
Ilustrasi sholat tarawih berjamaah di masjid. (dok. Jawa Pos/Fedrik Tarigan)
JawaPos.com - Orang- orang yang beriman tidak hanya melihat kehidupan yang kita jalani saat ini sebagai kehidupan bendawi yang sifatnya duniawi saja. Orang-orang yang beriman juga memiliki pandangan sekaligus keyakinan akan adanya yang gaib. Dan puncak keimanan kepada yang gaib adalah percaya kepada Allah SWT.
Percaya kepada yang gaib merupakan bagian dari rukun iman di dalam agama Islam. Baik percaya kepada Allah Yang Maha Gaib, percaya kepada hari kiamat, atau percaya akan adanya kehidupan baru setelah kematian.
Namun, adanya kita terlalu fokus pada kehidupan dunia dan cenderung mengesampingkan bekal untuk kehidupan di akhirat. Maka banyak dari kita terkadang lupa mengerjakan sholat 5 waktu karena alasan kesibukan dan lainnya.
Maka dari itu, ibadah puasa seharusnya dapat mendidik diri kita untuk lebih peka dalam merasakan segala sesuatu di kehidupan ini tidak hanya bersifat duniawi, namun juga ukhrawi.
Berikut kultum hari ini, Kamis (6/3), dengan tema Tentang Puasa Mendidik Kita untuk Merasakan yang Sakral dan dibawakan oleh Aa Rukmana, Dosen Falsafah dan Agama Universitas Paramadina.
Berikut isi kultum selengkapnya:
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَا تُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَ اْلـمُرْسَلِينَ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْـمَـعِينَ، أَمَّا بَعْدُ
Alhamdulillah, seluruh pemirsa sekalian pembaca Budiman Jawa Pos dimanapun anda berada.
Alhamdulillah hari ini kita masih Istiqomah menjalankan ibadah puasa dan insya Allah kita bisa menjalaninya sampai nanti 1 Syawal, kita bersama-sama akan merayakan Idul Fitri.
Pemirsa sekalian. Salah satu tujuan dari ibadah puasa sebetulnya untuk melatih diri kita bisa merasakan bahwa dalam hidup ini bukan semata-mata dimensi duniawi.
Di dalam sosiologi agama ada dua istilah yang biasa didiskusikan yaitu sisi profan dalam hidup ini, dan sisi sakral dalam hidup ini.
Sisi profan adalah yang terkait dengan sisi-sisi keduniawian, sedangkan sisi sakral terhubung dengan yang rohani. Sebagai contoh misalnya, kalau kita melihat pegunungan yang ada di hadapan kita, kalau kita melihatnya hanya dari kaca mata sisi profan, maka yang kita lihat adalah bentangan pegunungan yang begitu besar, pohon-pohon yang begitu tinggi, diisi oleh banyak hewan-hewan. Maka itulah pegunungan yang kita lihat dari sisi profan.
Kalau hidup kita semata-mata melihat hidup ini hanya dari sisi profan, maka hidup kita tidak akan bisa menembus langit, kita tidak bisa menghubungkan hidup kita dengan kehadiran Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Maka sisi yang kedua yang pwelu dikembangkan yaitu sisi rohaniah atau dalam bahasa sosiologi agama adalah sisi sakralnya dari hidup ini. Maka bagi orang yang yakin dengan yang sakral, disaat melihat pegunungan, yang dilihat bukan semata-mata pegunungan dalam artian fisik, tetapi pegunungan sebagai ayat-ayat Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
Jadwal PSS vs Garudayaksa FC Final Liga 2, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Siapa Raih Trofi Kasta Kedua?
Hasil Play-off Liga 2: Adhyaksa FC Bungkam Persipura Jayapura 0-1 di Babak Pertama!
Jadwal Veda Ega Pratama di Sesi Q2 Moto3 Le Mans 2026! Rider Indonesia Bidik Start Terdepan
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
