
Ilustrasi partikel-partikel (freepik)
JawaPos.com - Zat besi adalah mineral krusial yang berperan penting dalam kesehatan kita. Ia merupakan komponen utama hemoglobin, protein dalam sel darah merah yang bertugas membawa oksigen ke seluruh tubuh.
Zat besi dalam makanan hadir dalam dua bentuk: zat besi heme dan non-heme. Zat besi heme, yang ditemukan terutama dalam daging merah, terikat dalam molekul berbentuk cincin bernama porfirin. Sedangkan zat besi non-heme, yang ada dalam tumbuhan dan beberapa sumber hewani.
Hormon hepcidin memainkan peran utama dalam mengatur keseimbangan zat besi dalam tubuh. Hormon ini bekerja dengan cara menekan penyerapan zat besi.
Ketika simpanan zat besi dalam tubuh tinggi, kadar hepcidin akan meningkat, yang pada gilirannya mengurangi penyerapan zat besi.
Sebaliknya, saat simpanan zat besi rendah, kadar hepcidin menurun, sehingga penyerapan zat besi meningkat. Mekanisme ini membantu menjaga kadar zat besi yang seimbang dalam tubuh.
Walaupun kekurangan zat besi dalam makanan jarang terjadi berkat sistem pengaturan ini, ada situasi tertentu di mana masalah bisa muncul.
Kelebihan zat besi, atau toksisitas zat besi, dapat terjadi jika simpanan zat besi dalam tubuh terlalu tinggi. Kondisi ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk gangguan genetik atau konsumsi suplemen zat besi yang berlebihan.
Untuk mencegah masalah ini, penting untuk memantau asupan zat besi dan memperhatikan tanda-tanda kekurangan atau kelebihan zat besi.
Memahami cara tubuh mengelola zat besi dapat membantu kita menjaga kesehatan dan mencegah gangguan yang mungkin timbul akibat ketidakseimbangan zat besi.
Dilansir dari news-medical.net, Minggu (15/9), berikut beberapa akibat dari kelebihan zat besi.
1. Keracunan Zat Besi
Keracunan zat besi bisa terjadi akibat konsumsi suplemen zat besi yang berlebihan, baik secara berulang dalam dosis tinggi atau dalam satu kali dosis yang sangat besar. Bahkan dosis tunggal yang rendah, antara 10 hingga 20 mg/kg, sudah bisa menimbulkan gejala keracunan. Jika dosis yang dikonsumsi melebihi 40 mg/kg, perhatian medis segera diperlukan, dan dosis lebih dari 60 mg/kg bisa berakibat fatal.
Gejala awal keracunan zat besi meliputi mual, muntah, diare, dan sakit perut. Dalam jangka panjang, zat besi yang berlebihan dapat menumpuk di organ-organ vital seperti hati dan otak, menyebabkan kerusakan serius yang dapat berakibat fatal.
Selain itu, keracunan zat besi juga mempengaruhi proses seluler, seperti fosforilasi oksidatif dan fungsi mitokondria, yang dapat mengakibatkan kematian sel. Asidosis metabolik juga dapat terjadi sebagai akibat dari kehilangan cairan, pelebaran pembuluh darah, dan metabolisme anaerobik yang disebabkan oleh gangguan pada proses energi sel.
2. Kelebihan Zat Besi

11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
