
Ilustrasi Coto disajikan dengan ketupat atau buras. (GUSLAN GUMILANG/JAWA POS)
Kebun hidroponik di pelataran rumah Ronny Tanumihardja di kawasan Kota Depok, Jawa Barat, terlihat warna-warni. Khususnya setelah dia sukses menanam tomat ceri.
---
SAAT ini ada dua jenis tomat ceri yang dia tanam. Yaitu, tomat ceri fortesa dan pareso. Ronny menceritakan mulai menanam tomat ceri itu sekitar lima bulan lalu. ’’Semangatnya sederhana saja,’’ katanya.
Yaitu, mewujudkan mimpi menanam tomat ceri di dataran rendah. Seperti diketahui, tomat ceri fortesa maupun pareso adalah tanaman daerah subtropis.
Dia membeli benih tomat ceri itu dari Belanda. Maklum, habitat asli tomat ceri berada di Eropa atau daerah subtropis lainnya. Ronny mengaku semula begitu penasaran. Apakah bisa tanaman tomat mungil itu hidup di dataran rendah seperti Depok atau Jakarta. ”Ternyata bisa,’’ katanya.
BERBUAH LEBAT: Bentuk tomat ceri fortesa nyaris bulat sempurna. (Ronny Tanumihardja for Jawa Pos)
BERBUAH LEBAT: Ronny menunjukkan tomat ceri pareso yang bagian bawahnya agak lonjong. (Ronny Tanumihardja for Jawa Pos)
Dia menanam tomat ceri dengan metode hidroponik rakit apung. Dengan metode tersebut, dia bisa mempertahankan air tempat akar tomat itu dalam kondisi dingin. Dengan demikian, akar bisa tumbuh sempurna. Layaknya saat ditanam di daerah subtropis.
Dia menjelaskan, pada umumnya orang menanam tanaman buah secara hidroponik dengan menggunakan sistem tetes atau dutch bucket. Dia sudah mencoba dua cara itu untuk menanam tomat ceri. Ternyata, hasilnya tidak maksimal. Ronny terus bereksperimen. Sampai akhirnya dia menyimpulkan bahwa metode rakit apung adalah cara yang paling tepat.
Dengan sistem rakit apung, akar tanaman bisa tumbuh dengan maksimal. Akarnya lebat dan terurai ke mana-mana. Lalu, serapan nutrisi tanaman ikut banyak.
Photo
BERBUAH LEBAT: Bentuk tomat ceri fortesa nyaris bulat sempurna. (Ronny Tanumihardja for Jawa Pos)
Dia harus menjaga suhu air yang mengalir dalam kondisi dingin. Untuk mendapatkan air yang dingin, dia menggunakan pompa air venturi untuk terus membuat sirkulasi air. Dengan adanya pompa air venturi itu, kadar oksigen dalam air bisa dipertahankan di angka yang tinggi. Alhasil, tanaman tomat cerinya pun tumbuh subur dan berbuah lebat.
Menurut Ronny, secara umum tomat ceri fortesa dan pareso hampir sama. Bentuknya saja yang berbeda sedikit. Tomat ceri fortesa nyaris bulat sempurna. Tomat ceri pareso agak lonjong menyerupai kurma. ”Rasanya cenderung manis,’’ katanya. Meski tidak semanis ketika tomat itu ditanam di habitat aslinya di daerah subtropis.
Ronny mengatakan, dari biji sampai buah siap dipetik, diperlukan waktu sekitar dua bulan. Kemudian, usia produktif tanaman tomat ceri sekitar lima bulan. Dia memiliki 20 pohon tomat ceri dan bisa memanen sampai 20 kilogram.
Photo
BERBUAH LEBAT: Bentuk tomat ceri fortesa nyaris bulat sempurna. (Ronny Tanumihardja for Jawa Pos)
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=IlHRV6mZ-Io

Prediksi Skor Paraguay vs Australia di Piala Dunia 2026: Berebut Tiket 32 Besar Namun Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Turki vs Amerika Serikat di Piala Dunia 2026: The Stars & Stripes Berburu Rekor Sempurna di Fase Grup
Prediksi Skor Mesir vs Iran di Piala Dunia 2026: The Pharaohs Selangkah Lagi ke 32 Besar Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Jepang vs Swedia di Piala Dunia 2026: Samurai Biru Incar Tiket 32 Besar di Laga Penentuan
Prediksi Skor Tanjung Verde vs Arab Saudi di Piala Dunia 2026: Misi Blue Sharks Pulangkan Green Falcons
Prediksi Skor Tunisia vs Belanda di Piala Dunia 2026: Oranje Wajib Menang demi Amankan Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Selandia Baru vs Belgia di Piala Dunia 2026: Pembuktian Romelu Lukaku Belum Habis!
Prediksi Skor Uruguay vs Spanyol di Piala Dunia 2026: La Roja Tak Ingin Tersandung, La Celeste Wajib Menang
Prediksi Skor Curacao vs Pantai di Piala Dunia 2026: Misi Les Éléphants Menang demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Ekuador vs Jerman di Piala Dunia 2026: Der Panzer Kejar Rekor Sempurna di Fase Grup
