
Ilustrasi keluarga yang akan melakukan perjalanan mudik Lebaran. (Freepik)
JawaPos.com – Mudik Lebaran selalu menjadi momen yang dinanti-nantikan banyak orang, terutama di Indonesia. Namun, ada satu masalah klasik yang kerap muncul, yakni kemacetan panjang di jalan. Karena semua orang juga ingin pulang kampung.
Untuk memastikan perjalanan Anda lebih nyaman dan lancar, penting untuk memilih waktu yang tepat untuk berangkat.
Berikut adalah beberapa tips dan strategi menentukan jadwal mudik terbaik agar terhindar dari kemacetan yang melelahkan.
Puncak arus mudik biasanya terjadi dua hingga tiga hari sebelum Lebaran, saat kebanyakan orang mulai cuti kerja. Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, kemacetan parah pada arus mudik sering terjadi pada:
H-3 dan H-2 Lebaran: Ini adalah waktu favorit banyak orang untuk mudik, sehingga lalu lintas padat di hampir semua jalur utama.
H+1 dan H+2 Lebaran: Setelah Lebaran, arus balik mulai terjadi dan kondisi jalan kembali dipenuhi kendaraan pemudik.
Alternatif terbaik:
Mudik lebih awal (H-7 hingga H-5 Lebaran): Jika memungkinkan, cobalah berangkat lebih awal sebelum puncak arus mudik dimulai.
Mudik setelah puncak (H-1 atau setelah Lebaran): Jika Anda fleksibel, mudik di hari Lebaran atau setelahnya bisa jadi lebih lancar karena sebagian besar orang sudah sampai di kampung halaman.
Selain memilih hari yang tepat, waktu keberangkatan juga berpengaruh terhadap kelancaran perjalanan.
Berangkat dini hari (pukul 02.00–05.00 WIB): Saat ini lalu lintas masih sepi, suhu udara lebih nyaman, dan tubuh masih segar.
Hindari berangkat sore atau malam hari (pukul 16.00–22.00 WIB): Waktu ini sering menjadi pilihan banyak orang sehingga kemacetan bisa terjadi di pintu keluar tol atau jalur utama.
Jika memungkinkan, manfaatkan cuti lebih awal untuk mudik di hari kerja. Biasanya, lalu lintas lebih lengang pada:
Senin–Rabu di minggu sebelum Lebaran: Karena kebanyakan orang masih bekerja, perjalanan akan lebih nyaman.
H+3 hingga H+5 Lebaran: Jika Anda tidak terburu-buru kembali, menunda arus balik hingga seminggu setelah Lebaran bisa menjadi pilihan bijak.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
