
ISTIRAHAT SAMBIL ISI PERUT: Sejumlah pengunjung bersantap di Rumah Makan Rawon Nguling di Tongas, Probolinggo (5/3).
Tempat makan legendaris Rawon Nguling bisa jadi pilihan titik istirahat karena bukan hanya perkara perut yang bisa dituntaskan, tapi juga urusan ibadah dan ”panggilan” alam. Namun, baru buka tiga hari pasca Lebaran setelah tutup sepanjang Ramadan.
AHMAD REZATRIYA BELANI, Kabupaten Probolinggo
---
TIDAK setiap hari, minggu, atau bulan Syaiful Rohman melintasi jalur arteri Pasuruan–Probolinggo, Jawa Timur. Tapi, di setiap kesempatan lewat, dia tidak akan pernah melewatkan untuk mampir ke depot legendaris: Rawon Nguling.
”Karena jarang-jarang, kalau mau nengok Mbah di Situbondo, mesti mampir sini,” kata warga Blitar, Jawa Timur, itu kepada Jawa Pos yang menemuinya di tempat makan tersebut tiga pekan lalu (5/3).
Rawon Nguling sekaligus juga bisa jadi titik perhentian peristirahatan bagi mereka yang mudik dan balik melewati jalur Pasuruan–Probolinggo. Sebab, tak hanya urusan perut yang bisa dituntaskan di situ, tapi juga perkara ibadah dan ’’panggilan” alam.
Saat melintasi jalur pantura Pasuruan–Situbondo, tepat setelah gapura selamat tinggal Kabupaten Pasuruan dan masuk ke Kabupaten Probolinggo, akan tampak restoran besar bernama Rumah Makan Rawon Nguling. Jika melewati tol, pengendara dari arah barat bisa turun dari gerbang tol Grati, lalu melanjutkan perjalanan di jalur arteri selama 13 menit.
Sedangkan jika melaju dari arah timur, bisa turun di gerbang tol Tongas dan melanjutkan perjalanan sembilan menit. Tempat makan tersebut masuk wilayah Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo.
’’Kalau hari biasa ramai, tapi tidak seramai dulu. Sekarang ada tol, jadi ya sedikit berkurang,” ujar pemilik Rawon Nguling Rofiq Ali Pribadi saat ditemui.
Restoran yang awalnya bernama Warung Lumayan dan berdiri sejak 1942 itu memiliki daya tarik tersendiri bagi para pengendara. Lokasi strategis ditambah daya tarik cita rasa makanannya yang khas bahkan bisa membuat mantan Presiden Keenam Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pun terpincut.
Menu yang disediakan beragam meski rawon tetap jadi favorit.
Tapi, saat mudik menjelang Lebaran, Rawon Nguling tidak beroperasi. Menurut Rofiq, selama bulan Ramadan rawon yang dirintis oleh kakek-neneknya itu memang tidak buka. ’’Ini sudah turun-temurun waktu masih dikelola bapak ibu, setiap puasa tutup,” ujarnya.
Meski begitu, saat arus balik, tepatnya pada tiga hari setelah Lebaran, Rawon Nguling kembali buka. ’’Hari ketiga Lebaran buka dan membeludak. Ada yang dari Banyuwangi mau balik ke Jakarta, Lampung, mesti kan lewat sini lagi,” tuturnya.
Saat buka di arus balik Lebaran, Rofiq bisa melayani hampir seribu pelanggan dalam sehari. Bahkan, kursi yang ada ditambah untuk menampung pemudik yang hendak kembali ke tempat tinggalnya. ”Dan antre sampai waiting list karena kami tidak buka sistem reservasi kalau Lebaran,” ungkapnya.
Halaman parkir yang bisa menampung puluhan mobil itu pun bisa penuh. ”Terkadang sampai ada yang parkir di seberang jalan dekat pasar hewan,” imbuhnya.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
