei Rp 5.000 per kg sekarang Juni turun Rp 4.600 per kg.
“Jadi kebijakan Kementerian Perdagangan menganulir kinerja Kementerian Pertanian. Produksi naik jadi tidak ada artinya karena impor masuk,” tegasnya.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
