Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 2 Juni 2025 | 18.02 WIB

Media Sosial dan Bahaya bagi Remaja: Pemicu Gangguan Makan yang Kian Mengkhawatirkan

Seorang remaja perempuan menatap layar ponsel sambil rebahan di kamar, mencerminkan tekanan media sosial terhadap citra tubuh. (Dok. Canva) - Image

Seorang remaja perempuan menatap layar ponsel sambil rebahan di kamar, mencerminkan tekanan media sosial terhadap citra tubuh. (Dok. Canva)

JawaPos.com - Media sosial yang semula menjadi ruang ekspresi diri dan kreativitas, justru berbalik menjadi ruang yang membahayakan kesehatan mental banyak remaja.

Dikutip dari laporan AFP yang dimuat oleh Geo News, fenomena media sosial seperti TikTok dan Instagram kini dianggap sebagai pemicu sekaligus penghambat pemulihan gangguan makan di kalangan remaja.

Para ahli mengingatkan bahwa glorifikasi tubuh kurus dan penyebaran informasi gizi yang salah di platform digital semakin memperparah kondisi para penyintas gangguan makan, khususnya perempuan muda dan remaja putri.

Menurut data riset global, jumlah individu yang mengalami gangguan makan meningkat dari 3,5 persen pada tahun 2000 menjadi 7,8 persen pada 2018, periode yang juga mencerminkan maraknya penggunaan media sosial secara global.

Gangguan makan seperti anoreksia, bulimia, dan binge eating disorder bukan hanya semakin umum, tetapi juga makin kompleks dalam penanganannya karena adanya pengaruh digital yang kuat.

Carole Copti, seorang ahli gizi asal Prancis, menyatakan bahwa kini tak ada lagi kasus gangguan makan yang bisa ditangani tanpa mempertimbangkan peran media sosial.

"Media sosial telah menjadi pemicu, bahkan akselerator sekaligus hambatan dalam proses pemulihan," ujarnya.

Fenomena seperti tagar #skinnytok di TikTok menjadi sorotan karena dipenuhi saran ekstrem untuk mengurangi asupan makanan secara drastis, bahkan mendorong praktik berbahaya seperti penggunaan obat pencahar dan memuntahkan makanan.

Charlyne Buigues, perawat spesialis gangguan makan di Prancis, menyebut tren tersebut sebagai bentuk "normalisasi" gangguan makan yang sangat mengkhawatirkan.

"Perilaku seperti muntah atau minum obat pencahar dipertontonkan seolah-olah itu metode sah untuk menurunkan berat badan, padahal justru meningkatkan risiko gagal jantung," katanya.

Lebih parah lagi, konten-konten ini kerap mendapatkan perhatian besar, seperti likes, views, hingga pendapatan uang. Buigues mengungkapkan adanya seorang remaja yang secara rutin menyiarkan aksinya muntah secara langsung dan mendapatkan bayaran dari platform tersebut untuk membeli makanan. Siklus ini memperkuat keterikatan mereka dengan perilaku yang merusak.

Anoreksia diketahui sebagai penyakit kejiwaan dengan tingkat kematian tertinggi, dan gangguan makan secara umum menjadi penyebab kematian prematur tertinggi kedua pada usia 15–24 tahun di Prancis, menurut lembaga asuransi kesehatan negara itu.

Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa media sosial bukan satu-satunya penyebab.

"Media sosial mungkin bukan akar permasalahan, tetapi sering menjadi pemicu terakhir yang menjatuhkan mental seseorang," ujar psikiater Nathalie Godart dari Student Health Foundation di Prancis.

Ia menambahkan bahwa promosi tubuh kurus dan diet ekstrem di media sosial memperlemah ketahanan mental remaja dan memperbesar ancaman terhadap kesehatan mereka.

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore