Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 13 September 2017 | 11.48 WIB

Langkah Cepat BNPB Atasi Kekeringan di Jawa, Bali dan Nusa Tenggara

Ilustrasi pemberian pasokan air bersih di wilayah Wonogiri Selatan yang mengalami kekeringan - Image

Ilustrasi pemberian pasokan air bersih di wilayah Wonogiri Selatan yang mengalami kekeringan

JawaPos.com - Belakangan ini, sejumlah wilayah di Pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara tengah mengalami kekeringan yang cukup parah. Dampak badai El Nino telah menyebabkan kekeringan semakin meluas.


Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat data Informasi dan Humas BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) menuturkan, bahwa ada sekitar 3,9 juta jiwa yang bermukim 2.726 desa di 715 kecamatan dan 105 kabupaten kota di Jawa dan Nusa Tenggara mengalami kekeringan. Sebagian besar wilayah merupakan daerah yang selalu mengalami kekeringan setiap tahunnya.


Guna mengatasi ini, perlu upaya terpadu dan berkelanjutan. Kekeringan adalah resultan dari permasalahan lingkungan di bagian hulu dan hilirnya. Perlu solusi jangka pendek, menengah dan panjang.


"Jangka pendek dilakukan dengan memenuhi kebutuhan air saat musim kemarau hingga memasuki musim penghujan nanti. Pemerintah dan pemda melakukan droping air bersih," kata dia kepada JawaPos.com, Selasa (12/9).


Bahkan setiap tahun, BPBD dibantu relawan, SKPD, PMI, NGO memberikan droping air bersih melalui tangki air. Sementara BNPB kata dia memberikan bantuan dana siap pakai bagi BPBD.


"Pembangunan bak penampungan air, embung, peningkatan pipanisasi dan sumur bor. Kementerian PUPR , Pemda dan Kementerian ESDM sudah banyak membangun sumur bor, embung dan bak penampungan air," sambung dia.


Lanjut dia menerangkan bila bantuan BNPB untuk pembangunan sumur bor, embung dan bak penampungan air ternyata telah mampu mengurangi dampak kekeringan di berbagai daerah. Pembangunan konservasi tanah dan air melalui pemanenan hujan dengan sumur resapan, biopori, rorak dan lainnya telah banyak dilakukan.


Lalu untuk upaya jangka panjang kata dia juga dilakukan. "Perlu peningkatan dan perbaikan kualitas lingkungan, reboisasi dan penghijauan, pengelolaan DAS terpadu, pembangunan bendung dan waduk, revitalisasi embung dan saluran irigasi, konservasi tanah dan air. Pemerintah saat ini terus menyelesaikan pembangunan bendungan dengan target pembangunan 65 bendungan selama 2015-2019," tutur dia.


Di antara target sebanyak itu, tujuh bendungan sudah dirampungkan hingga akhir 2016. Ketujuh bendungan itu adalah Bendungan Jatigede, Bendungan Bajulmati, Bendungan Nipah, Bendungan Titab, Bendungan Paya Seunara, dan Bendungan Teritib. Sementara itu, pada 2017 ditargetkan tambahan tiga bendungan selesai yaitu Bendungan Raknamo, Bendungan Tanju, dan Bendungan Marangkayu.


"Hingga akhir 2019, pemerintah menargetkan pembangunan 29 bendungan selesai, sehingga, menambah tampungan air sebanyak 2 miliar meter kubik," sambung Sutopo yang juga merupakan dosen Pascasarjana Prodi Studi Ilmu Lingkungan di Universitas Indonesia itu.


Menurut dia, konsistensi dan keberlanjutan upaya penanganan kekeringan melalui berbagai program dan kegiatan tersebut perlu didukung bersama. "Perlu solusi permanen untuk mengatasi hal ini dengan gerakan bersama. Jika tidak kekeringan akan terus berulang setiap tahun," tukas dia. 

Editor: Administrator
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore