
GOWES NGETREN LAGI: Joko Sumalis, mekanik, menyiapkan sepeda lipat yang dipesan pembeli di kawasan HR Muhammad kemarin (2/7). Tren aktivitas bersepeda di masa transisi new normal membuat permintaan sepeda melonjak. (Riana Setiawan/Jawa Pos)
JawaPos.com - Beberapa waktu belakangan, Surabaya kian diramaikan dengan aktivitas bersepeda. Di masa transisi new normal, beberapa kawasan perkotaan jadi lokasi rekreasional bagi penikmat sepeda. Salah satunya, Ivan Prasta Sanjaya. Pria 24 tahun tersebut mulai rutin bersepeda tiga bulan terakhir. ”Awalnya cuma sama adik di sekitar perumahan. Lalu, diajak teman. Akhirnya, malah rutin 3‒4 kali tiap minggu,” katanya.
Ivan sebenarnya sudah lama memiliki sepeda jenis mountain bike atau MTB. Sejak mulai rutin gowes, Ivan meng-upgrade sepedanya agar lebih pas dengan kondisi jalanan saat ini. ”Jadi perbaiki saja bagian roda biar pas sama jalan raya,” ungkapnya.
Fenomena tersebut diakui oleh Arya Padma, head store Sepeda Kita. Berdasar catatannya, fenomena bersepeda di Surabaya berhasil menaikkan penjualan 2‒5 kali lipat. ”Road bike yang biasanya terjual satu per hari, sekarang bisa dua per hari. Sepeda lipat per hari malah bisa laku lima,” jelasnya.
Arya mengatakan, ada beberapa jenis pesepeda pemula saat ini. Kebanyakan anak muda mementingkan performa. Karena itu, mereka lebih sering memilih jenis road bike yang lajunya lebih cepat. Sepeda lipat biasanya lebih diminati mereka yang berumur atau sekeluarga. ”Bapak-bapak dan ibu-ibu. Belanja bareng keluarga, biasanya begitu,” katanya. Sepeda jenis itu dipilih untuk tujuan berolahraga santai sambil jalan-jalan. Penyimpanannya juga cukup mudah sehingga tak perlu membeli aksesori tambahan.
Kenaikan pembelian sepeda baru bukan satu-satunya rezeki lapak sepeda. Arya mengungkapkan, juga banyak pemilik sepeda lawas yang datang untuk servis. ”Yang sudah mempunyai sepeda meng-upgrade yang ada daripada beli baru,” tuturnya. Hal tersebut jadi tantangan tersendiri. Sebab, jika sepeda yang datang bermodel terlalu lawas, pihaknya kesulitan mencari spare parts yang pas dan terpaksa menolak servis.
Hal serupa dirasakan Yustian Nimara, owner Gaya Sepeda Indonesia. Pihaknya bisa dikunjungi 10‒15 orang yang ingin memperbaiki sepeda. ”Karena ingin menjaga kualitas, jadi dibatasi hanya lima sepeda tiap hari. Otomatis nolak juga,” ucapnya.
Servis yang dilakukan bisa berupa perbaikan sederhana. Antara lain, pemberian pelumas pada gir yang kering atau penyetelan gir agar lebih presisi. Kenaikan penjualan juga dirasakan Yustian. Menurut dia, kenaikan sudah mulai terasa pada April, tetapi belum terlalu signifikan. ”Begitu masuk Mei, naik sampai tiga kali lipat. Pada Juni, naik lagi 4‒5 kali lipat,” ungkapnya.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=CHPLRGlVBFc
https://www.youtube.com/watch?v=k9gaKSpl6mw
https://www.youtube.com/watch?v=Dqo7p9H6gIw

5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
Persebaya Surabaya Dilaporkan Capai Kesepakatan dengan Striker Asing, Punya Rekam Jejak di Indonesia!
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
11 Tempat Berburu Sarapan Bubur Ayam Paling Enak di Bandung, Layak Masuk Daftar Wisata Kuliner!
10 Rekomendasi Bubur Ayam Paling Favorit di Surabaya, Terkenal Lezat dan Jadi Langganan Pecinta Kuliner Pagi
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Kuliner Nasi Goreng Paling Enak di Bandung, Tiap Hari Pelanggan Rela Antre Demi Menikmati Kelezatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
