
Ilustrasi. pola asuh anak menjadi salah satu ujian rumah tangga.
JawaPos.com - Sebagai orang tua tentu ingin yang terbaik bagi pertumbuhan dan masa depan sang buah hatinya. Namun masih banyak orang tua yang kurang memahami pola asuh anak yang benar. Alih-alih ingin sang buah hati menjadi sosok anak yang penurut, justru kebanyakan orang tua akan bersikap otoriter.
Pola asuh otoriter sendiri ialah saat dimana orang tua menerapkan aturan yang ketat serta orang tua juga memiliki kontrol sangat tinggi terhadap anak, sedangkan tingkat responsifnya cukup rendah. Pola asuh ini hanya melakukan komunikasi satu arah melalui berbagai larangan dan perintah secara ketat.
Banyak orang tua yang menerapkan pola asuh otoriter akan memberi hukuman secara keras untuk mengendalikan perilaku anak, bahkan tak jarang memberikan hukuman fisik. Hal tersebut tentu akan memiliki dampak bagi kesehatan mental anak.
Orang tua dengan pola asuh ini memiliki banyak aturan yang harus ditaati anak. Aturan yang diberikan ada di setiap aspek kehidupan dan perilaku anak. Bahkan, anak tidak mendapat penjelasan mengapa aturan-aturan tersebut perlu ditaati.
Pola asuh otoriter tidak melibatkan anak dalam mengambil keputusan. Orang tua cenderung enggan menjelaskan mengenai alasan keputusan tersebut diambil. Mereka hanya ingin anak menaati aturan yang sudah ditentukan. Orang tua juga sangat jarang berbicara dari hati ke hati dengan anak, karena akan berujung pada pertengkaran.
Orang tua dengan pola asuh ini umumnya bersikap dingin dan kasar. Alih-alih memuji dan memberikan dukungan, mereka cenderung lebih banyak mengomel dan meneriaki anak. Mereka juga cenderung tidak ingin mendengarkan keluh kesah anak dan hanya mengedepankan kedisiplinan.
Orang tua dengan pola asuh otoriter percaya bahwa mempermalukan anak akan memotivasinya untuk berbuat lebih baik. Mereka akan menggunakan rasa malu sebagai senjata untuk memaksa anak mengikuti aturannya. Orang tua bahkan tidak segan untuk meneriaki anak dan mempermalukannya di depan umum jika aturannya tidak dipatuhi.
Orang tua tidak membiarkan anak membuat pilihannya sendiri. Mereka akan bersikap dominan, sehingga anak tidak memiliki kesempatan untuk mengutarakan pendapatnya dengan dalih bahwa orang tua tahu apa yang terbaik untuk anak.
Orang tua yang otoriter memiliki banyak aturan (micro management), tetapi tidak mau menjelaskan secara jelas pada anak mengapa aturan tersebut harus ada.
Orang tua yang menerapkan pola asuh ini umumnya bersifat dingin, senang mengomel, dan lebih menghargai disiplin dan kepatuhan ketimbang bertindak sebagai pengayom.
Orang tua yang juga akan menggunakan rasa takut anak sebagai sumber kontrol utama. Saat anak melanggar aturan yang telah dibuat, orang tua akan bereaksi dengan amarah dan kasar. Orang tua akan memberi hukuman agar anak selalu patuh, bahkan hukuman fisik dengan pukulan.
Bagi kebanyakan orang tua, mungkin tidak akan menyadari memiliki ciri-ciri pola asuh otoriter. Sebaiknya hindari pola pengasuhan seperti ini agar buah hati bisa tumbuh kembang dengan baik tanpa adanya tekanan. Anak yang tumbuh kembangnya dalam tekanan psikologis, bisa berdampak pada emosionalnya. Hal ini tentu bisa memicu anak tersebut memiliki sifat membangkang kepada orang tuanya saat sudah dewasa.
Melansir dari holodoc, Selain dapat mempengaruhi emosional, terdapat juga beberapa dampak pola asuh otoriter bagi anak:
Sebagai orang tua harus menyadari bahwa ketidak patuhan anak tidak selalu menjadi hal negatif, tetapi justru itu merupakan perilaku alaminya. Perilaku tersebut antara lain, mengeksplorasi, berpikir, bertanya, belajar, atau bernalar. Keingin tahuan mereka adalah cara bereaksi terhadap situasi yang tidak dapat mereka kendalikan. Dalam proses ini, mereka menjadi lebih cerdas dan mampu berdiri sendiri.

11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
