
Kasus Kusta di Kota Delta
JawaPos.com – Hari Kusta Nasional yang jatuh pada 25 Januari harus menjadi peringatan bagi masyarakat Kota Delta. Ternyata, penyakit yang dipicu bakteri Mycobacterium leprae itu masih kerap muncul. Dalam setahun terakhir, Dinas Kesehatan (Dinkes) Sidoarjo mencatat 56 kasus baru.
Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes Sidoarjo dr Edi Susanto menyatakan, angka kasus baru yang terjadi pada anak-anak cukup memprihatinkan. Yakni, mencapai 10,71 persen dari total kasus baru. Padahal, target nasional hanya 5 persen. ’’Enam di antara 56 kasus itu adalah anak-anak,’’ katanya Sabtu (21/1).
Kusta pada anak dapat dideteksi melalui screening. Biasanya, anak menderita kusta karena ditulari keluarga. ’’Untuk setiap anak yang terkena kusta, kami lakukan PE (penyelidikan epidemiologi, Red). Sangat mungkin salah satu anggota keluarganya juga terkena kusta,’’ ujarnya.
Edi menjelaskan, 12 di antara 56 anak sudah mengalami kecacatan tingkat II pada tubuh. Kondisi tersebut dipicu pengobatan kusta yang terlambat. ’’Petugas terlambat mendeteksi karena pasien terlalu menutup diri,’’ jelasnya.
Dia melanjutkan, banyak penderita kusta yang sudah berobat. Berdasar data di dinkes, 53 penderita kusta basah pada 2014 telah menjalani pengobatan. Sebanyak 31 di antaranya selesai berobat. Sisanya, ada yang meninggal, drop out, dan pindah dari Sidoarjo. Sementara itu, 12 penderita kusta kering sudah diobati. Bahkan, sebelas di antaranya sembuh. ’’Tetapi, yang cacat biasanya tetap tidak bisa disembuhkan atau cacat seumur hidup,’’ tuturnya.
Edi menyebutkan, anggapan kusta sebagai penyakit kutukan belum sepenuhnya hilang. Jadi, banyak penderita yang memilih mengurung diri. Padahal, penyakit itu memang sangat menular. Kusta dapat ditularkan melalui droplet atau cipratan air liur. ’’Masih ada stigma. Ini membuat kami sulit mendeteksi sejak dini,’’ katanya.
Dia menyatakan, kusta memiliki masa inkubasi dua hingga lima tahun. Jika kondisi kesehatan baik, kuman akan tidur. Namun, saat kondisi tubuh sedang buruk, kuman bisa kembali hidup. ’’Penularannya harus kontak (terjadi, Red) minimal 20 jam per minggu,’’ ujarnya.
Edi menuturkan, salah satu gejala kusta adalah munculnya bercak putih atau merah pada kulit. Selain itu, terjadi gangguan fungsi saraf. ’’Agar lebih jelas, harus ada pemeriksaan BTA positif (pengambilan jaringan kulit pasien, Red),’’ terangnya.
Kusta sejatinya bisa diobati dengan multidrug theraphy. Untuk kusta kering, dibutuhkan pengobatan enam hingga sembilan bulan. Sementara itu, penderita kusta basah perlu berobat sembilan hingga 18 bulan. ’’Pengobatan kusta harus rutin. Gratis di puskesmas,’’ ucapnya. (ayu/c18/pri/sep/JPG)

Prediksi Skor Paraguay vs Australia di Piala Dunia 2026: Berebut Tiket 32 Besar Namun Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Turki vs Amerika Serikat di Piala Dunia 2026: The Stars & Stripes Berburu Rekor Sempurna di Fase Grup
Prediksi Skor Mesir vs Iran di Piala Dunia 2026: The Pharaohs Selangkah Lagi ke 32 Besar Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Jepang vs Swedia di Piala Dunia 2026: Samurai Biru Incar Tiket 32 Besar di Laga Penentuan
Prediksi Skor Tanjung Verde vs Arab Saudi di Piala Dunia 2026: Misi Blue Sharks Pulangkan Green Falcons
Prediksi Skor Tunisia vs Belanda di Piala Dunia 2026: Oranje Wajib Menang demi Amankan Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Selandia Baru vs Belgia di Piala Dunia 2026: Pembuktian Romelu Lukaku Belum Habis!
Prediksi Skor Uruguay vs Spanyol di Piala Dunia 2026: La Roja Tak Ingin Tersandung, La Celeste Wajib Menang
Prediksi Skor Curacao vs Pantai di Piala Dunia 2026: Misi Les Éléphants Menang demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Ekuador vs Jerman di Piala Dunia 2026: Der Panzer Kejar Rekor Sempurna di Fase Grup
