
Masjid Hasyim Asyari Jakarta Barat. (Hanung Hambara/Jawa Pos)
JawaPos.com - Suasana Ramadhan di Masjid Raya KH Hasyim Asy’ari, Cengkareng, Jakarta Barat, selalu memiliki daya tarik tersendiri. Sebagai masjid raya pertama yang dikelola penuh oleh Pemprov DKI Jakarta, bangunan megah berarsitektur khas Betawi ini kembali menjadi pusat ibadah dan berbagi, bagi ribuan warga di bulan suci.
Berdiri di atas lahan luas dengan luas interior mencapai 16.985 meter persegi, Masjid KH Hasyim Asy’ari bukan sekadar tempat ibadah. Masjid yang diresmikan Presiden ke-7 RI Joko Widodo pada 2017 ini, memiliki lima menara yang melambangkan Rukun Islam, serta dihiasi ornamen khas Betawi seperti Gigi Balang dan Pagar Langkan.
Meskipun tahun ini ada sedikit penyesuaian agenda, semangat kekeluargaan di masjid yang mampu menampung 12.500 jemaah ini tetap terasa kental.
Salah satu momen yang paling dinantikan setiap harinya adalah tradisi buka puasa bersama. Ketua DKM Masjid Raya KH Hasyim Asy’ari, KH Abdurrahman Soheh mengungkapkan, ratusan porsi makanan disiapkan setiap hari untuk musafir maupun warga sekitar.
Menjelang adzan magrib, ratusan jemaah sudah mulai memasuki area masjid dan berjejer rapih.
"Ya sekitar itu. Ada 300 atau 500 porsi," ujar KH Abdurrahman kepada JawaPos.com.
Menu yang disajikan pun lengkap, mulai dari takjil hingga makanan berat. Menariknya, menu makanan ini datang dari berbagai kalangan, mulai dari perusahaan hingga pribadi. Semuanya dikoordinasikan agar tidak terjadi penumpukan bantuan di satu waktu.
Gaya arsitektur di setiap ruangan di Masjid Hasyim Asyari Jakarta Barat. (Hanung Hambara/Jawa Pos)
Ritual Ibadah: Kultum Menjelang Tarawih hingga Qiyamul Lail
Bagi pencari ketenangan spiritual, Masjid KH Hasyim Asy’ari menawarkan rangkaian agenda rutin. Mulai dari kajian Aswaja, tadarus, hingga kultum yang diisi oleh penceramah internal maupun eksternal.
"Kultumnya menjelang tarawih. Tiap malam ada," jelas KH Abdurrahman.
Memasuki sepuluh malam terakhir Ramadhan, masjid ini juga menjadi tujuan bagi jemaah yang ingin melaksanakan itikaf dan Qiyamul Lail. Meski banyak yang menghabiskan waktu hingga dini hari, jemaah biasanya memilih untuk kembali ke rumah setelah menunaikan salat Subuh berjemaah.
Sejumlah petugas Lembaga Falakiyah PWNU Jakarta memantau hilal dengan teropong di Masjid Hasyim Asyari, Jakarta, Selasa (17/02/2026). (Hanung Hambara/Jawa Pos)
Dampak Efisiensi Anggaran terhadap Program Masjid
Ada pemandangan yang sedikit berbeda pada Rpadahan tahun ini. Beberapa program besar, seperti pesantren kilat, terpaksa ditiadakan sementara. Hal ini berkaitan dengan adanya efisiensi anggaran dari Pemprov DKI Jakarta yang cukup signifikan.
