
HASIL KULTUR JARINGAN: Ratusan tunas pisang Cavendish dalam botol kaca di laboratorium milik DKPP Surabaya.
Selain metode konvensional, memperbanyak tanaman dapat menggunakan kultur jaringan. Tak membutuhkan banyak lahan dan prosesnya jauh lebih cepat.
Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Surabaya berhasil mengimplementasikan metode itu sejak 2007.
KULTUR jaringan merupakan salah satu metode memperbanyak tanaman. Metode tersebut memiliki sejumlah kelebihan seperti tingkat steril yang lebih baik. Metode itu pun terbilang sukses diterapkan di Surabaya sejak 2007. Bahkan menghasilkan ribuan bibit tanaman baru.
Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Surabaya memanfaatkan metode itu untuk memperbanyak tanaman pisang. Tepatnya, di Laboratorium Kultur Jaringan, Sememi Jaya 2. Saat Jawa Pos berkunjung Rabu (18/10) lalu, tampak ratusan tunas pisang dalam botol kaca. ’’Fokus lebih ke pisang Cavendish karena pangsa pasarnya luas,’’ kata Anis Satu Risda, staf Laboratorium Kultur Jaringan DKPP Surabaya.
Menurut dia, kultur jaringan dipilih lantaran proses perbanyakan tanaman lebih cepat dan tak membutuhkan area luas. Serta, tak perlu khawatir dengan kondisi cuaca yang berubah-ubah. Pasalnya, suhu ruangan dan pencahayaan telah diatur sedemikian rupa. Ruangan pun harus tetap steril dan rutin disemprot disinfektan. ’’Lampu menyala 24 jam, dibuat secocok mungkin dengan tanaman,’’ papar Anis.
HASIL KULTUR JARINGAN: Ratusan tunas pisang Cavendish dalam botol kaca di laboratorium milik DKPP Surabaya.
DKPP Surabaya bisa menghasilkan 250 bibit tanaman pisang per tahun. Itu dijual secara daring, kunjungan greenhouse, maupun pameran. Juga menjadi bingkisan jika ada tamu dari instansi lain. Harga jualnya pun terbilang murah. Satu botol isi dua tunas hanya sekitar Rp 50 ribu. Jika tunas terbilang banyak, harganya bisa mencapai Rp 250 ribu. ’’Yang pasti di bawah pasaran, target kami per tahun menghasilkan 500 tanaman,’’ ujar Anis.
Alumnus Universitas Kristen Wijaya Kusuma Surabaya itu menjelaskan, tunas tersebut berasal dari bonggol pisang yang dipotong kecil. Sebelumnya, bonggol itu dicuci bersih dan dibakar dengan teknik tertentu. Lalu, diletakkan dalam botol kaca dengan media tanam agar-agar plain. Tentu, dengan tambahan unsur hara makro-mikro seperti gula. Kemudian ditutup rapat hingga kedap udara dengan menggunakan plastik pembungkus. ’’Syarat utama, harus steril dan kedap karena riskan tumbuh jamur atau bakteri,’’ terangnya.
Nantinya, tunas itu tetap tumbuh hingga mulai terlihat akar maupun daun. Jika organ utuh tanaman pisang telah ada atau sekitar sembilan bulan, tanaman dapat dikeluarkan. Lalu, dipindah ke media tanam campuran untuk disungkup di ruang teduh selama 2–3 bulan. Anis mengungkapkan, pada proses sungkup, harus rutin dibuka tiga hari sekali agar tanaman mendapat pasokan udara. ’’Itu merupakan teknik aklimatisasi atau penyesuaian, kalau akar lateral sudah terlihat malah semakin bagus,’’ ucapnya.
HASIL KULTUR JARINGAN: Ratusan tunas pisang Cavendish dalam botol kaca di laboratorium milik DKPP Surabaya.
Bagi Anis, kunci agar kultur jaringan sukses adalah ketelatenan. Sebisanya menghindari human error. Terutama, dalam pemilihan eggplant harus berasal dari tanaman yang sehat karena bakal memengaruhi hasil akhir nantinya. Misal, tanaman bakal rentan terkena penyakit. Anis mengakui, metode itu terkesan mahal dan memiliki tingkat kesulitan cukup tinggi. ’’Tapi, prosesnya bisa lebih cepat dibandingkan metode konvensional,’’ ujar perempuan 33 tahun itu.
Tenang saja, ada juga kultur jaringan skala rumahan. Alatnya pun mudah ditemukan seperti botol kaca, pipet, dan plastik wrap. Namun, yang menjadi kendala adalah biaya yang cukup mahal, terutama untuk bahan kimia seperti hormon. Namun, bahan-bahan itu dapat digunakan bertahun-tahun untuk menghasilkan ribuan tanaman baru. ’’Secara teori memang butuh belajar, tapi bisa coba-coba dulu untuk memperbanyak skill langsung,’’ kata dia.
SIAP DIJUAL: Tanaman pisang Cavendish yang sukses dibudidayakan. Saat ini mereka mengultur jaringan pisang tanuk dan jenis variegata.
Saat ini, pihaknya mencoba untuk mengultur jaringan pisang tanduk serta berencana merambah varietas lain seperti pisang varigata yang memiliki corak indah. Dengan begitu, DKPP dapat memiliki beragam jenis yang bisa dipasarkan atau menjadi bingkisan khas Surabaya. ’’Untuk media tanam, kami punya yang warna-warni supaya semakin indah menjadi cenderamata,’’ ucapnya. (dho/c7/ai)

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
