
TUMBUH DI PIPA: Renni Susilawati di Kampung Hidroponik, kawasan Medayu, Surabaya, (1/10). Selada perlup rutin dicek kecocokan dan tingkat keasaman air agar tumbuh subur. (ROBERTUS RIZKY/JAWA POS)
Meningkatnya tren gaya hidup sehat membuka peluang usaha baru. Yakni, sayuran hidroponik. Khususnya di perkotaan. Sayangnya, membuat kebun tanaman hidroponik ternyata tak mudah. Salah perhitungan bisa gagal total. Mimpi untung, justru buntung yang didapat.
---
KEBUTUHAN terhadap sayuran hidroponik terus meningkat. Terlebih pada masa pandemi sekarang. Target pasarnya jelas, yaitu warga perkotaan. Hanya, tak banyak produsen sayuran hidroponik yang tumbuh di kota. Sebagian besar di antara mereka adalah distributor. Sayuran diambil dari beberapa daerah.
Misalnya, di Surabaya, sayuran hidroponik diambil dari Lumajang, Malang, Jember, hingga Banyuwangi. Tentu diperlukan biaya operasional yang cukup besar. Berbeda halnya jika kebun hidroponik berada di wilayah perkotaan. ”Cuma ya begitu, risikonya cukup besar,” kata Ketua Perhimpunan Petani Hidroponik Indonesia (PPHI) Sunandar Triwibowo.
Ada beberapa tantangan jika membuka lahan hidroponik di perkotaan. Bukan hanya masalah lahan, tetapi juga suhu dan kelembapan. Cuaca yang panas berpengaruh pada kelembapan. Di samping itu, kualitas sumber daya manusia (SDM) harus oke. Dibutuhkan ketelatenan dan pengalaman khusus.
Menurut Sunandar, kebun hidroponik skala rumahan harus dibedakan dengan industri. Khusus di Surabaya, saat ini belum banyak hidroponik yang dikelola secara industri. Yang ada hanya di kampung-kampung dan biasanya karena hobi saja. Apalagi, saat pandemi sekarang, banyak orang yang mengalihkan aktivitas untuk berkebun.
Perawatan hidroponik memang susah-susah gampang. Kesalahan sedikit bisa fatal. Misalnya, kebutuhan air. Sayuran hidroponik tak bagus jika menggunakan air PDAM. Nah, itulah kendala di perkotaan. Kualitas air tanahnya juga kurang baik. Salah satu caranya, sumur harus digali lebih dalam.
Karena itu, modal yang dikeluarkan juga cukup besar. Sunandar menyebutkan, untuk skala industri kebun seluas 100 meter, biaya awalnya bisa mencapai Rp 80 juta. Bila ingin berbisnis, sekalian yang besar agar hasil yang diperoleh bisa maksimal.
Menurut dia, pasar sayuran hidroponik akan terus prospektif. Apalagi, banyak penduduk urban yang beralih ke gaya hidup sehat. Karena itu, banyak sekali resto, kafe, dan hotel yang memakai sayuran hidroponik. Belum lagi, banyak permintaan dari pasar modern. ”Memang sangat menjanjikan,” terangnya.
Sunandar mengungkapkan, ada beberapa hal yang membedakan kebun hidroponik skala industri dan rumahan. Selain ukuran kebunnya, penanganannya juga beda. Pada skala industri, hanya orang tertentu yang boleh masuk. Tujuannya, menghindari terpaparnya hama. Sebab, sayuran hidroponik mudah terserang penyakit.
Koordinator Kampung Hidroponik Surabaya Renni Susilawati menjelaskan, dirinya hanya menjalankan bisnis hidroponik skala rumahan. Meski begitu, hasil yang didapat cukup lumayan. Dari 12 media tanam hidroponik, setidaknya dia meraup Rp 3 juta–Rp 4 juta dalam sebulan. Biaya produksinya sekitar Rp 1,2 juta. Nah, sebagian hasilnya dibagi dengan petani dan dimasukkan ke kas RT/RW. Sebab, sebagian biayanya juga berasal dari kas RT/RW. ”Yang paling digemari ya sawi dan selada,” ungkapnya.
Baca juga: “Jinakkan” Tomat Ceri dengan Metode Hidroponik Rakit Apung
Menurut Renni, pihaknya masih kekurangan produksi untuk menyuplai konsumen. Sejauh ini pemasaran banyak dilakukan di lingkungan sekitar. Sisanya baru dijual. Selain peluang pasar yang masih besar, bisnis hidroponik tak perlu lama menunggu masa panen. Sebab, sekitar dua minggu hasilnya sudah bisa terlihat. Bahkan, jika sudah lama, panen dapat dilakukan per hari atau seminggu sekali. ”Yang penting adalah pengelolaannya,” tegasnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Bikin Geger Lagi, 244 Siswa Hingga Guru di Batang Tumbang Usai Santap MBG
Prediksi Skor Andorra vs Malta di Liga Nations UEFA: The Reds Menang Tipis di Encamp
Prediksi Skor Laos vs Brunei di FIFA ASEAN Cup: Thim Xad Menang di Laga Perdana
Prediksi Skor Norwegia vs Denmark di Liga Nations UEFA: The Vikings Menang Tipis di Ullevaal Stadion
Prediksi Skor Austria vs Israel di Liga Nations UEFA: Das Team Menang Telak di Raiffeisen Arena
Prediksi Skor Timnas Jepang U-23 vs Thailand U-23 di Asian Games 2026
Prediksi Skor Liechtenstein vs Lithuania di Liga Nations UEFA: Rinktinė Menang di Kandang Lawan
Prediksi Skor Myanmar vs Timor Leste di FIFA ASEAN Cup: Singa Asia Gasak Lawan di Laga Perdana
Prediksi Skor Jepang vs Uruguay: Ko Itakura Targetkan Kemenangan
Prediksi Skor Kosovo vs Irlandia di Liga Nations UEFA: The Green Army Curi Poin di Fadil Vokrri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022