
Ilustrasi orang yang mengalami hoarding disorder.
JawaPos.com— Masalah sampah di Indonesia bukan hanya soal sampah plastik, salah satu jenis sampah yang banyak diproduksi adalah sampah rumah tangga.
Baik itu sampah basah yang berkaitan dengan bahan organik seperti sisa makanan, buah dan sayur, hingga sampah barang-barang yang berkaitan dengan barang pribadi seperti tas, kasur, dan lainnya.
Berdasar artikel penelitian M. Sutalhis, dkk, peningkatan jumlah penduduk telah meningkatkan jumlah timbulan sampah rumah tangga secara signifikan.
Menurut data KLHK, dalam setahun timbulan sampah nasional mencapai 70 juta ton. Dengan 40% di antaranya berasal dari sampah rumah tangga.
Timbulan sampah yang berkaitan dengan barang pribadi semakin meningkat. Salah satu penyebab timbulan sampah yang berkaitan dengan barang pribadi adalah perilaku individu yang sulit melepas barang sehingga berakhir menimbun barang atau kini dikenal dengan istilah Hoarding Disorder.
Apa Itu Hoarding Disorder? Apakah Berbahaya?
Kesulitan melepas barang entah itu akan dibuang ke tempat sampah atau didonasikan, dan lebih memilih untuk disimpan dan berakhir menumpuk hingga menyebabkan kekurangan ruang merupakan pengertian dari gangguan kesehatan mental yang disebut dengan Hoarding Disorder.
Menurut laman Psychiatrist, berbeda dengan koleksi, hoarding disorder lebih tidak teratur dan tidak bisa melihat tujuan yang jelas perihal mengapa barang yang bersangkutan masih disimpan.
Ada berbagai dampak yang ditimbulkan dari menimbun barang dan tidak adanya keinginan untuk melepas barang. Dampak pertama adalah dampak psikologis di mana menurut American Psychiatric Association, dapat mempengaruhi aktivitas sehari-hari.
Barang-barang yang menumpuk dan tidak terorganisir dengan baik akan memenuhi ruangan dan mengganggu kegiatan belajar, bekerja, kehidupan sosial dan kehidupan keluarga.
Selain itu, juga berdampak buruk pada kondisi lingkungan. Barang yang menumpuk, apalagi yang tidka terawat dengan baik karena tidak terorganisasi dengan baik pula akan menimbulkan penambahan jumlah sampah daerah.
Barang yang telah menumpuk lama ini tentu akan mengalami penurunan kualitas, seperti debu, mengelupas, lembap hingga dimakan rayap. Jika kondisi demikian, maka barang-barang tersebut hanya akan berakhir di tempat sampah.
Bagaimana Menangani Hoarding Disorder?
Hoarding disorder mengindikasikan bahwa diri kesulitan untuk melepas barang dengan perasaan khawatir yang berlebihan. Oleh sebab itu menurut laman Integrative Psych, karena hoarding disorder merupakan masalah yang kompleks. Disarankan untuk melakukan perawatan profesional seperti CBT (Cognitive-Behavioral Therapy), meditasi hingga bekerja sama dengan jasa pembersih rumah.
Namun kamu juga bisa mengawali dengan melakukan perawatan mandiri dengan cara belajar decluttering. Decluttering merupakan kegiatan untuk menata, membersihkan dan menyingkirkan barang-barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan lagi.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
