
dr. Darrell dalam acara "Pekan Imunisasi Dunia 2026: Forum IVAXCON Dorong Perlindungan Kesehatan Lintas Generasi," di Jakarta, Sabtu (25/4)/(Foto: Dimas Choirul/Jawapos.com)
JawaPos.com — Kanker serviks masih menjadi salah satu penyebab kematian utama pada perempuan di Indonesia. Hal ini menjadi perhatian kepada kaum perempuan untuk melakukan upaya pencegahan sedini mungkin.
Dokter kandungan subspesialis fertilitas endokrinologi reproduksi, dr. Darrell Fernando, mengungkapkan bahwa angka kematian akibat penyakit ini masih tinggi dan relatif tidak banyak berubah dari waktu ke waktu.
“Setiap jam, itu ada dua wanita di Indonesia meninggal akibat kanker serviks. Dan data ini dari dulu more or less the same, ya. Jadi artinya PR-nya masih banyak. Dan Indonesia merupakan negara dengan kasus kanker serviks terbanyak di Asia Tenggara,” ujar dr.Darrell dalam acara "Pekan Imunisasi Dunia 2026: Forum IVAXCON Dorong Perlindungan Kesehatan Lintas Generasi," di Jakarta, Sabtu (25/4).
Menurutnya, sejumlah negara di Eropa telah berhasil menekan angka kanker serviks hingga mendekati nol persen melalui program pencegahan yang ketat.
“Kalau teman-teman pernah lihat di berita, kayaknya sekitar tahun lalu ya, ada negara di daerah Eropa yang sudah berhasil hampir 0% kanker serviks, yaitu di daerah UK atau Skotlandia. Kenapa? Karena mereka berhasil mengimplementasikan program pencegahan yang strict,” jelasnya.
dr. Darrell menambahkan, salah satu tantangan di Indonesia adalah pola pikir masyarakat yang cenderung baru memeriksakan diri ketika gejala sudah muncul.
“Dan salah satu mindset yang sering ada adalah: baru berobat kalau sudah ada gejala. Nah, itu dia,” katanya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kanker serviks umumnya disebabkan oleh infeksi virus Human Papillomavirus (HPV).
“Jadi kalau ini rahim atau kandungan, ini lubang vagina, dia ada kayak pintunya. Pintunya ini yang menjadi tempat untuk menjadi cancer. Dan almost 95% disebabkan oleh virus HPV tadi. Paling jahat tipe 16 dan 18, tapi tipe lain bisa juga,” paparnya.
Perjalanan penyakit ini pun berlangsung lama, bahkan bisa 10 hingga 20 tahun. Sehingga sangat memungkinkan untuk dicegah. Salah satunya dengan deteksi dini melalui skrining, seperti Pap Smear, untuk menemukan kondisi pra-kanker.

Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Donald Trump Terjebak! Perang Iran Seret Presiden AS ke Krisis Politik dan Militer
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Profil Santyka Fauziah, Kekasih Sule yang Didoakan Nathalie Holscher Segera Menikah
Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
