Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 7 Maret 2025 | 20.45 WIB

Puasa Dapat Meningkatkan Kesehatan Mental dan Emosional Generasi Muda, Simak 3 Tandanya Menurut Psikologi

Ilustrasi anak muda berbuka puasa. (Freepik) - Image

Ilustrasi anak muda berbuka puasa. (Freepik)

JawaPos.com – Puasa bukan hanya tentang menahan lapar dan haus. Lebih dari itu, puasa memiliki dampak signifikan pada kesehatan mental kita. Bagi generasi muda, memahami manfaat ini sangat penting. 

Selain aspek spiritual, ada banyak keuntungan psikologis yang bisa didapat. Dengan mengetahui hal ini, kita bisa lebih termotivasi dalam menjalankan ibadah puasa. Terutama di era modern yang penuh tantangan, menjaga kesehatan mental adalah kunci.

Puasa bisa menjadi salah satu cara efektif untuk mencapainya. Melansir laman resmi UGM, mari kita eksplorasi lebih lanjut bagaimana puasa mempengaruhi kesejahteraan mental kita.

Puasa berpotensi meningkatkan kesehatan mental dengan memengaruhi kimiawi otak, mengurangi hormon stres seperti kortisol, mendorong pertumbuhan sel-sel otak baru (neurogenesis), dan meningkatkan fungsi kognitif melalui proses seperti autofagi.

Ini pada dasarnya membersihkan puing-puing sel di otak, yang berpotensi meningkatkan suasana hati, fokus yang lebih baik, dan meningkatkan ketahanan terhadap stres. 

  1. Menurunkan Stres

Puasa dapat menurunkan kadar stres. Saat berpuasa, tubuh mengatur ulang pola makan dan minum, yang berdampak pada stabilitas hormon stres, yaitu kortisol. Dengan kadar kortisol yang terjaga, kita menjadi lebih tenang dan mampu mengelola stres dengan baik.

  1. Pengendalian Diri
  • Melatih kontrol diri. Menahan diri dari makan, minum, dan perilaku negatif selama puasa membantu kita meningkatkan kemampuan pengendalian diri. Kemampuan ini sangat berguna dalam menghadapi godaan dan tekanan dalam kehidupan sehari-hari.
  • Meningkatkan rasa empati. Dengan merasakan lapar dan haus, kita menjadi lebih peka berdampak positif pada tingkat neurotransmiter seperti serotonin dan norepinefrin, yang sangat penting untuk pengaturan suasana hati dan perasaan nyaman. Hal ini mendorong kita untuk lebih peduli dan berbagi dengan sesama.
  1. Faktor brain-derived neurotrophic factor (BDNF)

Menariknya, puasa dapat menurunkan risiko depresi. Puasa memicu produksi protein otak bernama brain-derived neurotrophic factor (BDNF), yang berperan dalam kesehatan mental dan mencegah depresi.

Selain itu, puasa mengaktifkan proses autofagi. Proses ini membantu membersihkan sel-sel otak yang rusak, yang berkontribusi pada peningkatan fungsi otak dan kesehatan mental secara keseluruhan.

Dengan memahami manfaat-manfaat tersebut, kita dapat melihat bahwa puasa memiliki peran penting dalam menjaga dan meningkatkan kesehatan mental.

Oleh karena itu, menjalankan puasa dengan niat yang tulus dan pemahaman yang baik tidak hanya mendekatkan diri kepada Tuhan, tetapi juga memberikan dampak positif bagi kesejahteraan psikologis kita.

Editor: Bayu Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore