
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir memberikan pernyataan Hari Pendidikan Nasional, Kamis (2/5).
JawaPos.com – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, meminta masyarakat muslim menyikapi perbedaan penetapan awal Ramadhan 1477 Hijriah/2026 Masehi dengan cerdas dan toleran. Menurutnya, perbedaan waktu awal puasa, baik di Indonesia maupun di berbagai negara muslim, masih mungkin terjadi dan sudah menjadi sesuatu yang lazim.
Ia menegaskan, selama umat Islam belum memiliki satu kalender tunggal, perbedaan dalam penetapan hari-hari besar Islam kemungkinan akan terus berulang. "Di situlah sebagai ruang ijtihad tentu tak perlu saling menyalahkan satu sama lain, dan tidak merasa paling benar sendiri," kata Haedar Nashir dalam keterangan tertulis, Selasa (17/2).
Menurutnya, perbedaan harus disikapi secara arif dan bijaksana. Terlebih, tujuan utama puasa adalah meningkatkan ketakwaan, baik secara pribadi maupun kolektif.
Karena itu, fokus utama hendaknya diarahkan pada substansi puasa, yakni bagaimana setiap Muslim benar-benar menggapai ketakwaan melalui pelaksanaan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, serta menghadirkan kebaikan dalam kehidupan.
Melalui peningkatan takwa kepada Allah SWT, Haedar berharap, relasi sosial kemasyarakatan semakin harmonis dan mampu menebarkan kebaikan bagi sesama serta lingkungan. Berbagai persoalan tidak seharusnya mengganggu tujuan utama meraih ketakwaan. Dengan bekal kecerdasan dan keimanan, umat Islam diyakini dapat meningkatkan derajat kemuliaannya.
Haedar juga berpesan agar puasa Ramadhan 1447 Hijriah dijalankan dengan tenang, damai, penuh kematangan, serta tidak terganggu oleh hiruk-pikuk kehidupan, termasuk perbedaan awal Ramadan.
"Dalam konteks yang lebih luas, Ramadhan diharapkan menjadikan kita umat terbaik. Baik dalam kerohanian yang senantiasa beriman dan bertakwa kepada Allah, maupun dalam hal keilmuan yang semakin tinggi dan menebar kebaikan yang makin luas," ujarnya.
Ia menekankan, puasa Ramadhan diharapkan mampu menjaga dan memperbaiki akhlak, baik dalam kehidupan pribadi maupun ruang publik. Sehingga, puasa menjadi wahana perbaikan karakter dan kemampuan umat Islam untuk menjadi umat terbaik.
Menurut Haedar, jika umat Islam tidak mengalami peningkatan kualitas, maka kejayaan, martabat, dan upaya membangun peradaban maju akan sulit terwujud. Umat Islam juga tidak boleh bersikap fatalistis dan menyerah pada keadaan, terutama dalam bidang ekonomi yang masih memerlukan perjuangan dan kerja keras agar dapat sejajar dengan peradaban lain.
"Meraih kualitas hidup umat Islam, terutama di bidang ekonomi, sungguh memerlukan kesungguhan. Puasa justru melatih kita hidup efisien, prihatin, dan hemat. Itu menjadi pangkal untuk maju di bidang ekonomi," tuturnya.
Dalam konteks sosial yang lebih luas, kata Haedar, umat Islam diharapkan menjadi perekat sosial. Sebab, puasa melatih pengendalian diri, bahkan ketika menghadapi ajakan konflik atau pertengkaran.
Haedar mengingatkan, puasa tidak sebatas menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan nafsu yang dapat merusak kerekatan sosial. Puasa mengajarkan kesabaran, terlebih di era media sosial yang kerap memancing emosi, amarah, dan perselisihan.
"Dengan berbagai macam informasi dan postingan yang memanaskan suasana kehidupan sosial kebangsaan, maka puasa harus menjadi kanopi sosial kita," tegasnya.
Ia mengingatkan, seorang muslim yang berpuasa harus mampu menempatkan diri sebagai agen perdamaian dan kebaikan, sekaligus menjadi teladan dalam kehidupan bermasyarakat.
Karena itu, Haedar menegaskan bahwa puasa Ramadan hendaknya menjadi momentum untuk mencapai kemajuan hidup. Substansi takwa yang ingin diraih setiap muslim harus bermuara pada peningkatan martabat dan kualitas hidup.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
