Logo JawaPos
Author avatar - Image
04 Maret 2026, 17.23 WIB

Masjid Mantingan Jepara: Monumen Cinta Ratu Kalinyamat dan Akulturasi Cantik Hindu-Tiongkok dalam Arsitektur Islam

Masjid Mantingan, Jepara, Jawa Tengah.(wikipeedia). - Image

Masjid Mantingan, Jepara, Jawa Tengah.(wikipeedia).

JawaPos.com - Jepara bukan sekadar ukiran kayu. Di Desa Mantingan, berdiri tegak sebuah saksi bisu sejarah bernama Masjid Mantingan. Bukan sekadar rumah ibadah, masjid kuno yang dibangun pada 1.559 ini adalah monumen kesetiaan Ratu Kalinyamat untuk mendiang suaminya, Sultan Hadlirin.

Terletak hanya 5 km dari pusat Kota Jepara, kompleks Masjid Mantingan menawarkan harmoni budaya yang langka. Di sini, Anda akan menemukan perpaduan estetis antara nafas Islam, sisa kejayaan Hindu-Buddha, hingga sentuhan halus arsitektur Tiongkok.

Siapa sangka, arsitek di balik kemegahan masjid ini adalah seorang mualaf asal Tiongkok bernama Chi Hui Gwan, atau yang lebih dikenal sebagai Patih Sungging Badarduwung.

Ayah angkat Sultan Hadlirin inilah yang mengomandoi pembangunan masjid dan makam untuk membantu Ratu Kalinyamat bangkit dari kesedihannya. Sang Ratu membangun kompleks ini setelah sang suami gugur di tangan Arya Panangsang dalam perebutan takhta Demak.

Prasasti di mihrab masjid menjadi bukti autentik usianya. Tertulis candrasengkala berbunyi rupa brahmana warna sari, yang jika diterjemahkan merujuk pada tahun 1481 Saka atau 1559 Masehi.

Akulturasi Arsitektur yang Memanjakan Mata

Masjid Mantingan adalah definisi nyata toleransi dalam seni. Tengok saja atap tumpangnya yang bersusun tiga, sebuah gaya tajug yang kental dengan pengaruh masa Majapahit.

Detail unik lainnya meliputi:

- Relief Batu Padas: Dinding masjid dihiasi 51 panel relief dengan motif sulur, bunga, dan binatang yang didistorsi (disamarkan) sesuai kaidah Islam.

- Sentuhan Makau: Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya Arus Balik mencatat bahwa lantai masjid ini ditutup ubin dengan undak-undakan yang didatangkan langsung dari Makau.

- Piring Tembikar: Dinding luar dan dalamnya dihiasi piring-piring porselen bernuansa biru yang memberikan kesan mewah pada masanya.

Makam Keramat dan Mitos Buah Mengkudu

Di halaman belakang, terdapat kompleks pemakaman yang terbagi dalam tiga tingkatan strata sosial. Di sinilah Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadlirin beristirahat dengan tenang.

Setiap tanggal 17 Rabiulawal, suasana berubah riuh. Masyarakat tumpah ruah dalam tradisi Haul, upacara sakral penggantian kelambu penutup makam.

Editor: Kuswandi
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore