Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 20 September 2025 | 01.45 WIB

Berkenalan dengan Kidung Gregorian: Nyanyian Sakral Berbahasa Latin yang Bisa Ditemui di Gereja Katolik

Ilustrasi paduan suara (Dok. Freepik) - Image

Ilustrasi paduan suara (Dok. Freepik)

JawaPos.com - Beberapa agama melaksanakan ibadah mereka diiringi oleh lagu-lagu rohani yang telah dipilih sesuai dengan tema renungan ibadah. Pada beberapa lagu, ditemukan adanya sejarah panjang yang juga menjelaskan peran mereka terhadap agama. Begitu pula Gereja Katolik yang memiliki Kidung Gregorian, kumpulan lagu berbahasa Latin yang memiliki peran besar dalam nyanyian gereja.

Kidung Gregorian

Dilansir dari Catholic Magazine, Kidung Gregorian adalah musik yang monodis, diatonis, serta memiliki ritme bebas. Kidung Gregorian dinyanyikan hanya dengan satu melodi saja (monodis). Kidung ini hanya menggunakan skala diatonis yang dibentuk dari rangkaian suara alami, serta hanya satu tanda aksidental B flat.

Kidung Gregorian juga bukan musik yang tonal, tapi modal. Yang berarti urutan nada dan semitone dalam skala bentuk tertentu. Not-not pada Kidung Gregorian tidak memiliki ukuran yang absolut. Inti fundamental mereka terletak pada apa yang kita sebut birama sederhana atau silabis.

Pada intinya, Kidung Gregorian adalah kidung liturgi resmi Gereja Katolik, dalam ritus Latin dan digunakan secara publik untuk memuji Tuhan serta untuk memperoleh pengudusan umat beriman.

Sejarah

Dilansir dari St Cecilia’s Abbey, untuk mengetahui akar dari kidung ini, kita perlu menggali sejarah Yahudi. Ini karena generasi pertama orang Kristen adalah orang Yahudi. Sesuai dengan kebiasaan nenek moyang mereka, ibadah Kristen dilaksanakan dengan membaca Alkitab dan menyanyikan mazmur, seperti yang tercatat di Kisah Para Rasul 3. Maka dari itu, Ekaristi juga berakar dari adat dan pemikiran Yahudi dengan adanya pembacaan ayat-ayat dari Perjanjian Lama, nyanyian mazmur, dan doksologi.

Pada pertengahan abad pertama, Santo Paulus pergi ke Roma dan membawakan melodi-melodi Yahudi ke dalam komunitas Kristen. Lagu-lagu tersebut perlahan-lahan diadaptasi ke agama baru mereka. Kemudian, pada abad kedua dan ketiga, Gereja-gereja di Roma juga mulai mengadopsi budaya dan ritual dari Suriah, Asia Minor, Bizantium, dan Yunani. Pada saat yang sama, lagu-lagu tersebut diterjemahkan ke bahasa-bahasa lokal.

Dengan berhentinya persekusi dan pengakuan Kristen sebagai agama, gereja-gereja mulai menciptakan lagu-lagu mereka sendiri. Dengan berbekal Kitab Suci, sistem modal, puisi, dan lirik Gereja Roma, mereka menciptakan Kidung Roma Kuno.

Kemudian pada abad keenam, Paus Gregorius menduduki kursi kepausan. Beliau terkenal karena menciptakan banyak lagu, dan tugas utamanya adalah memperbarui serta menyempurnakan kidung-kidung yang sudah ada. Paus Gregorius juga mendirikan Schola Cantorum untuk melatih banyak orang mengenai gaya lagu-lagu sakral ini, yang kemudian disebarkan melalui misi misionaris mereka.

Pada pertengahan abad kedelapan, kidung ini memasuki Gaul atas permintaan Raja Pippin III dari Kekaisaran Karoling, yang ingin menggantikan nyanyian Galia. Namun, yang terjadi justru terciptanya perpaduan antara Kidung Roma dan Galia. Repertoar Romawi masih digunakan melalui teks, gaya, dan struktur modalnya, sementara nyanyian Galia ada untuk menghiasinya. Hasil dari perpaduan ini adalah yang kita sebut Nyanyian Franco-Romawi. Seabad kemudian, nyanyian-nyanyian tersebut diberi nama Gregorian untuk menghormati Paus Gregorius.

Makna

Dilansir dari Tan Direction, musik sakral dan himne liturgis ini adalah doa dalam bentuk nyanyian di mana umat dapat melatih pikiran dan hati mereka. Dalam tradisi Katolik, kesederhanaan, kesungguhan, dan kemuliaan selalu menjadi ciri khas musik sakral yang dinyanyikan di tempat-tempat suci.

Alunan musik dengan nada-nada berbeda dapat membangkitkan emosi dalam para pendengarnya. Ada pula hubungan misterius antara musik dan melodi dengan aspirasi terdalam manusia. Lagu-lagu sakral dapat membangkitkan rasa muak umat Katolik terhadap hal-hal yang menyebabkan dosa di bumi, sekaligus memenuhi jiwa mereka dengan sukacita dan penghiburan.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore