Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 26 Mei 2025 | 22.47 WIB

Kenali Penyebab Child Abuse: Ini Akar Masalah dan Faktor Pemicu yang Perlu Diwaspadai Orang Tua

Orang tua yang sedang memarahi anaknya. (Pexels/Photo by RDNE Stock project) - Image

Orang tua yang sedang memarahi anaknya. (Pexels/Photo by RDNE Stock project)

JawaPos.com - Kekerasan terhadap anak, atau yang dikenal dengan istilah child abuse, bukan hanya tindakan fisik yang meninggalkan luka. Dalam banyak kasus, penyiksaan terjadi secara emosional, verbal, bahkan dalam bentuk pengabaian yang tidak kasat mata.

Fenomena child abuse sering kali bermula dari dinamika keluarga, tekanan psikologis, hingga kurangnya pengetahuan orang tua tentang pola asuh yang sehat.

Dilansir dari Healthline pada Senin (26/05), berikut adalah penjelasan mendalam mengenai akar terjadinya child abuse serta berbagai penyebab yang menjadi faktor pemicu kekerasan pada anak. Dengan memahami hal ini, setiap orang tua atau pengasuh bisa lebih siap dalam mencegah terjadinya tindakan yang merugikan perkembangan anak secara fisik maupun mental.

Akar Terjadinya Child Abuse: Memahami Faktor Risiko dan Penyebabnya

1. Pengalaman Masa Kecil yang Kelam

Seseorang yang pernah mengalami kekerasan atau pengabaian saat kecil cenderung memiliki risiko lebih tinggi melakukan hal serupa saat dewasa. Luka masa lalu yang tidak sembuh bisa berubah menjadi pola pengasuhan yang menyakitkan, terutama jika tidak dibarengi dengan dukungan emosional atau bantuan profesional.

2. Gangguan Mental dan Ketergantungan Zat

Masalah kesehatan mental seperti depresi, gangguan cemas, atau PTSD, serta kecanduan alkohol atau obat-obatan, dapat memicu perilaku kekerasan. Kondisi ini membuat seseorang lebih mudah kehilangan kendali saat menghadapi tekanan dalam mengasuh anak.

3. Hubungan yang Tidak Harmonis dengan Anak

Minimnya kedekatan emosional antara orang tua dan anak bisa jadi titik awal munculnya penyiksaan. Saat hubungan ini dipenuhi konflik, orang tua lebih mudah terpancing emosi dan menggunakan kekerasan sebagai bentuk “disiplin.”

4. Tekanan Ekonomi dan Sosial

Masalah finansial, kehilangan pekerjaan, atau penyakit serius dalam keluarga menciptakan stres luar biasa. Dalam kondisi seperti ini, anak sering kali jadi pelampiasan kemarahan atau frustasi orang tua.

5. Minimnya Pengetahuan tentang Perkembangan Anak

Sebagian orang tua memiliki ekspektasi tidak realistis terhadap anak, seperti menuntut anak usia balita untuk bersikap seperti orang dewasa. Ketidaktahuan ini bisa memicu rasa kecewa dan perlakuan kasar, padahal anak tersebut belum siap secara usia dan kemampuan.

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore