
Logo Muhammadiyah, salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia.
JawaPos.com–Muhammadiyah salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia yang didirikan Kiai Haji Ahmad Dahlan atau Muhammad Darwis.
KH Ahmad Dahlan (1868-1923) mendirikan Muhammadiyah sejak 18 November 1912 atau 8 Dzulhijjah 1330 Hijriah. Saat ini, Muhammadiyah telah memasuki usia ke-111 tahun.
Meski demikian, organisasi itu baru disahkan pada 20 Desember 1912 dengan dikirimkannya Statuten Muhammadiyah, yaitu Anggaran Dasar Muhammadiyah pertama disahkan pada 22 Agustus 1914 oleh Gubernur Jenderal Belanda.
Dilansir dari Muhammadiyah.or.id, kata Muhammadiyah secara bahasa memiliki arti pengikut Nabi Muhammad. Penggunaan kata Muhammad tersebut untuk menisbahkan atau menghubungkan dengan ajaran Nabi Muhammad.
Ahli sejarah dari Kauman Jogjakarta yang menempuh pendidikan di UGM, dalam catatan Adaby Darban menjelaskan, nama Muhammadiyah awalnya diusulkan oleh kerabat KH Ahmad Dahlan yang bernama Muhammad Sangidu.
Muhammad Sangidu adalah seorang Ketib Anom Kraton Jogjakarta dan seorang tokoh pembaruan yang kemudian menjadi penghulu di Keraton Jogyakarta. Atas usul itu, KH Ahmad Dahlan melakukan istikharah dan memutuskan menggunakan Muhammadiyah sebagai nama organisasi untuk merealisasikan pikiran-pikiran dan gagasannya itu.
Selain untuk mengaktualisasikan pikiran-pikiran pembaruan KH Ahmad Dahlan, Muhammadiyah merupakan wadah untuk menaungi sekolah agama modern bernama Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah (MIDI) yang didirikan pada 1 Desember 1911. Sekolah tersebut adalah rintisan lanjutan dari sekolah atau kegiatan KH Ahmad Dahlan dalam mengajarkan agama Islam dan pengetahuan umum yang dikembangkan secara informal dan dilakukan di rumah.
Sebagai seorang kiai yang cerdas, alim, dan berjiwa pembaru, KH Ahmad Dahlan memiliki langkah atau misi pembaruan yang besar, mulai dari bidang tauhid, ibadah, maupun muamalah di kalangan umat Islam dengan mengembalikan kepada sumber aslinya yakni Alquran dan Sunnah.
Pembaruan yang dilakukan KH Ahmad Dahlan salah satunya adalah dengan merintis gerakan perempuan Aisyiyah pada 1917. Ide gerakan tersebut berlandasan pada pandangan-pandangan para kiai agar perempuan muslim tidak hanya berdiam diri di rumah, tapi ikut serta dalam penyebaran agama Islam dan turut membangun peradaban.
Sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, Muhammadiyah telah memberikan banyak sekali sumbangan dalam bidang pendidikan dan kemasyarakatan, mulai dari ribuan sekolah, panti asuhan, rumah-rumah piatu, hingga klinik-klinik kesehatan.
Sedangkan berdasar Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) PP Muhammadiyah, sejarah Muhammadiyah terbagi menjadi empat periode. Yakni masa perintisan (1900-1923), masa pengembangan (1923-1970), masa pelembagaan (1970-1998), dan masa transformasi (1998-sekarang).
Dari masa ke masa tersebut, tantangan dan pola gerakan yang dilakukan Muhammadiyah mengalami pembaruan yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat di setiap era untuk menciptakan generasi yang unggul.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
