
Diana Dewi, ketua umum perempuan pertama Kadin Jakarta. (Istimewa)
JawaPos.com–Setelah ibunya tiada, Diana memutuskan banting setir dari karyawan menjadi pengusaha rintisan. 26 tahun kemudian, Ketua umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jakarta itu berhasil memiliki berbagai lini bisnis.
Perjalanan spiritual di Tanah Suci pada 1995 akan terus dikenang Diana sepanjang hidup. Sebab, itulah titik balik perjalanan karirnya, dari seorang karyawan perusahaan menjadi pengusaha tulen. Ibunya ingin menunaikan ibadah haji. Pada tahun tersebut, sang ibu ingin menunaikan ibadah haji.
Saat hendak berangkat, ustad pembimbing menyarankan agar Diana menemani ibunya ke Tanah Suci. Mengingat usia sang ibu sudah di atas 60 tahun. Diana berupaya mengumpulkan uang agar bisa menemani ibunya. Namun, saat uang terkumpul, hambatan datang dari perusahaan tempatnya bekerja.
”Minus dua hari mau berangkat, saya belum diberi izin,” ujar Diana saat ditemui baru-baru ini.
Pihak perusahaan menyatakan tak akan menggaji selama beribadah haji. Padahal, perjalanan haji saat itu bisa mencapai 43 hari.
”Saat itu saya single parent. Saya punya anak satu, harus membiayai anak. Kemudian ibu saya sendiri juga diabetes,” kenang Diana.
Akhirnya, dia hanya bisa berdoa dan menyampaikan harapan untuk menunaikan ibadah haji. ”Kemudian nanti kalau pulang, bisa nggak saya tuh punya pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan saya,” lanjut Diana.
Setelah pulang dari berhaji, Diana bertahan di perusahaan demi membiayai pengobatan ibunya setiap dua pekan hingga berpulang pada 1998. Setelah sang ibu tiada, Diana memutuskan untuk berhenti dari perusahaan tempatnya bekerja. Usai keluar, perempuan kelahiran 27 Juli 1965 itu dihubungi berbagai perusahaan yang mengajak bergabung.
Dia lalu mendatangi satu per satu perusahaan tersebut. Namun, Diana tidak mau menjadi karyawan. Melainkan menjadi partner perusahaan.
Pada tahun tersebut, Indonesia masih berkutat dengan krisis moneter. Dalam krisis, Diana melihat peluang besar. Salah satunya pada suplai daging sapi yang kosong.
”Saya ke luar kota cari sapi lokal ke pasar-pasar. Pertama satu truk, paling 7 sampai dengan 9 ekor,” ucap Diana.
Kepercayaan terus tumbuh. Diana makin dipercaya untuk menyuplai produk ke berbagai perusahaan. ”Kunci orang berbisnis nomor satu kan trust,” kata dia.
Setelah 26 tahun berbisnis, Diana kini memiliki berbagai lini usaha. Mulai dari importer dan toko daging, logistik, restoran, klinik, rumah sakit, hingga hotel.
Kesuksesan di dunia bisnis membawa Diana ke dunia organisasi. Pada 2008, dia bergabung dengan Kadin Jakarta. Sempat menjadi bagian pengurus, Diana menjadi Ketua Umum periode 2019–2024. Sekaligus perempuan pertama yang menjadi Ketua Kadin Jakarta.
Selama menjadi Ketua Umum, Diana membuat sejumlah perubahan terutama dalam keuangan dan manajemen organisasi. ”Saya harus membuat sistem. Mana program yang memang harus dikerjakan, mana yang menjadi tanggung jawab pengurus,” jelas dia.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
