
Puluhan warga Tionghoa mengikuti ritual Toa Pek Kong Naik atau Sang Sin menjelang perayaan Imlek Cap Jie Gwee 24, 2575 di Kelenteng Tay Kak Sie, Semarang, Jawa Tengah, Kamis (23/1/2025). (Nur Chamim/Jawa Pos Radar Semarang)
JawaPos.com – Perayaan Imlek dikenal sebagai hari raya bagi masyarakat Tionghoa. Di Indonesia, sejak 2003, hari raya Imlek ditetapkan sebagai hari libur nasional. Namun, apakah anda sudah tahu tentang sejarah perayaan Imlek di Indonesia?
Dikutip (27/1) dari jurnal penelitian Universitas Medan, Arifah dan Ferdiana Berikut sejarah perayaan imlek di Indonesia berdasarkan masa pemerintahan..
Dalam jurnal penelitian Universitas Medan, disebutkan bahwa bahwa orang Tionghoa masuk ke Indonesia salah satunya karena pembukaan perkebunan di Sumatera Timur pada masa penjajahan Belanda.
Saat itu, masyarakat suku Tionghoa tersebar di salah satu kota Sumatera Utara yaitu Stabat yang termasuk Kabupaten Langkat.
Orang Tionghoa saat itu dipekerjakan sebagai buruh di perkebunan tersebut karena sedang membutuhkan pekerja.
Masyarakat etnis Tionghoa kala itu sangat memegang tradisi bahwa di manapun mereka berada, ajaran Konghucu dan perayaan imlek harus tetap lestari.
Lalu, apa sih sebenarnya arti atau makna dari Konghucu yang menjadi salah satu agama di Indonesia? Konghucu pada awalnya merupakan nama dari seorang filsuf yang mengajarkan ilmu filsafat bernama ‘konfusius’
Kemudian, Konghucu ditetapkan sebagai sebuah agama yang memang tidak ada di negara lainnya. Hal itu karena pada dasarnya Konghucu merupakan ajaran mengenai moralitas dan pemerintahan masyarakat tradisional Tiongkok.
Sementara itu, tradisi perayaan Imlek sudah ada sejak pemerintahan presiden Soekarno. Kala itu, perayaan Imlek pada masa Presiden Soekarno dilakukan secara terbuka.
Namun, setelah jatuhnya masa pemerintahan Presiden Soekarno dan masuk masa Orde Baru, hari raya imlek dilakukan secara tertutup dan hanya dilakukan lingkungan internal keluarga.
Setelah masa reformasi, Presiden Abdurrahman Wahid mencabut segala larangan yang ada dan memberi kebebasan bagi masyarakat etnis Tionghoa untuk merayakan Imlek.
Nah pada tahun 2003, saat masa pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri, Imlek ditetapkan sebagai hari libur nasional.
Selanjutnya pada tahun 2006, Pemerintah Indonesia mencabut dan merevisi segala peraturan perundang-undangan yang di dalamnya masih membedakan antara etnis Tionghoa dan pribumi.

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
